*** Surat Terbuka Prabowo Subianto, 8 Juli 2014 ***


Sahabat sahabatku dimanapun engkau berada,

Assalamualaikum Wr. Wb. 

Bagi saudara-saudara sahabat-sahabatku yang melaksanakan ibadah puasa Ramadhan, saya ucapkan selamat melaksanakan ibadah puasa. Semoga dapat ditunaikan dengan sempurna dan amal ibadah anda diterima oleh Allah SWT.

Sahabatku sekalian, kurang lebih delapan belas jam lagi yaitu mulai jam 07.00 besok pagi tanggal 9 Juli 2014, seluruh bangsa kita akan melaksanakan pemilihan umum untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia untuk lima tahun kedepan, 2014 sampai 2019.

Kita patut bersyukur dan bangga bahwa negara kita adalah negara demokrasi ketiga terbesar di dunia. Kita sadar masih banyak kekurangan dalam pelaksanaan demokrasi kita. Pasti kita semua ada yang tidak puas terhadap penyelenggaraan demokrasi kita sampai sekarang.

Kitapun menyadari dan mewaspadai ancaman-ancaman terhadap demokrasi berupa upaya membohongi rakyat dan membeli suara secara besar-besaran. 

Namun, sebagaimana saya berkali-kali katakan selama ini, saya yakin rakyat Indonesia sudah lebih pintar daripada yang diperkirakan oleh segelintir orang. Dan rakyat Indonesia punya hati nurani dan kesadaran mana yang terbaik untuk masa depan mereka.

Saya ingin ucapkan terima kasih kepada para sahabatku sekalian yang sampai sekarang sudah berjumlah 7.800.000 orang lebih. Angka yang bagi saya sungguh sangat mengagetkan. Konon ada yang memberitahu kepada saya bahwa ini berarti sebagai seorang pemimpin politik, saya memiliki pengikut keempat terbanyak di dunia. Ini sungguh suatu kehormatan besar.

Saudara-saudara sekalian, sebagaimana pasti kalian sudah mengetahui sudah cukup lama saya menjadi sasaran upaya menghancurkan reputasi saya dan nama baik saya melalui suatu kampanye yang lama, terencana, terpadu. Saya digambarkan sebagai seorang yang ingin menjadi diktator, yang anti demokrasi, pelanggar HAM yang kejam dan sebagainya. 

Dan mereka melalui upaya penghancuran nama baik saya dan karakter saya (character assasination) menginginkan bahwa saya tidak bisa menjadi sebuah faktor dalam kehidupan politik Indonesia.

Pertanyaannya adalah kenapa mereka begitu benci dan takut kepada peranan saya dalam politik Indonesia? Apa yang sebenarnya saya perjuangkan? 

Sama sekali tidak benar bahwa saya anti demokrasi. Sayalah yang pernah membuktikan diri menegakkan demokrasi dengan tidak melakukan pengambilalihan kekuasaan secara tidak demokratis pada Mei 1998 padahal saya waktu itu mengendalikan 33 batalion tempur Angkatan Darat, dan mungkin waktu itu puluhan batalion lain yang juga masih di bawah pengaruh saya. Kenyataannya, sejarah mencatat saya tunduk pada konstitusi.

Saya sudah terjun di politik lebih 10 tahun. Saya sudah mengunjungi ratusan kabupaten dan hampir semua provinsi sudah saya datangi dalam tahun-tahun ini. Kadang-kadang satu hari saya memberi tiga, empat pidato karena saya dari kecil percaya pada demokrasi. 

Keluarga saya turun temurun adalah pejuang-pejuang yang membela negara, bangsa dan rakyat Indonesia. Itu nilai-nilai yang tertanam di benak dan hati sanubari saya. Kepentingan bangsa saya, kepentingan rakyat saya di atas kepentingan keluarga atau pribadi.

Itu yang telah saya jalankan, dan mungkin karena itulah kesetiaan ribuan anak buah saya selama puluhan tahun terus bertahan. Kalau saya digambarkan sebagai pribadi yang kejam, saya rasa tidak mungkin ada prajurit yang setia kepada saya selama puluhan tahun. Tanyalah kepada mereka, setelah 16 tahun, 18 tahun pensiun, mereka sekarang bangkit ada dimana-mana, di kabupaten-kabupaten, merekalah sekarang salah satu ujung tombak kampanye pemenangan saya.

Saudara-saudara sekalian, saya bersyukur dan merasa terharu serta sangat terhormat dengan diberi kepercayaan oleh sebuah koalisi partai-partai besar dan bersejarah di Indonesia yaitu Koalisi Merah Putih (Partai Golkar, Partai Gerindra, Partai Amanat Nasional, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Bulan Bintang dan sekarang ditambah dukungan resmi dari Partai Demokrat). Kalau dari segi jumlah kursi di DPR RI yang baru terpilih tahun 2014 ini, berarti koalisi kami sekarang ini menguasai hampir 2/3 kekuatan di DPR RI. 

