Sudah Siapkah Kita Menghadapi Bencana? (Refleksi Sewindu Bencana Gempa & Tsunami Aceh)


 

Kesiapsiagaan menghadapi bencana adalah kalimat kunci yang harus dipahami oleh semua orang di Negara kita. Memahami sepenuhnya bahwa letak geografis wilayah kita berada pada jalur yang rawan terjadinya bencana. Sehingga, Pemerintah kita perlu menyusus sebuah strategi menghadapi bencana. Mempersiapkan masyarakat Indonesia mampu hidup berdampingan dengan bencana. Hal ini memang tidak semuadah membalikkan telapak tangan dan butuh waktu yang lama.

Tulisan ini lahir dari pemikiran penulis tentang bencana yang sering melanda sebagian besar wilayah Indonesia. Juga, penulis ingin merefleksi sejenak akan bencana besar yang pernah terjadi di wilayah Aceh khususnya; 8 (delapan) tahun silam!

Sebenarnya, musibah gempa bumi yang kuat sebesar 8,9 Skala Richter  yang disusul naiknya gelombang tinggi (baca;tsunami) memang tak dapat dicegah. Ini sama halnya dengan letusan gunung berapi, dan tentu saja berbeda dengan musibah banjir dan tanah longsor. Dari penyebab dab proses terjadinya saja sudah berbeda. Banjir terjadi karena pepohonan di tebang sesuka hati mafia kayu. Dan tanah longsor pun demikian. Ia melanda wilayah kita disebabkan oleh hal yang serupa; penebangan pohon-pohon di hutan tanpa memikirkan akibatnya adalah penyebab utamanya. Dua jenis bencana terakhir yang penulis sebutkan bisa dicegah terjadinya. Tentu saja, oknum masyarakat dan pemerintah perlu didewasakan akan akibat yang ditimbulkan oleh ulah mereka tersebut.

Lain halnya dengan bencana gempa bumi dan tsunami. Siapa yang mampu mencegah terjadinya? Adakah kekuatan yang bisa menghentikan pergerakan lempeng kerak bumi? Dan bila tsunami terjadi akibat gempa yang sangat kuat pastilah tak ada penahan ombak yang sanggup menahan ganas air laut. Disini peran kesiapsiagaan menghadapi gempa bumi yang berpotensi tsunami harus digalakkan.

Pemerintah Indonesia perlu meningkatkan lagi program Pengurangan Risiko Bencana (PRB) yang telah digalakkan selama ini. Keseriusan para pengambil kebijakan adalah hal yang mutlak dalam mempersiapkan masyarakat Indonesia yang siap hadapi bencana apapun yang datang tiba-tiba. Para pelajar harus diberi porsi mempelajari program tersebut. Pelajar yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) sekalipun harus diajarkan dasar-dasar menghadapi bencana yang akan bakal terjadi. Disini, semua Sekolah Dasar yang ada di Indonesia harus dijadikan Sekola  Siaga Bencana (SSB). Setidaknya bagi wilayah yang termasuk rawan bencana seperti Aceh, Yogyakarta, Jakarta, Bengkulu, dan beberapa wilayah lainnya di negera kita lebih diprioritaskan untuk dijalankan Program Pengurangan Risiko Bencana (PRB) tersebut.

Kesadaran masyarakat akan resiko bencana akan meningkat dengan sendirinya bila Pemerintah sendir terlebih dahulu sadar akan bahaya tersebut. Pemerintah harus punya kemauan politik yang kuat, tepat, dan tulus dalam mempersiapkan masyarakat Indonesia akrab dengan bencana. Kucuran dana yang memadai saja tidak akan cukup bagi program ini. Bahkan, Pemerintah kita masih menganggap masalah persiapan menghadapi bencana adalah bagian terkecil dari program membangun negara itu sendiri. Pemerintah harus serius akan masalah ini. Pembangunan apapun yang akan dijalankan harus mengikutkan program PRB.

Disinilah peran Badan Nasional Penanggulangan Bencana  (BNPB) Pusat meningkatkan koordinasinya dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Pemerintah yang baik pasti berkeinginan kuat mendidik rakyatnya mengerti akan resiko besar bila bencana datang tiba-tiba.

Musibah gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Aceh adalah pelajaran berharga bagi kita semua. Banyak hal yang telah dan masih dapat dipelajari sebagai hikmah dari bencana besar tersebut. Meskipun, kita tak pernah ingin bencana kolosal yang merenggut hampir setengah juta penduduk Aceh itu kembali terulang. Cukup masyarakat Aceh saja yang telah rasakan ganasnya musibah tersebut. Semoga Pemerintah kita paham benar akan ancaman bencana yang terus melanda bangsa kita tercinta ini. Demi masa depan generasi kita yang sehat, bermartabat, dan hidup layak rasanya Pemerintah kita tak akan keberatan, bukan?

