Aurat Politik Aceh


Aurat Politik Aceh.

Iklan
By Arbi Sabi Syah Posted in Fiksi

Aceh Masih Butuh Program Pengurangan Resiko Bencana (PRB)


Tekad Pemerintah Aceh yang baru dalam menyikapi isu bencana di propinsi paling ujung pulau Sumatera ini layak diapreasikan. Hal ini terlihat dari keseriusan dr. Zaini Abdullah selaku Kepala Pemerintah Aceh ketika berdelegasi ke Kantor Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan menyampaikan rencanya kepada Kepala BNPB Bapak Syamsul Ma’arif. Kini masyarakat Aceh tahu rencana bijak pemimpin mereka sebagaimana dirilis oleh Harian Serambi Indonesia pada edisi 02 Agustus 2012 yang lalu. Doto Zaini, begitu nama populer mantan petinggi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) itu disebut, memberikan pernyataan menarik bahwa Aceh adalah salah satu kawasan yang berada dalam wilayah bencana. “Karena itu resiko bencana telah menjadi kebijakan pembangunan Aceh.” Begitulah kata-kata beliau sebagai rencana bagi masyarakat yang hidup di bumi serambi mekah ini.

Terlepas dari uraian di atas, kami melihat bahwa pendapat Doto Zaini itu layak didukung dan didorong agar terlaksana secepatnya. Aceh sedang mengalami sebuah era yang sungguh memperihatinkan. Tingkat kerusakan lingkungan yang tinggi dengan hutannya yang telah mengalami degradasi begitu besar. Luas area hutan Aceh telah digerogoti kelompok orang-orang yang tak bertanggung jawab. Hutan yang seyogyanya adalah warisan masa depan bagi generasi Aceh yang harus diselematkan oleh Pemerintah Aceh, bukan malah didukung untuk dimusnahkan!

Bila Pemerintah Aceh sekarang terlambat bergerak mengantisipasi kerusakan lingkungan itu, maka bencana ekologi akan menyerang Aceh habis-habisan. Sekarang, kita dikepung dari berbagai penjuru oleh bakal bencana yang terjadi karena ulah kita sendiri. Belum lagi bila kita bicara masalah Gempa Bumi yang begitu akrab dengan daerah kita. Sungguh sebuah petaka besar yang tak terbayangkan akibatnya akan terjadi bila sistem Pemerintah Aceh yang baru itu jelek dan tidak berfungsi maksimal.

Jika ditelusuri lebih jauh pada kondisi alam Aceh sekarang, kami rasa tulisan ini bukanlah sekedar menakut-nakuti masyarakat Aceh. Tapi, lihatlah dengan mata terbuka dan tuluslah member penilaian. Apa yang didapatkan Aceh setelah 2 (dua) program Pemerintah Aceh yang dulu yakni Moraritorium Logging dan Aceh Green diimplementasikan? Adakah pelajaran positif dari kedua mega program yang terkesan “mercu suar” tersebut? Buktinya, kita masih bicara belum adanya langkah strategis dari Pemerintah Aceh terkait kesiapan menghadapi bencana.

Pengurangan Risiko Bencana adalah Tanggung Jawab Pemerintah

Pemerintah Aceh perlu diberi penyadaran bahwa penanggulangan resiko bencana itu menjadi bagian penting untuk membangun Aceh ke depan. Hal itu adalah sebuah bentuk komitmen dari Pemerintah Aceh terhadap Resolusi PBB No.63/1999 yang ditindaklanjuti dengan “Hyogo Framework for Action dan Beijing Action”.

Paradigma Pemerintah harus diubah dalam proses penanganan bencana Alam yang terjadi ke depan. Kita tidak ingin Pemerintah Aceh masih mengedepankan pola responsive belaka dalam menangani bencana yang masih berpotensi mengancam kelangsungan hidup masyarakat Aceh. Kita ingin mendorong lebih jauh agar Para pengambil kebijakan di Aceh menempatkan isu pengurangan resiko bencana menjadi suatu kegiatan yang bersifat preventif, sehingga bencana alam itu selain mungkin dapat dicegah atau diminimalkan (mitigasi), juga risikonya dapat dikurangi atau malah ditiadakan sama sekali.