Dengan saya menjadi calon daripada koalisi yang kuat ini, sungguh menjadi sebuah amanah yang saya emban dengan penuh rasa tanggung jawab dan dengan penuh tekad untuk berbuat yang terbaik untuk bangsa dan negara dan rakyat saya.

Apa yang kita perjuangkan?

Yang kita perjuangkan adalah Indonesia yang benar-benar berdaulat, Indonesia yang benar-benar mampu berdiri di atas kaki kita sendiri. Indonesia yang bisa melindungi segenap warga negaranya dan tanah tumpah darahnya. Indonesia yang bisa memberi makan dan kehidupan yang layak bagi seluruh warga negaranya. Indonesia yang tidak dieksploitasi oleh bangsa lain. Indonesia yang damai, yang rukun, yang aman, yang adil, dan yang sejahtera.

Itu yang kita perjuangkan. Apakah itu salah? Kenapa ada yang takut dengan Indonesia yang berdaulat, yang berdiri di atas kaki sendiri? Indonesia yang dihormati dan punya martabat? Kenapa Indonesia tidak boleh bermartabat? Kenapa Indonesia rakyatnya tidak boleh sejahtera?

Para sahabatku sekalian, mungkin itulah sebabnya walaupun ada kekuatan-kekuatan yang besar yang ingin menghancurkan saya, terutama nama baik saya, tetapi ternyata rakyat Indonesia memiliki firasat tersendiri. Rakyat Indonesia bisa mengerti bahwa saya hanya salah seorang yang ingin membela kepentingan bangsa Indonesia dan kepentingan rakyat Indonesia. Dan karena itu kekuatan kita terus bertambah dan menguat.

Nyatanya sekarang para sahabatku di halaman Facebook ini sudah hampir delapan juta. Angka yang cukup mengagetkan untuk saya. Pernyataan dukungan yang cukup menjadi sebuah fenomena.

Juga ternyata sampai dengan hari ini, 16 lembaga survei telah menyampaikan hasil temuan mereka bahwa Koalisi Merah Putih, terutama Prabowo-Hatta sekarang sudah unggul cukup signifikan di atas pasangan yang lain. Tentunya tidak sedikit ini adalah hasil kerja keras para pendukung saya dan Koalisi Merah Putih, para relawan Prabowo-Hatta, para kader-kader partai mitra Koalisi Merah Putih, juga diantaranya peranan saudara-saudara sekalian, sahabat-sahabatku saya yakin tidak sedikit.

Saya ingin mengucapkan terima kasih atas dukungan anda dan saya mohon kita semua tidak lengah di saat-saat terakhir menjelang pencoblosan. Janganlah kita euforia, janganlah kita bertindak santai atau malas-malasan. Datanglah berbondong-bondong ke TPS. Gunakan hak suara anda. Ini kesempatan emas bagi bangsa Indonesia.

Marilah kita bangun sebuah pemerintahan yang bersih, yang kuat, yang akan mampu membawa Indonesia ke cita-cita kita: Kemerdekaan sejati, harga diri sejati, martabat sejati, kemakmuran sejati.

Marilah kita mewujudkan cita-cita nenek moyang kita. Indonesia yang gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerto rahardjo. Indonesia yang berdiri sama tinggi, duduk sama rendah dengan bangsa-bangsa lain. Indonesia dimana wong cilik iso gumuyu. Indonesia dimana ibu-ibu senyum setiap pagi melihat anak-anak mereka yang sehat, yang tertawa dan berangkat ke sekolah dengan langkah penuh semangat. Penuh optimisme menghadapi masa depan.

Indonesia dimana setiap laki-laki, setiap malam tidur tenang karena merasa aman untuk hari-hari, minggu-minggu bahkan bulan dan tahun-tahun kedepan. 

Khusus untuk saudara-saudaraku pada sahabat yang ada di halaman ini, saya minta di jam-jam terakhir ini saudara bergerak untuk menghubungi saudara-saudaramu, kawan-kawanmu dan sahabat-sahabatmu.

Saya kira kekuatan kita besok di TPS akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa bagi Republik Indonesia. Katakanlah saudara bisa mempengaruhi 10 orang saja dalam jam-jam terakhir ini, berarti besok saudara bisa menambah lebih daripada 70 juta suara. Ingat: Setiap suara menentukan.

Terima kasih sekali lagi, sahabat-sahabatku dimanapun engkau berada. Marilah kita berbuat yang terbaik untuk bangsa kita. Saya mohon bantuanmu untuk Indonesia yang kita cintai.

Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Kalau bukan kita, siapa lagi?

Salam hormat saya. 

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Merdeka!

Sahabatmu,

Prabowo Subianto

9 April 2014: Indonesia Di Persimpangan Jalan


Salam Indonesia Raya,

Kepada seluruh kader Partai GERINDRA di mana pun Anda berada. Berikut ini adalah kata-kata Bapak Ketua Pembina kita tentang pelaksanaan PEMILU 2014 yang tinggal beberapa hari lagi. Mari kita satukan visi memenangkan Partai GERINDRA agar Bapak Letjen (Purn.) Prabowo Subianto bisa kita calonkan menjadi Presiden Indonesia berikutnya.