Akhirnya kita semua mengharapkan demikian. Kita berharap pada Pemerintah kita lewat para pemimpin yang telah kita percaya menjadi imam bagi bangsa kita tercinta. Semoga kita siap, ya?

Kenangan Memikat


KALA itu langit berwarna merah tembaga. Sungguh, sebuah senja yang begitu hitam menyelimuti kau dan aku. Ketika mata sedihmu menatap keperdianku untuk terakhir kalinya. Kau kutinggalkan begitu saja. Aku begitu kejam!

HARI itu langit berwarna merah padam. Matamu yg dipenuhi butiran air mata menatapku penuh harap. “Jangan pergi..kita tak akan pernah bisa bertemu lagi setelah kau kembali”. Kalimat terakhirmu yg masih kuingat. Kamu benar. Perpisahan 12 tahun yg lalu menjadi hari terakhir kita bertemu. Itulah perpisahan yg kita harapkan bersifat sementara, namun menjadi pertemuan terakhir kita.

Apakah aku menyesal melakukannya? Tidak! Untuk apa harus menyesal jika itu kulakukan sendiri? Aku sedih tak sempat penuhi inginmu utk tinggal bersamamu mewudkan rumah tangga bahagia. Kini, setelah aku kembali ke temoat dimana kita berpisah terakhir kalinya.Kuhanya temukan pesan dari byk teman bhw kau telah pergi tinggalkan semua org. Ombak besar itu membawamu bersama gulungan ganasnya. Aku tak bisa selamatkan dirimu. Seandainya,aku hanya bisa berandai2…

jika aku ada bersamamu kala gelombang tak diundang itu murka.Tentu,kita berdua akan lari jauh sebagai upaya menyelamatkan diri.Meskipun kita terjebak di tengah2 segitiga lautan kota kita,arwahku takkan pernah penasaran.Karena,aku ikut mati bersamamu!

Kini kusadari bhw perpisahan kita adalah Tsunami bagi hubungan kita. ya, tsunami tlah lbh dulu menyapa kita berdua.Tsunami cinta!

Oh ya,meski kau tak lagi disini.Dan tak mungkin kupaksa dirimu kembali,krn aku tak punya kekuatan hidupkan dirimu seperti dulu.Aku ingin ada di salah satu kuburan massal itu sampaikan padamu bhw kesedihanku pd byk air mata yg kau keluarkan di mlam2 terakhir kita bertemu.Sebelum kita berpisah! Aku ingin katakan pdmu,diatas pusara kuburan yg byk dikunjungi org lain itu.Aku bangga pernah menatap wajah cantikmu dgn 2mata terindah yg pernah kulihat.Aku tak pernah menolak andai kau datangi aku lewat mimpi meminta ikut bersamamu kesana. Ke tempat dimana kini kau berada. Apakah kau kesepian disana? Katakan!

***Maap tulisan ini masih dalam perbaikan. Mohon kembali beberapa hari lagi,ya? Salam 🙂

Kisah Kita Tersimpan di Rumah Tua


Aku rindu memasuki rumah tua di pinggiran sungai Kota kita. Sekedar memandang atapnya dan melihat-lihat kondisi beberapa ruangan yang dulu pernah kita gunakan bersama untuk melepaskan kerinduan. Sebuah kisah yang pernah tercipta diantara kita sudah berlalu begitu lama. Dan kurasa kau tak ingat sama sekali kisah itu. Tentu ia telah menua dalam benakmu dan bahkan hilang sama sekali. Tak pantas untuk dikenang karena daya pikatnya yang jauh dari menarik, atau karena kisahmu setelah diriku yang membuatnya hilang tanpa kesan.

Kau boleh memperlakukan apapun untuk kisah kita di rumah tua itu. Namun, tahukah kamu bahwa bagiku melupakan kisah kita di rumah tua itu adalah perbuatan yang tak akan pernah kumaafkan oleh diriku sendiri? Kau tak akan tanyakan kenapa karena sebenarnya kau tahu persis mengapa aku begitu merindukan rumah tua itu. Lagi pula, asumsiku tentangmu yang tak suka mengingat apa yang telah terjadi di dalam rumah tua itu selusin tahun yang lalu belum tentu benar. Dan sah-sah saja bila memang kau lebih kuat mengingat rumah itu ketimbang diriku. Sungguh, kisah di rumah tua begitu kurindukan terulang sekarang.

Kau dan aku hampir setiap hari melihat rumah tua di pinggir sungai terpanjang di kota kita dengan pasangan kita masing-masing. Dulu, kita pernah ucapkan banyak kata di dalam rumah tua itu. Kini, kita hanya bisa mengenangnya dengan cara yang berbeda. Jika, hatiku menjadi begitu pilu melihat rumah tua itu, mungkin saja kau hanya bisa tertawa dalam hati sambil berkata, “di dalam rumah itu pernah kubohongi seorang pria yang lugu”. Dan kau pun bisa terus tertawa setiap melewati rumah tua itu dengannya. Karena, dialah orang terdekatku yang juga ikut melepaskan kepergianku di terminal bis antar propinsi itu.