Pemerintah Aceh harus segera menyusun dan menerapkan sebuah Rencana Aksi Daerah dari tingkat provinsi hingga ke tingkat kabupaten/kota. Langkah ini menjadi darurat karena dampak dari setiap bencana yang terjadi begitu besar. Materi dan korban jiwa yang begitu banyak akan kita hadapi sebagai bentuk resiko dari bencana itu sendiri. Kita tak boleh mengulang kesalahan yang sama dalam manangani bencana yang terjadi di Aceh. Ketimbang menghabiskan banyak uang untuk hal-hal yang tidak begitu penting, rasanya anggaran untuk pengurangan resiko bencana di Aceh pun perlu diperbesar. Perlengkapan atau stok barang untuk hadapi bencana perlu menjadi perhatian besar Pemerintah Aceh ke depan.

Aceh sudah begitu dimanjakan oleh banyak bantuan luar yang ujung-ujungnya tak dapat kita manfaatkan dengan baik. Kita juga tak ingin disebut sebagai propinsi yang gagal tangani bencana. Pada hal, begitu banyak uang dihabiskan di Aceh paska terjadinya Gempa Bumi pada Desember 2004 yang disusul oleh naiknya air laut yang maha dahsyat kekuatannya. Dan Aceh pun punya sejarah baru dalam memperkaya kaidah bahasa di Negeri ini yaitu sumbangan untuk kata “Tsunami”. Apakah cukup dengan satu kata itu?

Kita harus buktikan pada dunia luar bahwa tidak ada sia-sia bantuan yang mereka berikan untuk Aceh. Berbagai penghargaan kita raih terkait penanganan resiko bencana. Pertanyaannya, apakah ini sebuah kesempurnaan bagi Aceh yang selalu siap berteman dengan bencana?

Pentingnya Integrasi Pengurangan Resiko Bencana (PRB) dalam Kegiatan Pembangunan

Kondisi geografis wilayah kita yang terletak di antara lempeng tektonis Euro- Asia dan Australia-India dan adanya pihak-pihak atau kelompok orang yang mencari keuntungan besar dari penebangan hutan dengan cara-cara yang kejam menempatkan daerah Aceh sebagai salah satu daerah rawan bencana di Indonesia. Pemerintah Aceh masih memeiliki kewajiban mendidik masyarakatnya agar paham terhadap resiko bencana yang kini mengancam lingkungan tempat tinggalnya. Masyarakat harus diajarkan bagaimana menghadapi bencana alam yang terjadi seperti gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor, puting beliung, dan sebagainya.

Kita patut tidak melupakan bahwa bencana alam adalah konsekuensi dari kombinasi aktivitas alami dari semua proses bencana alam yang terjadi dan juga oleh ulah tangan nakal saudara-saudara kita sendiri. Pemerintah yang bijak akan selalu mengerti apa yang terbaik untuk masyarakat yang dipimpinnya. Membangun jalur evakuasi dan memastikan adanya tempat-tempat penampungan untuk pengungsi adalah bagian dari memberdayakan masyarakat tentang isu bencana.

 

Oleh karena itu, sebuah manajemen keadaan darurat haruslah dibangun oleh Pemerintah Aceh yang baru untuk meminimalisir efek bencana berupa kerugian dalam bidang keuangan dan struktural, bahkan sampai memakan korban jiwa yang banyak dari kalangan masyarakat Aceh. Bukankah pencegahan itu lebih baik dari pada mengobati?

Pengalaman penulis mengikuti banyak workshop seputar isu pengurangan resiko bencana baik di dalam dan luar Aceh memberi kesan bahwa Aceh belum memiliki kesiapan menghadapi bencana besar di masa yang akan datang. Aceh masih belum memiliki satu langkah strategis yang akan diterapkan bila bencana besar tiba-tiba saja terjadi di Aceh. Hal ini semakin diperparah bila Pemerintah Aceh yang baru tidak memiliki kesadaran dan kepekaan tinggi terhadap resiko dari banyak bencana yang akan melanda Aceh.

Pemerintah Aceh harus segera melakukan rapat kordinasi besar dengan semua perangkat kerja daerah terkait ketidaksiapan Aceh hadapi bencana di masa yang akan datang. Langkah mengintegrasikan pengurangan resiko bencana (PRB) dalam setiap kegiatan pembangunan wajib disusun konsepnya untuk segera diimplementasikan. Ini akan menjadi bentuk realisasi dari apa yang diperbincangkan dr. Zaini Abdullah dalam pertemuannya dengan kepala BNPB di Jakarta pada awal Agustus yang lalu.