Kalau bukan sekarang, kapan lagi. Kalau bukan sekarang, kapan lagi. Gerindra Menang, Prabowo Presiden.

Salam Indonesia Indonesia Raya.

Bismillahirahmanirahim. Assalamualaikum Wr. Wb.

Salam sejahtera bagi kita sekalian. Shalom. Om Swastiastu. Namo Buddhaya.

Saudara-saudara sekalian, para sahabatku dimanapun engkau berada. Kita sekarang sudah berada pada hari-hari yang sangat penting. Tanggal 9 April yang akan datang, negara kita, bangsa kita, akan menjalankan pemilihan umum untuk memilih wakil-wakil rakyat di DPR-Kabupaten Kota, DPR-Provinsi dan di DPR-RI. 

Saudara-saudara sekalian, pemilihan kali ini menentukan siapa yang akan memimpin Republik Indonesia 5 tahun ke depan. Siapa dalam arti, apakah partai kita dapat melampaui threshold yang ditentukan oleh peraturan sekarang, yaitu 20% kursi di DPR-RI sehingga kita bisa mencalonkan sendiri calon Presiden Republik Indonesia.

Saudara-saudara, ini menjadi sangat penting karenaPartai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) telah menugaskan kepada saya untuk maju sebagai calon presiden Republik Indonesia untuk masa jabatan 2014-2019. Saya telah menerima penugasan ini dengan satu tekad untuk memimpin pembaharuan dan perobahan untuk memperbaiki kehidupan bangsa dan negara.

Kita ingin melakukan transformasi bangsa yang besar, kita ingin memperbaiki penyimpangan-penyimpangan,kekeliruan-kekeliruan, kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan dimasa-masa lampau. Kita tidak mau mencari kesalahan, tapi kita bertekad harus merobah kearah yang lebih baik.

Kebocoran-kebocoran negara yang sudah terlalu parah, melampaui Rp. 1.000 triliyun setiap tahun harus kita hentikan. Uang ini adalah sangat-sangat vital bagi pembangunan masa depan bangsa kita. Bangsa kita tidak bisa lagi kehilangan kekayaan sebesar ini tiap tahun.

Jadi pada 9 April yang akan datang, Partai Gerindra tidak menang maka dapat dipastikan Indonesia akan tetap kehilangan Rp. 1.000 triliun tiap tahun. Kalau lima tahun berarti kita akan kehilangan kekuatan, kekayaan kita sebesar Rp. 5.000 triliun minimal. Bahkan ada yang mengoreksi saya bahwa Rp. 1.000 triliun itu adalah angka yang terlalu kecil, angka sebenarnya adalah mendekati 3.000 triliun rupiah.

Saudara-saudara sekalian, taruhan tanggal 9 April sungguh-sungguh sangat besar. Sekarang kita merasakan bahwa masyarakat kita, bangsa kita sedang mengalami suatu penyakit yang mendalam. Setiap unsur masyarakat kita sudah rusak, rusak moral, rusak mental. Setiap unsur di masyarakat kita, setiap tingkatan, setiap tingkat kepemimpinan sudah sarat dengan sogok-menyogok, dengan membeli suara, membeli loyalitas, membeli ketaatan. Sekarang banyak pemimpin kita, banyak pejabat kita bukan taat kepada Undang-Undang Dasar, bukan taat kepada kepentingan bangsa, tetapi taat kepada yang memberi uang.

Saudara-saudara sekalian, negara kita berada dipersimpangan jalan yang sangat-sangat penting. Untuk itu Partai Gerindra harus berhasil. Alhamdulillah kita merasa sekarang angin dukungan kearah kita. Poll-poll, survei-survei yang independen, yang akurat menunjukan bahwa kita sekarang berada di posisi yang sangat kuat. Sesungguhnya kalau pemilu hari ini dilaksanakan, kita sudah bisa mencapai lebih dari 25%. Hal ini bukan untuk membuat kita lengah atau euphoria, tetapi justru saya minta kita kerja semakin keras.

Saudara-saudara sekalian, saya memperhatikan bahwa sahabat saya dalam Facebook saya sudah mendekati lebih dari 4.600.000 sahabat. Saya tahu tidak semua punya kesetiaan dan dedikasi yang sama. Ada juga mungkin yang masuk hanya untuk mengikuti gerak-gerik Gerindra dan Prabowo Subianto. Tetapi bagaimanapun angka ini sangat besar.

Bayangkan, kalau 4 juta saja dari kalian bekerja sungguh-sungguh dalam hari-hari yang terakhir ini, kalau kalian berhasil dalam hari-hari terakhir meyakinkan tiap hari 10 orang saja, bayangkan kekuatan apa yang bisa kita dapat pada tanggal 9 April yang akan datang. Kalau 4 juta dari kalian saja bisa mengajak 10 orang saja pada 9 April yang akan datang, kita akan muncul sebagai kekuatan yang menentukan masa depan bangsa ini.