Biarlah, kisah kita tersimpan di rumah tua itu untuk selamanya. Kita doakan bersama agar rumah yang tak pernah dihuni itu selalu ada disana. Ia harus selalu kokoh walaupun bencana tsunami sedahsyat dulu menerjangnya kembali. Tuhan sengaja menyisakan rumah tua itu untuk kita berdua. Mungkin!

Waspada Terhadap Ancaman Bencana di Kota Banda Aceh


BENCANA adalah sesuatu yang harus dihindari oleh manusia. Ia akan berdampak besar karena mengancam kelangsungan hidup manusia itu sendiri. Gempa dahsyat yang terjadi pada Minggu, 26 Desember 2004 lalu adalah contoh bencana yang memakan korban nyawa manusia yang sangat banyak serta lingkungan tempat tinggal pun luluh lantak.

Bencana alam tersebut bisa datang dengan cepat karena kerusakan lingkungan dan juga kesalahan tata ruang di sebuah wilayah. Lingkungan hidup dapat rusak karena perilaku manusia itu sendiri. Penebangan hutan secara liar dan mengabaikan kaidah-kaidah penyelamatan lingkungan akan merusak ekosistem hutan yang akibatnya adalah banjir besar. Lingkungan juga dapat berantakan karena pemukiman penduduk yang kumuh dan bangunan-bangunan liar yang dibangun tanpa analisis bahayanya terhadap lingkungan. Tata ruang yang tidak profesional dan amburadul dan tidak menyisakan lahan kosong tentu saja membuat air hujan sulit terserap ke dalam tanah.

Program penanggulangan bencana sudah banyak diimplementasikan di Propinsi Aceh oleh beberapa Lembaga Non-Pemerintah baik dari luar negeri maupun lokal. Semua kegiatan tersebut adalah untuk mengurangi resiko ketika bencana itu datang. Namun demikian, apapun langkah persiapan yang kita lakukan akan tidak berarti apa-apa bila tak ada upaya preventif terhadap kerusakan hutan, bantaran sungai, dan kawasan pemukiman jejadian yang ada di wilayah Aceh umumnya dan Kota Banda Aceh khususnya.

Kota Banda Aceh telah berkembang pesat seiring proses rehabilitasi dan rekonstruksi yang dilakukan pasca bencana tsunami. Ada banyak bangunan baru dengan rancangan modern yang terdiri dari gedung/kantor pemerintahan dan pertokoan, sekolah-sekolah baru bertaraf International, serta jalan raya dan jembatan baru telah dibangun di Ibu Kota wilayah Aceh ini. Semua orang yang datang ke kota ini dapat menyaksikan sesuatu yang beda dari perkembangan Banda Aceh dibandingkan sebelum becana tsunami datang menyapa. Kini banda Aceh sudah cantik dan menarik untuk ditinggali. Ya, secara fisik Kota Banda Aceh telah kelihatan asri dengan rimbunnya pepohonan di beberapa taman kota dan sepanjang jalan raya. Dan sudah barang tentu Walikota dan segenap jajarannya merasa bangga atas keberhasilannya mengurus Kota Banda Aceh.

Namun, keberhasilan secara fisik Kota Banda Aceh tersebut tidak diimbangi oleh kondiisi psikologisnya yang cenderung sangat muram. Bangunan rumah toko di kota Banda Aceh tidak dibangun dengan penataan yang baik. Sepertinya, pemetaan kawasan rawan bencana di Kota Banda Aceh belum disiaplan sepenuhnya. Pada hal, bangunan yang mengundang konsentrasi massa harus dibangun dengan konstruksi tahan gempa bumi sesuai dengan daya dukung tanah masing-masing. Semua bangunan harus dilengkapi dengan jalur evakuasi.
Gempa yang sangat kuat yang kemudian disusul oleh bencana tsunami yang begitu dahsyat memang telah berlalu hampir tujuh tahun yang lalu. Kita tak pernah berharap bencana serupa itu terulang lagi dan memakan banyak korban jiwa di Aceh. Hanya saja, mitigasi tsunami benar-benar harus dijalankan dengan benar dan serius. Selama ini, Pemerintah Kota Banda Aceh terkesan menyepelekan masalah tersebut. Pembangungan di kawasan rawan bencana seperti tsunami dan banjir (pantai landai dan teluk yang berhadapan langsung dengan ancaman tsunami) harusnya tidak dilakukan.