Dampak pembangunan yang tidak ramah lingkungan akan mengakibatkan bencana alam. Contoh kecilnya adalah bila saluran air di kota Banda Aceh tidak berfungsi dengan baik, apa yang akan terjadi? Pasti, banjir akan datang menghampiri masyarakat yang bermukim di Ibukota Propinsi Aceh tersebut bila hujan dengan intensitas tinggi turun dalam hitungan hari saja. Dan bila Pemerintah Aceh paham akibat yang ditimbulkan oleh pembangunan yang tidak mengikuti kaidah pengurangan resiko bencana, maka Aceh telah alami sebuah proses dengan nama “Aceh akan naik kelas.” Allaahu a’lam bis-shawaab.

Bakal Bencana Kolosal Aceh Itu Bernama; Ladia Galaska!


Miris! Itu kesan penulis membaca Harian Serambi Indonesia edisi Sabtu (04/08/2012) tentang Mahkamah Agung (MA) tolak Peninjauan Kembali (PK) Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Aceh terhadap proyek pembangunan proyek jalan Ladia Galaska (Lautan Hindia, Gayo Alas, dan Selat Malaka) yang dilaksanakan Pemerintah Aceh sejak 2002-2007. Menjadi tanda tanya besar pada keputusan MA tersebut adalah sejauh mana mereka tahu bahwa proyek itu tidak melanggar analisis dampak lingkungan (AMDAL), sementara jelas sekali sebelumnya WALHI Aceh menemukan bukti-bukti baru (novum) atas kerusakan lingkungan akibat proyek pembangunan jalan Ladia Galaska di Aceh yang melalui kawasan hutan lindung itu?

Terlepas dari niat baik Pemerintah Aceh untuk tingkatkan kesejahteraan masyarakat Aceh yang tinggal di kawasan Barat-Selatan-Tengah itu, sepertinya rencana membuka ruas jalan Ladia Galaska pantas disebut sebagai kado pertama Pemerintah Aceh yang baru. Proyek yang hubungkan antara lintas timur dan lintas barat Aceh sepanjang 470 kilometer dengan menembus kawasan dataran tinggi Leuser pasti akan berdampak besar bagi kerusakan ekosistem disana. Sadarkah Pasangan dr.Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf akan dampak tersebut? Mengertikah mereka dan para legislatif Aceh bahwa proyek tersebut dapat merusak kawasan hutan lindung dan konservasi, termasuk Taman Nasional Gunung Leuser yang merupakan habitat jutaan spesies langka yang tidak bisa ditemukan di belahan mana pun di jagat raya ini?

Dua pertanyaan di atas adalah bukti kuat untuk Mahkamah Agung Negeri ini tidak memenangkan Pemerintah Aceh. Sehingga MA tidak membuat Pemerintah Aceh senang bukan kepalang. Jangan-jangan, mereka akan rayakan keputusan MA tersebut dalam acara buka puasa bersama dengan anggota Legislatif Aceh. Sementara generasi Aceh yang terancam masa depannya itu hanya dihadiahi wajah bermuram durja. Ini tak bisa dibiarkan! Masyarakat Aceh tak boleh tinggal diam terima keputusan itu begitu saja. Alasan peningkatan ekonomi masyarakat hanyalah pameo mereka saja. Ini adalah lahan empuk bagi para pejabat di Aceh nikmati hasil (baca; kecipratan) persen proyek Lagia Galaska. Ini bukan berburuk sangka apalagi berpikiran negatif. Banyak kasus korupsi berawal dari kebijakan salah pihak Eksekutif dan Legislatif dalam sikapi isu pembangunan.

Kembali kepada keputusan MA yang menolak PK WALHI Aceh terkait pembngunan jalan Ladi Galaska dengan alasan tak ada pelanggaran Amdal. Ini adalah keputusan yang bersifat destruktif! Unsur pengurangan resiko bencana (preparedness) pun tidak dijelaskan sedikitpun sebagai dasar yang menggarisbawahi (penyerta) keputusan ini. Pada hal, dr.Zaini Abdullah baru-baru ini mengeluarkan pendapat saat bertemu pihak Badan Nasional Penangulangan Bencana (BNPB) di Jakarta, bahwa dalam setiap pembangunan Aceh ke depan akan diikutkan isu pengurangan resiko bencana. Aceh tak boleh dipimpin “seolah-olah” akan serius, dan tujuannya bagus ke depan. Jangan ada kesan kepemimpinan Aceh ke depan hanya “interpretasi” dari pemimpin yang “jago olah”.