Saudara-saudara saya mohon, terjunlah ke lapangan, yakinkanlah lingkunganmu. Saya percaya setiap individu dari kalian punya saudara, punya kerabat, punya anak buah, punya orang tua, punya mertua, sehingga kalau semua lingkungan saudara diyakinkan bahwa 9 April adalah kesempatan Indonesia bangkit. Saudara-saudara sekalian, kita bisa melaksanakan suatu perombakan besar untuk bangsa kita.

Juga saudara-saudara, demokrasi yang kita laksanakan, demokrasi liberal yang kita laksanakan sekarang ini, adalah membutuhkan biaya yang sangat besar.

Saudara-saudara sekalian, kita adalah partai yang membela wong cilik, membela orang miskin. Anggota kita, kita tahu sebagian besar orang-orang yang tidak punya banyak uang. Tetapi saudara-saudara, saya berusaha yakinkan kalian, kalau kalian bersedia berkorban, menyisihkan sebagian dari kemampuanmu, dari uangmu, untuk masa depan Indonesia, saya kira, apa yang anda kesampingkan, atau anda sumbangkan tidak akan sia-sia, bahkan akan sangat menguntungkan masa depan bangsa dan negara, dan rakyat kita, dan masa depan kalian sendiri, masa depan anak-anakmu, masa depan cucu-cucumu.

Saudara-saudara sekalian, saya disini menghimbau, bahwa, kalau bisa, kekuatan rakyatlah yang bicara. Kita tidak didukung oleh uang modal besar. Mereka mungkin tidak suka dengan program kita, mereka tidak suka bahwa kita ingin memberdayakan orang yang lemah, orang yang miskin.

Mungkin mereka tidak suka, kita ingin mengamankan dan menyelamatkan kekayaan negara. Mungkin mereka suka Indonesia yang lemah, mereka suka Indonesia dipimpin oleh pemimpin yang lemah, mereka ingin suatu pemerintahan boneka, mereka ingin mengendalikan bangsa ini. Mereka ingin Indonesia, kalau bisa dipimpin oleh pemerintah yang korup, oleh pemimpin-pemimpin dan pejabat-pejabat yang korup. Karena itu mereka takut dengan kemenangan Gerindra, mereka takut munculnya pemerintah yang bersih.

Saudara-saudara sekalian, Gerindra bertekad untuk menghasilkan dan memberi kepada rakyat Indonesia, pemerintah yang bersih, pemerintah yang anti korupsi, pemerintah yang akan memberantas korupsi sampai keakar-akarnya. Untuk itu kita butuh dukungan saudara-saudara, dan kita butuh dukungan secara riil, secara konkret.

Mereka mengatakan: Bangsa Indonesia gampang, rakyat Indonesia bisa dibeli, semua pemimpin Indonesia bisa disogok. Saudara-saudara, saya mohon, marilah kita bersatu, buktikan bahwa rakyat Indonesia masih punya cita-cita yang luhur, rakyat Indonesia masih punya harga diri, rakyat Indonesia tidak mau dibeli begitu saja, rakyat Indonesia tidak mau jadi kacung, rakyat Indonesia tidak mau menjadi budak. Rakyat Indonesia ingin menjadi rakyat yang terhormat.

Saudara-saudara sekalian saya mohon, kalau bisa saudara kirim sumbangan. Kalau anda mampu seribu Rupiah, seribu Rupiah. Kalau mampu sepuluh ribu, sepuluh ribu. Kalau mampu lebih, akan sangat menentukan. Anda bisa bayangkan, kalau empat juta orang menyumbang masing-masing sepuluh ribu, dua puluh ribu, atau bahkan seratus ribu, kita akan punya kekuatan yang besar untuk bisa membantu semua unsur yang ingin mengadakan pembaharuan, perombakkan, dan transformasi bangsa.

Saudara-saudara, kita sudah siapkan suatu rekening yang resmi, yang akan diaudit, dan akan dipertanggung jawabkan. Dan ini semua uangnya akan digunakan untuk kepentingan pemenangan caleg-caleg yang terbaik, calon-calon DPR putera-puteri Indonesia yang terbaik, yang berkomitmen mengabdi sebesar-besarnya untuk kepentingan bangsa dan rakyat Indonesia.

= = =

Rekening BCA Nomor: 206.300.5959
Atas nama: Partai Gerakan Indonesia Raya

= = =

Saya mohon dukunganmu, saya mohon partisipasimu. Mungkin yang anda sumbangkan, mungkin senilai sebungkus rokok, tetapi sumbangan itu bisa menentukan masa depan bangsa Indonesia. Kita buktikan bahwa rakyat Indonesia masih ada yang punya cita-cita, masih ada yang cinta tanah air, masih ada yang ingin Indonesia berdiri dengan terhormat, dengan pemimpin-pemimpin yang terhormat, yang berdiri diatas kaki kita sendiri, bermartabat, kuat, adil, makmur. Itu cita-cita kita bersama.