Memang, Pemerintah Kota (Pemkot) sudah membuat jalur-jalur hijau di dalam Kota.Pepohonan sudah banyak ditanami juga di pinggir dan trotoar jalan kota. Akan tetapi, pemkot tidak membangun jalur evakuasi dan pelatihan. Hanya ada “arah menuju jalur evakuasi” saja di jalan-jalan yang dalam permukiman kota Banda Aceh. Dan Gedung penyelamatan (Escape Building) yang ada di Kota Banda Aceh perlu dijaga/dirawat agar saat pemanfaatannya tiba benar-benar bisa digunakan oleh warga Kota Banda Aceh sebagai tempat perlindungan dari bahaya bencana. Pihak Pemkot Banda Aceh harus menjadwalkan ulang secara profesional dan penuh tanggung jawab sosialisasi tentang fungsi dan pemanfaatan gedung tersebut. Ini penting untuk menghindari kebingungan masyarakat untuk menyelamatkan diri bila bendana Tsunami kembali melanda Kota Banda Aceh. Hal ini penting untuk meminimalisir banyaknya korban jiwa.

Bencana seperti gempa bumi adalah jenis bencana yang tidak dapat dihilangkan dan tidak dapat dihindarkan karena sumber gempa bumi itu sendiri. Manusia hanya dapat menyesuaikan diri dengan kondisi alam dan mempersiapkan diri menghadapinya. Dalam hal ini peran pemerintah Kota Banda Aceh sangat penting melindungi warganya bila musibah ini terjadi.

Namun, adakah bencana yang akan menghampiri dalam beberapa tahun mendatang karena kesalahan proses pembangungan di kota Banda Aceh?

Warga Kota Banda Aceh yang bermukim di sepanjang garis pantai dari Kecamatan Syiah Kuala sampai Meuraxa itu rata-rata mendiami rumah bantuan yang dibangun Lembaga Asing (baca;NGO). Namun, kualitas bangunannya banyak yang tidak memadai, serta fasilitas infrastruktur yang masih belum tersedia. Masih ada rumah-rumah yang belum mempunyai septik tank, air minum dan jalan. Kenyataan seperti itu masih bisa ditemukan di lapangan karena rumah yang dibangun NGO baik lokal maupun internasional biasanya tak memiliki kualitas sama sekali. Fenomena ini akan sangat membahayakan bila gempa bumi tiba-tiba terjadi. Kepanikan warga jelas akan menimbulkan korban jiwa. Belum lagi, bila ombak pasang yang tinggi datang melanda. Walau pun bebatuan besar pemecah ombak sudah ada di sepanjang pantai, namun perlu diwaspadai dan antisipasi musibah besar yang mungkin ditimbulkannya nanti.

Batu-batu pemecah ombak tersebut memberikan ancaman bencana yang besar juga untuk warga Banda Aceh yang tinggal di dekat pantai. Batu pemecah ombak yang dibangun BRR Aceh-Nias dalam proses rehab-rekon Aceh pasca tsunami itu tak akan bisa selamanya memberikan perlindungan bagi warga. Abrasi masih bisa terjadi perlahan-perlahan setiap hari. Ketika pasir-pasir yang ada di bawah batu tersebut terkikis dan menyebabkan turunnya batu-batu itu ke bawah. Lama-kelamaan semua batu-batu pemecah ombak itu akan tenggelam. Bukankah bahaya sedang mengintai warga Banda Aceh yang bermukim disana?

Peran Walikota

Walikota Banda Aceh dan jajarannya harus serius melakukan pembenahan dan revolusi birokrasi di lingkungan pemerintahannya terkait izin mendirikan bangunan. Lahan resapan air bila hujan turun akan semakin berkurang jika pemkot Banda Aceh masih bertahan dengan sistem birokrasi yang masih berkembang. Sebagai masyarakat yang baik tentu kita semua diharapkan mau mendukung, dan secarabersama-sama mengambil peran dan tanggung jawab memelihara, menjaga dan melanjutkan program kesiapsiagaan bencana yang telah di dapatkan dari lembaga-lembaga non-pemerintah dulu.

Program pengurangan resiko bencana tersebut penting diadopsi sebagai program kerja utama yang akan diterapkan oleh Walikota Banda Aceh dalam lima tahun ke depan. Bila Banda Aceh terus berbenah dengan bangungan tokonya saja tanpa mengindahkan resiko bencana yang akan terjadi di masa depan, maka warga Banda Aceh harus selalu siap pada bencana banjir karena hujan lebat dan naiknya air laut karena gelombang pasang yang tinggi. Semoga saja walikota Banda Aceh yang baru memiliki program jitu untuk menghadapi ancaman bencana yang mungkin melanda Kota paling ujung dari Pulau Sumatra tersebut.

***Tulisan ini telah dimuat di Majalah Tanah Rencong terbitan WALHI Aceh.