Lagi-lagi, banyak pertanyaan bisa diajukan pada Mahkamah Agung. Apakah pihak MA Republik Indonesia itu pahami benar apa itu AMDAL? Sudahkah merek apelajari akibat-akibat yang ditimbulkan proyek bernama Ladia Galaska? Sebuah bukti baru yang malah begitu kuat muncul adalah MA punya peran besar menyuburkan buruknya sistem negara ini yang melahirkan banyak kebijakan yang tidak prnah pro-rakyat!

Kesadaran para pengambil kebijakan tentang banyaknya bencana alam yang terjadi di Aceh sudah mencapai tingkat yang sangat memperihatinkan. Harusnya, Aceh sudah layak diterapkan daerah “darurat ekologis”. Bukan malah digiring ke arah persiapan menghadapi bencana besar dalam mega proyek Ladia Galaska itu. Bencana seperti banjir bandang akibat penebangan hutan yang sembarangan sudah sering kita alami. Dan kejadian itu telah memakan korban manusia dan materil yang tidak sedikit. Banyak penduduk desa yang tinggal di dekat sungai dan di pinggiran hutan merasakan ganasnya bencana itu. Bahkan, banjir bandang sudah menjadi seperti sebuah agenda tahunan di daerah ini. Tidakkah MA sadar? Apakah Pemerintah Aceh tak pernah mau belajar dari kejadian yang menimpa daerah Tangse, Kuala Simpang, lintasan Bireuen-Takengon, daerah Pantai Barat Selatan, dan beberapa daerah lain?

Penulis hanya ingin ingatkan para pihak yang meloncat gembira karena putusan MA terhadap kelanjutan proyek Ladia Galaska. Bahwasanya, pembangunan ruas jalan tersebut pasti menyebabkan banyak kayu-kayu ditebang. Dan dengan alasan kepentingan pembangunan dan kesejahteraan masyarakata Aceh, para cukong kayu dan oknum-oknum terkait punya permainan baru selama proyek itu dijalankan. Kemana terapan banyak aturan yang sudah dibuat oleh Pemerintah pusat dalam Undang Nomor 11/2006 tentang Pemerintahan Aceh pada Pasal 150, dan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2006 tentang Penataan Ruang yang diturunkan dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 26 Tahun 2007 tentang RTRWN yang mengatur kegiatan dalam KSN berstatus lindung itu? Tidakkah diterapkan sama sekali? Ini yang harus diperhatikan oleh Pemerintah Aceh lewat instansi terkait mereka.

Seharusnya, peraturan-peraturan tersebut dapat menjadi payung hukum bagi masyarakat Aceh pemukiman untuk menuntut para pengambil kebijakan di Aceh atas keputusan mereka meneruskan proyek jalan Ladia Galaska. Bukankah penebangan pohon di Hutan Lindung Burlintang, Hutan Lindung Singgahmata Gayo, Kawasan Ekosistem Leuser, dan dua bagian lainnya sudah jelas-jelas merusak ekosistem yang ada di dalamnya? Apa Mahkamah Agung dan Pemerintah Aceh memahami dengan baik masalah ini?

Dampak negatif dari pembangunan jalan Ladia Galaska terhadap kualitas kehidupan sosial masyarakat Aceh ke depan itu sangat besar. Kehadiran bangunan-bangunan baru di sepanjang ruas jalan tersebut akan menjadikan banyak petaka. Tak akan pernah ada jaminan kayu-kayu akan banyak diloloskan oleh para penebang liar melalui jalan tersebut. Ancaman terhadap kelangsungan ekosistem hutan di daerah tersebut sungguh tak ada dalam pemikiran MA dan Pemerintah Aceh. Sungguh memilukan!

Sampai kapan rakyat Aceh dijadikan tumbal dari keputusan arogan yang dibuat oleh Para pemimpinnya? Sampai rakyat Aceh rasakan bencana maha dahsyat seperti Tsunami 7 (tujuh) tahun silam?