Saudara-saudara sekalian, saat-saat terakhir ini, dua pesan saya tadi. Pertama, kerahkan dukungan dari sekitarmu, kalau bisa tiap hari cari tambahan lima sampai sepuluh simpatisan, catat nama mereka, yakinkan mereka, jelaskan perjuangan Gerindra. Himbau mereka, gugah mereka untuk ke TPS. Dan pada hari nanti, saudara juga datang dengan rombonganmu, dengan kerabatmu, dengan kelompokmu semuanya, berbondong-bondong tunjukkan kekuatan Gerindra sebagai kekuatan rakyat.

Selanjutnya, permintaan saya kedua, tolonglah, berilah sumbangan yang anda bisa berikan, tunjukkan lagi kekuatan rakyat, bahwa walaupun kita secara individu kecil, bersatu, bersama-sama kita besar dan kita kuat, terima kasih saudara-saudara, marilah kita berdoa agar Tuhan Yang Maha Besar, Allah SWT, merestui, meridhoi perjuangan kita, hati kita hanya untuk bangsa, negara, dan rakyat Indonesia.

Itikad kita, itikad yang baik. Keinginan kita, keinginan yang tulus, ikhlas, supaya Indonesia menjadi bangsa yang bermartabat, supaya orang miskin di Indonesia berkurang, dan supaya anak-anak orang miskin tidak miskin seterusnya.

Terima kasih kesetiaanmu, saya berharap dukunganmu.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Shalom. Om Shanti, Shanti, Shanti Om. Namo Budhaya.

Terimakasih, selamat berjuang. Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?

Ttd. Prabowo Subianto

Studi Banding Butuh Tanding


Studi Banding (comparison study) adalah sebuah konsep belajar yang dilakukan di lokasi dan lingkungan berbeda yang merupakan kegiatan yang lazim dilakukan untuk maksud peningkatan mutu, perluasan usaha, perbaikan sistem, penentuan kebijakan baru, perbaikan peraturan perundangan, dan lain-lan.

Kegiatan studi banding dilakukan oleh kelompok kepentingan untuk mengunjungi atau menemui obyek tertentu yang sudah disiapkan dan berlangsung dalam waktu relatif singkat. Intinya adalah untuk membandingkan kondisi obyek studi di tempat lain dengan kondisi yang ada di tempat sendiri. Hasilnya berupa pengumpulah data dan informasi sebagai bahan acuan dalam perumusan konsep yang diinginkan.

Dalam tulisan ini penulis mencoba mengulas secara singkat salah satu agenda favorit setiap anggota legislatif kita yang tentunya sangat menarik untuk dikaji dari tingkat efektivitas yang meliputi manfaat untuk perkembangan sebuah negara atau daerah.

Berbicara dalam lingkup Propinsi Aceh maka penulis mencoba memberikan narasai dan deskripsi untuk permasalahan ini. Mengapa ini penting? Tidak hanya dana besar milik rakyat yang tersedot untuk kegiatan tersebut, tetapi juga rangkaian kegiatan yang mereka lalui ketika proses studi banding itu dilakukan.

Beberapa hal tentu wajib hukumnya diumumkan kepada khalayak ramai. Apa yang telah anggota legislatif dapatkan di daerah yang menjadi tujuan studi banding itu seharusnya memberi pelajaran bagi
pengembangan daerah Aceh. Namun yang terjadi selama ini adalah para anggota legislatif Aceh terkesan tertutup untuk informasi-informasi penting yang terekam oleh mereka selama kegiatan studi banding tersebut.

Publikasi dari kegiatan studi banding itu sangatlah kita butuhkan. Sebagai konstituen tentu saja kita semua ingin melihat kinerja sepatutnya dari para wakil kita di Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA). Studi banding yang dilakukan sebenarnya memiliki tujuan dasar yaitu belajar pada sebuah daerah lain yang telah maju dalam menerapkan pembangunan sehingga masyarakat di daerah tersebut pun sejahtera.

Jika, para anggota legislatif Aceh yang telah melakukan studi banding ke berbagai daerah lain di Indonesia atau pun ke Kota lain yang ada di Luar Negeri tidak memberi dampak apa-apa bagi pembangunan di Aceh yang ujung-ujungnya tidak berdampak positif bagi masyarakat Aceh itu sendiri, maka kegiatan studi banding yang dilakukan oleh anggota dewan terhormat tersebut adalah bentuk pemborosan uang rakyat.

Hal ini tentu saja tidak terjadi sekali dalam lima tahun keanggotaan mereka, tetapi terjadi berulang-ulang yang tak menuai hasil apapun. Bisa dibayangkan berapa besar dana yang tersedot untuk kegiatan yang tak bermanfaat tersebut?

Penting atau sekedar akal-akalan?
Contoh penolakan terhadap hasil studi banding yang dilakukan oleh anggota Legislatif Aceh adalah ketika pada hari Kamis (3/3/2011) sebagaimana dirilis oleh Harian Aceh, para aktivis antikorupsi Aceh mendesak anggota Pansus X, XI, XII DPRA tahun 2010 mengembalikan dana yang terpakai untuk studi banding ke kas negara. Pasalnya, studi banding dengan dalih untuk mempercepat pengesahan qanun ternyata tidak berhasil mereka wujudkan.

”Rakyat berhak menggugat dan meminta mereka untuk mengembalikan dana yang sudah diambil dan dipakai, sebab tugas dan tanggung jawab untuk mempercepat pengesahan qanun tidak berhasil mereka lakukan. Ini pelanggaran hukum, karena dapat disimpulkan bahwa proyek qanun tersebut gagal dan fiktif,” kata Koordinator Gerak Aceh Askhalani ketika itu.

Studi banding yang dilakukan oleh anggota dewan itu semuanya dibiayai negara, mulai dari tiket, akomodasi, konsumsi hingga uang saku masing-masing anggota pansus. Biaya yang dikeluarkan sangat besar. Andaikan kegiatan itu berguna untuk kemaslahatan hidup semua masyarakat Aceh tentu kita semua harus mendukung.

Namun jika efek yang ditimbulkan oleh pelisiran mereka tak membawa hasil apa-apa maka kita sebagai pihak yang berperan penting menempatkan mereka disana wajib menuntut pertanggungjawaban mereka, dan bila perlu meminta mereka untuk segera “lengser ke prabon” alias mundur saja dari keanggotaan dewan perwakilan rakyat Aceh!

Untuk apa agenda studi banding itu dilakukan jika hanya sebagai ajang menghabiskan anggaran daerah Aceh saja? Sudah saatnya semua anggota dewan Aceh, baik dari tingkat Kabupaten/Kota sampai dengan di tingkat Propinsi harus dapat mengahasilkan produk-produk legislasi yang baik setelah melakukan studi banding ke daerah lain di Indonesia maupun ke luar negeri. Karena jika tidak, masyakat Aceh harus akan melakukan kegiatan lain sebagai proses tandingan. Semoga!

***Tulisan ini juga dapat Anda temui di Media Online; The Globe Journal dan Kompasiana.

Aceh Memasuki Musim Panen Konflik?


Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) di Aceh masih belum jelas kapan pelaksanaannya. Sejauh ini,belum ada pernyataan resmi dari Presiden RI yang menyatakan bahwa Pemilukada di Aceh akan dilangsungkan sesuai tahapannya yang sedang berlangsung atau malah harus ditunda dulu karena pertimbangan dikhawatirkan akan terjadi konflik.

Menilik kata konflik dalam pesta demokrasi seakan-akan menggiring kita untuk berpikir bahwa konflik itu adalah sesuatu yang akan dinikmati karena musimnya sudah tiba. Dan jika Pemilukada Aceh tahun ini  menjadikan Aceh sebagai daerah yang akan menikmati musim panen konflik,  maka layak kita doakan bersama agar musim panen itu pun gagal. Namun, jika pilihan Kepala Daerah di Aceh dikhawatirkan akan berlangsung ricuh dan menimbulkan korban jiwa, apakah kita juga harus berdoa agar ditunda saja Pemilukada di Aceh?

Memang, konflik politik di daerah akan berbeda dengan konflik yang terjadi di tingkat pusat dan kota-kota besar saja. Bahkan sering para pengamat politik lebih memfokuskan pendapatnya kepada pertikaian elit politik di tingkat pusat saja, karena menurut mereka konflik itu tak langsung bisa dirasakan olah masyarakat lokal. Jika, perebutan kekuasaan antar kubu partai politik mungkin pendapat pengamat politik itu benar. Rakyat di daerah tak bisa rasakan apapun. Bagaimana bila konflik politik yang terjadi di daerah seperti Aceh mengarah pada tindak kekerasan yang memakan korban dari pelaku politik itu sendiri? Bukankah sebagai masyarakat Aceh kita juga akan rasakan dampak dari teror-teror yang terjadi karena proses politik itu?

Aceh belum normal. Aceh masih belum aman. Belum ada kenyamanan yang sebenarnya untuk hidup di Aceh. Dan tentu saja hal ini sangat bertentangan dengan maklumat Presiden, Gubernur Aceh, dan berbagai pihak terhadap keadaan Aceh yang sudah normal. Mereka beranggapan bahwa tak ada lagi pertikaian antara Pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) karena kesepakatan damai telah dibuat di Helsinki pada 15 Agustus 2005. Apakah kesepakatan damai itu telah membuat rakyat Aceh hidup aman dan tenteram? Belum ! Aceh masih belum normal.

Musim panen konflik itu telah terlihat sejak Amiruddin Husen atau Saiful alias Cage yang merupakan salah satu mantan tokoh paling berpengaruh dalam tubuh GAM ditembak pada Sabtu malam (22/7) sekitar pukul 23.00 WIB. Menurut penulis, jalan menuju konflik di Aceh telah bisa dilalui walau masih belum lancar !