Sekali lagi, Pemerintah Aceh yang sekarang harus memperlihatkan keseriusan mereka untuk lebih komit terhadap isu kerusakan lingkungan akibat dari sebuah proses pembangunan. Hal ini mejadi begitu penting mengingat masa depan generasi muda Aceh dipertaruhkan kelangsungan hidupnya dari baik buruknya sebuah kebijaksanaan di bidang lingkungan hidup. Apalagi, hutan, pegunungan, sungai, dan lautan adalah sumber kehidupan yang besar apabila dipelihara dengan baik dan diikat dengan peraturan yang bijaksana tata pengelolaannya.

Bencana alam yang selalu datang mengancam akibat dari sebuah pembangunan yang mengabaikan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) akan berdampak buruk bagi kelangsungan hidup masyarakat. Alasan percepatan pertumbuhan ekonomi masyarakat pedalaman seharusnya tidak dijadikan alat politik meraup banyak keuntungan untuk pribadi dan kelompok partai penguasa. Pemerintah Aceh yang baru harus melakukan upaya-upaya penyelamatan lingkungan, bukan sebaliknya menjadi katalisator bagi suburnya kerusakan lingkungan di daerah Aceh.

Pemerintah Aceh yang baru tak boleh ingkari janji-janji mereka dalam kampanye beberapa bulan yang lalu. Bukankah, mereka meminta masyarakat memilih mereka bila ingin lingkungan hidup di Aceh menjadi baik? Apa perbedaan pemerintah Aceh yang dulu dengan sekarang bila hutan dihancurkan demi alasan pembangunan?

Dukungan untuk menjadikan Aceh ada dalam kondisi darurat ekologi karena banyaknya bencana alam yang telah terjadi setiap tahun dalam beberapa tahun terakhir, adalah sesuatu yang mutlak dilakukan oleh Pemerintah Aceh yang baru. Pemimpin Aceh yang menang lewat Partai Aceh itu harusnya mengerti benar bahwa angka kerusakan hutan di Aceh setiap tahun terus saja mengalami pengurangan luas yang mencapai kurang lebih 20.796 hektare akibat pembalakan liar. Pencegahan terhadap kerusakan lingkungan harusnya diupayakan oleh Pemerintah yang baru tersebut. Mereka seharusnya tidak menerima putusan MA bernomor 730 PK/Pdt/2011 itu. Apa yang akan terjadi pada hutan Aceh 10 tahun ke depan jika Pemerintah Aceh tidak berbuat apa-apa untuk menghambat laju kerusakan hutan di wilayahnya? Apakah mereka mengerti ini?

Akhirnya, penulis ingin simpulkan bahwa pembangunan ruas jalan Ladia Galaska itu semakin memperparah kerusakan hutan di Aceh. Dan Mahkamah Agung kita sama sekali tidak tahu karena tak pernah mau tahu akan hal itu. Pemerintahan Aceh yang baru di tangan dr. Zaini dan Bapak Muzakir Manaf tak pernah ingin menyadari bahwa proyek jalan Ladia Galaska itu akan menjadi monster besar terjadinya bencana ekologi di Aceh ke depan. Diteruskannya pembangunan proyek jalan tersebut sesungguhnya akan menjadi calon kuat terjadinya bencana kolosal di di Aceh. Semoga, Pemerintah Aceh dan instansi terkait lainnya yang sudah terlanjur euforia terhadap putusan MA itu dapat menyadari bahwa Aceh sudah memasuki darurat Ekologis. Semoga!

WORLD HUMANITARIAN DAY: 19 AUGUST 2012


Reblog from Greeningtheblue.

Date: Sun 19/08/12
Related Organisation/Agency: United Nations System

World Humanitarian Day is a time to recognize those who face danger and adversity in order to help others. The day was designated by the General Assembly to coincide with the anniversary of the 2003 bombing of the United Nations headquarters in Baghdad, Iraq, which killed 22 UN staff.

Every day humanitarian aid workers help millions of people around the world, regardless of who they are and where they are. World Humanitarian Day is a global celebration of people helping people.

This year’s campaign “I Was Here” is about making your mark by doing something good, somewhere, for someone else.