Aceh telah dipermainkan pihak-pihak yang ingin meraup keuntungan jika daerah ini kembali menjadi daerah konflik.  Aceh seharusnya menjadi kuat dengan menjadi Aceh sejatinya agar tak mudah dipermainkan begini. Tidak sepantasnya tokoh-tokoh utama dalam pembangunan Aceh dapat diadu domba seperti sebuah bola yang dapat ditendang sana sini.

Sekali lagi penulis katakan bahwa kesalahan fatal Aceh adalah ketika pemerintah memaklumatkan bahwa aceh sudah normal lagi. Padahal semua orang tahu bahwa perdamaian yang terjadi di Aceh itu sangat rapuh. Damai Aceh adalah sebuah masa transisi terakhir yang tangganya masih sangat rapuh. Dimana-mana negeri yang masih rapuh, kelompok yang masih labil. Inilah sebuah affirmasi action. Jadi, Aceh tak bisa dengan serta merta didesak dengan pendekatan normal.

Memang, bagi pemerintah pernyataan normal bisa jadi semacam indikator bahwa segala persoalan di Aceh sudah dapat diselesaikan. Hal Itu hanyalah sebuah metoda statistik saja. Tetapi fakta lapangan tidak dibaca sama sekali dan Pemerintah hanya membacanya seperti peta biasa saja. Konflik baru yang akan terjadi di Aceh nantinya adalah efek dari kerapuhan pemerintahan yang telah menganggap remeh dan merasa mampu mengendalikan semuanya dengan mudah. Seharusnya Pemerintah Pusat dan Aceh tidak menganggap perawatan perdamaian di Aceh itu semudah memegang setir mobil Rubicon.

Dendam sosial yang telah  mendarah daging pasti akan membuahkan benci dan marah yang pada akhirnya membuat diri menjadi terbatas dan dibatasi. Lupa bahwa perbedaan itu adalah anugerah dari-Nya dan tidak ada yang patut disalahkan. Kapan mau naik “kelas”! Kapan Aceh ini bisa maju dan terlepas dari segala kebodohan?!

Kita berharap agar Aceh tidak memasuki masa panen konflik andai pun Pemilikada dilanjutkan sesuai tahapan yang sedang dijalankan oleh Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh. Kita akan sangat malu jika konflik kembali terjadi di Aceh. Sudah seharusnya Pemerintah Aceh, Legislatif Aceh, dan para elit politik lokal dapat menyusun langkah-langkah mengatur agar konflik yang telah ada menjalar tidak menjadi konflik yang besar seperti dulu. Konflik yang bersumber dari sikap premanisme politik dan pemaksaan kehendak sungguh tak layak terjadi di Aceh. Sekali lagi, musim panen konflik di Aceh harus kita doakan gagal karena hasil panennya akan sungguh memalukan Aceh di mata semua orang di dunia.

Tulisan ini juga dimuat di Media Online: The Globe Journal.

By Arbi Sabi Syah Posted in Politik

Aceh Tak Butuh Pemimpin Seolah-Olah


Bila definisi pemimpin saya ambil dari rumusan seorang Psikoedukasi bernama Dr. Frit Redl dalam bukunya “Group Emotion and Leadership” maka seorang pemimpin itu adalah seorang yang menjadi titik pusat yang mengintegrasikan kelompok.

Bila pengertian tersebut kita bawa ke dalam persoalan kriteria pemimpin yang dibutuhkan oleh sekelompok masyarakat maka pemimpin yang dibutuhkan adalah seseorang yang harus tahu dan mengerti dengan benar bagaimana merumuskan sebuah manajemen kepemimpinan yang baik, berdaya guna, dan berkelanjutan dalam kelompok masyarakat yang heterogen di sebuah daerah yang dipimpinnya. Dan Aceh adalah sebuah daerah yang sedang merindukan seorang sosok pemimpin yang memiliki kriteria seperti gambaran diatas. Pertanyaannya sudahkah Aceh atau akan memiliki seseorang itu?

Tulisan ini tidak bertujuan untuk membuat sebuah perbandingan terhadap para calon pemimpin (baca:Gubernur) yang akan meramaikan Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) jika pada November tahun ini dilaksanakan. Lagi pula, sejauh ini belum ada kepastian siapa saja nama-nama yang akan terlibat langsung dalam pesta demokrasi. Dan Pemilukada itu sendiri pun masih menjadi tanda tanya; apakah dilangsungkan pada Bulan November 2011 atau ditunda.

Namun, tujuan yang ditekankan tulisan ini adalah menganalisis bagaimana seharusnya pemimpin yang harus ada di Aceh agar masyarakat daerah Serambi Mekah ini merasakan nuansa berbeda dalam menjalani hidup dan kehidupannya ke depan. Sebuah hidup yang nyaman dari ancaman menjadi korban peluru nyasar atau pun tindak kekerasan dan sebuah kehidupan yang benar-benar mampu menghidupkan mereka secara fisik dan psikologis yang lebih baik dari sekarang.