To show your support for World Humanitarian Day visit www.whd-iwashere.org

Web link: World Humanitarian Day 2012

Curiosity Takes Center Stage as Crowds Cheer in Times Square


Thanks.

Tech

It was a bit surreal to stand in the middle of Times Square and hear a throng of revelers chant “NASA! NASA!” as if the space agency had just won a gold medal in the Olympics. They were cheering the successful landing of Curiosity on Mars, a $2.5 billion endeavor that saw NASA’s most advanced rover yet enter the planet’s atmosphere at a blistering 13,200 miles per hour.

At 11:30pm EDT, when NASA started broadcasting coverage of the event, the crowd was thin and slightly underwhelmed. Many complained to me that the Toshiba Vision screen, dwarfed by a blinding Dunkin’ Donuts advertisement below it, was hard to see and that the only audio provided was through a smartphone app that seemed to be running a minute behind the visuals.

(MORE: Mars Curiosity Rover: Wheels Down on the Red Planet)

Several younger attendees seemed more excited about…

Lihat pos aslinya 461 kata lagi

By Arbi Sabi Syah Posted in Fiksi

Bencana Aceh Masa Depan itu Bernama Ladiagalaska


Rencana dibukanya ruas jalan #Ladiagalaska adalah kado pertama Pemerintah #Aceh yg baru. Inilah ancaman kerusakan ekosistem hutan terbesar!

Keputusan MA kemarin di Jakarta membuat pihak Pemerintah #Aceh senang bkn kepalang. Sementara rekan2 saya dari #WALHIAceh bermuram durja.

Ya,MA menolak PK #WALHIAceh trkait pembngunan jalan #Ladiagalaska dgn alasan tak ada pelanggaran Amdal.Sungguh sebuah keputusan yg merusak!

Apakah pihak Mahkamah Agung Republik Indonesia ini tahu apa itu AMDAL? Sudahkah mrk pelajari akibat2 yg ditimbulkan proyek #ladiagalaska?

Pengajuan Kembali (PK) dari #WalhiAceh terhdp proyek jalan #ladiagalaska yg dikerjakan sejak thn 2002-07 itu menjadi bukti kuat bhw sistem negera ini tdk prnah pro-rakyat!

Sampai kapan rakyat menjadi tumbal dari keputusan arogan yg dibuat oleh Para pemimpinnya? Hingga nanti..hingga kita semua mati?? #Aceh

Hutan #Aceh nyaris punah oleh pembalakan liar bertahun2. Kini,proyek jlaan #ladiagalaska itu semakin memperparah kerusakan hutan di Aceh. Apakah MA tahu hal itu?

Dukungan kpd Pemerintahan #Aceh yg baru tlh diberikan maksimal oleh byk pihak. Ide2 positif yg bertujuan mensejahterakan seluruh masyarakt pun tlh byk mereka umbar dlam kampanye.

Tetapi, mengapa pasangan #Zikir msh blm tahu bhw proyek #ladiagalaskan itu akan jadi monster besar terjadinya bencana ekologi di #Aceh?

Pada hal, Aceh sdh harus diterapkan #DaruratEkologis. Pemerintah #Aceh hrs tahu hal ini,bkn malah gembira sambut putusan MA kemarin! Hmm..entahlah..!

#Sumber berita dari http://aceh.tribunnews.com/2012/08/04/ladia-galaska-tak-langgar-amdal

Kata Hatiku 3


Jika ada segelintir org Aceh di Luar Negeri yg msh klaim bhw mereka adalah kelompok Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yg ingin/akan merdekakan Aceh dlm waktu dekat, mana mereka? Siapa sih mereka? Berani pulang ke Aceh sekarang? Apa kegiatan mereka di Luar Negeri sana? Apakah dunia akui keberadaan mereka seperti dunia akui Aceh Sumatra Merdeka (baca;bukan GAM) yg dideklarasikan Alm.DR.Hasan di TIRO? Dan apakah rakyat Aceh yg sekarang tinggal di Aceh yg ingin hidup dalam damai dan nyaman jalan aktivitas bersedia memberikan dukungan pd kelompok “itu”?

Sudah tak cukupkah konflik yg mendera Bumoe Hasan Tiro ini selama puluhan tahun? Mengapa ada sekelompok orang yg katanya “hebat”, “berani”, “konsisten” dan “loyal” pd perjuangan mengantarkan Aceh ke tangga liberti itu berkoar2 di Luar Negeri? Tak cukupkah org Aceh dihembuskan “angin syurga” masa lalu? Apakah saya percaya dan yakin pd kelompok “itu” dan percaya pd “org2” di dalamnya??? Saya jawab dgn berani dan tegas; TIDAK.!!!! Wong rukun iman itu cuma 6 dalam keyakinan saya, mosok percaya ama calon pembuat onar itu!

We must care and support for children with disabilities in #Aceh Province, #Indoensia.
“The rights of students with disabilities to be educated in their local mainstream school is becoming more and more accepted in most countries and many reforms are being put in place to achieve this goal. Further, there is no reason to segregate disabled students in public education systems. Instead education systems need to be reconsidered to meet the needs of all students.”-(Organisation for Economic Co-operation and Development, OECD, 1999) Cc: @YRDPIAceh @UNICEF @WHO The Centre for Studies on Inclusive Eduacation (CSIE)>>>#WordlWideMOVEMENT

Salah satu Resep agar hidup selalu nyaman adalah berdamai dengan diri sendiri. Lalu, berpikirlah positif setiap saat untuk lingkungan sosial Anda. Hindari membuat pernyataan2 negatif; sebisa mungkin harus dihindari. Jangan lupa, kita harus bertawakkal kepadaNya agar jiwa menjadi bersih dan selalu damai dalam bimbinganNya. Mari kita berpikir Positif, dan jangan memulai pergunjingan. Salam damai penuh cinta. #ForMySelfnFrens

“Semoga kematian itu tak datang begitu cepat,karena taubatku masih belum sedang kulakukan dgn benar/tulus/bahkan tak ada bernilai sama sekali.Selamat tunaikan ibadah puasa,doakan saya selamat..Andai saya meninggal dunia hari ini…maafkan segala kilaf/salah saya.Doakan saya tenang di sisiNya..”

Khusus buat kaum pria; Hindari keluar rumah menjelang berbuka utk alasan cuci mata, dikhawatirkan “berdiri buah2” maka dari itu puasa pun batal dengan sendirinya. Demkian sahihnya! #SelamatMasak buat para Ibu2..yg uenak ya?

Jaga warasmu…tak perlu kau remukkan….i always love u. Jgn hukum dirimu sendiri,kau tlah jaga aku dg hatimu…makasih ya? mat buka puasa bersamanya. #IniFIKSI

Persahabatan sejati antara pria dan wanita adalah ketika keduanya mampu utk saling memberi dan menerima..tanpa ada rasa ingin saling memiliki.

Lebih baik punya teman 10 orang tapi mereka mengenal Anda dengan baik: mengerti apa yg sedang Anda rasakan dan alami.Begitu juga sebaliknya (#AgnesMonica).Anda mengerti apa yg sedang mereka rasakan.

Memikiliki banyak teman tapi tak ada yg mau mengerti Anda,utk apa? Mungkin begini, mereka org2 yg kita kenal;bukan teman!!! #SelamatBerbukaPuasa

Masih byk keluarga Di Aceh yg tidak mampu membeli “daging” di hari Meugang menyambut puasa.Hal ini miris! Karena, meugang di Aceh harus ada daging! Gimana pun diusahakan utk itu,tapi bila sudah tak sanggup beli juga seperti mrk??? Berarti,tingkat perkembangan ekonomi di Aceh sangat buruk…buruk sekali!

Dan kami tahu persis gimana rasanya anak2 yg makan siang tanpa daging.Karena mrk tahu teman2ny

a makan siang dengan daging yg dimasak/digoreng Ibu mrk. Bila tak ada daging, pasti anak2 itu bertanya pd ibu mrk, “mak…tanyoe hana ungkot sie agoe mak? (Ibu,kok kita gak makan daging..?..) Pasti si ibu tak bisa menjawab, karena yg ada hanyalah 2 butir “telur asin” yg direbus, plus 1 telur ayam yg digoreng menjadi telur dadar yg dipotong 4..!
Selamat puasa.
Wajah Media pun berubah seiring Ramadhan mendekat.Televisi yg biasanya tampil bahenol telah persiapkan tampilan yg anggun, sopan, dan elegan.Penuh hikmah menuju sandaran vertikal.Ini runitas tahunan, ya? Dan apa kabar dgn Lembaran Koran dan tabloid? Pekerja media cetak tersebut pasti tak mau ketinggalan. itu sudah pasti! Mereka telah awali semuanya dengan jadwal Imsakiah Ramadhan. Terimakasih. Semoga Media2 terebut tulus,tanpa bermaksud menjual ayat2 suci.

Selamat Ramadhan. Maafkan segala salah dan khilaf saya.Kesalahan dan kesilapan puan2 telah lebih dulu saya maafkan. Berpuasalah dengan tulus dilandasi hati yg bersih.Percayalah, hikmah Ramadhan sangat besar. Demikian. Salam.

Aku ingin bahagiakan km…ingin banget lihat sorot matamu ceria..dan gak ada beban…tunggu sampai aku datang,ya?… #iloveu
Sahabat sejati tdk bisa ditukarkan dengan apapun! Termasuk dengan Politik! Meskipun dlm proses politik itu berlaku;yg jauh ayo mendekat,yg dulunya dekat jangan coba2 merapat! #aslibukanfiksi
Prosesi Anemisme menjelang bulan suci Ramadhan selalu trend di Negeri Syariat!

Risih denganTampilan Facebook Baru, dan Ingin Kembali ke Tampilan Lama?


Ingin tahu kan cara mengembalikan tampilan lama facebook Anda. Saya akan bagikan hasil pencarian di Google untuk Anda. Ada banyak informasi dari Blog rekan-rekan blogger untuk masaalh ini. Saya akan coba buat Anda mengerti langkah-langkahnya dengan gunakan “add ons mozilla dan fbpurity ini.”

Jika Anda gunakan Browser mozilla dan Google Chrome, cara ini saya rasa ampuh kembalikan tampilan facebook Anda seperti dulu. Anda tak akan lagi risih atau bosan dengan tampilan facebook Anda. Saya tahu, Anda tak lagi nyaman melihat timelines Anda tiap hari, kan? Ya kan? Ayoo ngaku deh! hehehe

Hanya saja untuk Anda yang terbiasa browsing dengan Google Chrome atau  browser lain, saya rasa tidak semudah menggunakan Mozilla mengembalikan tampilan facebook Anda.

Jadi, gimana dong om? Ok, tenang ya? Kita ikuti langkah-langkah mengambilakan tampilan facebook Anda itu bagi peselancar yang gunakan papan bernama Mozilla dulu.

Gimana untuk teman-teman papan selancar merek  Google Chrome? Santai aja bro! Itu bukan masalah. Ada satu link video yang akan bawa Anda jalan-jalan ke planet yuotube. Tinggal ikuti saja langkah-langkah disana. Pasti rebes!!!

OK, teman-teman saya tersayang, di bawah ini adalah langkah-langkahnya untuk Mozilla:
:*install  User Agent Switcher  untuk mozilla anda : download dan install di sini
* kemudian restart kembali browser mozilla mu

atau dengan cara ribet seperti ini :

1. Pertama buka browser mozilla anda.2. “lihat menu-menu di bagian atas” klik tools dan klik add-ons
3. kemudian klik get Add-ons
4. lalu lihat di sudut kanan atas (ada kotak pencarian)
5. ketik huruf ” User Agent Switcher ”
6. kemudian Klik install, lalu restart kembali browser mozilla milik mu (tutup lalu buka lagi mozilla mu)

langkah selanjutnya adalah download dan install fbpurity, (fbpurity ini berfungsi untuk mengembalikan kembali fb timeline (baru) ke tampilan lamanya tentunya dengan bantuan add ons dari mozilla)

1. kunjungi http://www.fbpurity.com/
2. klik install   >>Install F.B. Purity<<
3. kemudian pilih FireFox (jangan google chrome atau safari)
4. kemudian klik install fbpurity – exension
5. jika sudah di install, perhatikan baik-baik cara pada no 6 dan seterusnya ini :
6. “pada bagian atas menu” klik tools
7. klik default user agents 
8. klik internet explorer
9. pilih internet explorer 7
10. kemudian buka kembali profil facebook mu
11. dan taraaa facebook mu sudah kembali ke model lama … kerennnn

Dan buat pengguna browser google chrome :
Saya bagikan linknya, klik disini, dan ikuti langkah-langkahnya.
Semoga berkenan.

Sumber: dari berbagai sumber. 🙂