Seorang pemimpin Aceh adalah seseorang yang mampu memimpin seluruh masyarakat yang ada di Aceh. Dan kapasitas pemimpin yang sedang dibutuhkan oleh seluruh rakyat Aceh adalah dia yang bertanggung jawab untuk mampu mencegah terjadinya konflik baru yang nantinya membuat masyarakat Aceh menderita. Pemimpin Aceh ke depan harus mampu menghadirkan sebuah perubahan besar bagi rakyat Aceh.

Angka kemiskinan dan pengangguran yang masih tinggi butuh keseriusan penanganannya lewat program-program yang pro rakyat. Pembangunan sarana dan prasarana publik harus benar-benar dilandasi ketulusan dan jangan setengah-setengah. Bangunan sekolah atau lembaga pendidikan, jalan dan jembatan, harusnya tidak seperti yang berlangsung selama ini. Kita butuh sarana dan prasarana yang tahan lama sehingga tidak setiap tahun anggran Pemerintah tersedot ke sektor itu saja.

Pemimpin Aceh ke depan harus mampu memanfaatkan anggaran dengan baik karena kemiskinan dan pengangguran sangat membutuhkan sebuah program yang tepat. Janji yang diucapkan dalam kampanye seharusnya direalisasikan dan tak hanya tinggal janjil. Untuk apa banyak mengeluarkan kata-kata saja tapi tak pernah berarti apa-apa ketika sudah ada di tampuk Pemerintahan?

Aceh butuh pemimpin yang benar. Pemimpin yang bertanggung jawab kepada rakyat Aceh. Jangan hanya seolah-olah orang yang jago olah saja yang bisa jadi. Pintar mengolah kata dengan memberi banyak alasan ketika satu program pun tak diimplementasikan. Aceh sudah muak dengan tipe pemimpin yang hanya bisa mengolah uang untuk kepentingan dirinya dan kelompoknya saja.

Pemimpin Aceh ke depan tahu persis bagaimana kebutuhan dasar masyarakat Aceh. Tak perlu memberikan sumbangan uang kepada beberapa orang saja karena orang-orang lain akan cemburu. Tapi berbuat baiklah untuk semua rakyat Aceh dengan memenuhi apapun yang menjadi hak mereka.

Tak perlu merumuskan program-program spektakuler yang ujung-ujungnya hanya berlabel mercu suar. Rakyat Aceh butuh benar pemimpin yang mau menjada amanah mereka, bukan pemimpin seolah-seolah pintar tapi tak tahu bagaimana mengolah program yang tepat sasaran dan mampu memaksimalkan anggaran daerah yang berlimpah.

Jika para calon pemimpin Aceh ke depan tak bisa hasilkan terobosan baru maka sebaiknya tak perlu mencalonkan diri saja. Rakyat Aceh butuh belaian kasih sayang dari pemimpinnya. Jalan dan jembatan di kampung mereka harus diperbaiki, sarana irigasi adalah kebutuhan dasar bagi petani yang tak bisa ditunda-tunda lagi, serta anak-anak Aceh butuh bangunan yang layak untuk belajar dan didukung oleh tenaga pengajar yang terampil dalam bidang mereka masing-masing.

Kondisi di Aceh sekarang menuntut adanya seorang pemimpin sejati yang tulus hati membangun Aceh agar seluruh Komponen masyarakat Aceh hidup sejahtera; jauh dari kemiskinan dan dapat bekerja sesuai dengan keahlian mereka masing-masing. Aceh harus berubah ke arah yang lebih baik lewat rumusan program pemimpin yang terpilih pada Pemilukada nantinya.

Aceh ibarat seseorang yang sedang mengalami suatu penyakit parah yang butuh pengobatan sesegera mungkin dengan penanganan yang serius. Jika si sakit dibiarkan begitu saja terbaring dengan kondisi penyakitnya yang semakin parah, maka dikhawatirkan dia tak bisa bertahan lebih lama lagi.

Oleh karena itu, mari menjadi pemimpin yang amanah, bukan pemimpin seolah-olah. Seolah-olah ada pemimpin tapi yang mencuat kepermukaan adalah hanya si Jago olah; olah kata, olah uang yang ujung-ujungnya menyulap diri menjadi sang jutawan. Rakyat Aceh ingin melihat aksi yang nyata dari pemimpin baru mereka demi kehidupan yang layak bagi generasi penerus mereka.

Tulisan ini telah dimuat di Media Online; The Globe Journal.

By Arbi Sabi Syah Posted in Politik

Jubir Partai Aceh Harus Jaga Bibir!


 

131071894732598403Ilustrasi/The Globe Journal

Membaca pernyataan Jubir PA Fakhrul Razi di Media Online The Globe Journal edisi Jum’at 17 Juli 2011 terasa aneh. Mengapa seorang Juru Bicara Partai Aceh itu mengeluarkan pernyataan seperti itu ketika Iklim Politik di Aceh sudah mulai tenang?

“Kita tidak ingin timbul konflik politik yang mengarah pada konflik horizontal, tidak ingin ada pertumpahan darah lagi untuk hanya merebutkan satu kursi gubernur dan bupati,” ungkapnya di Tower Cafe, Kamis (14/7).

Siapa yang akan berkonflik horizontal?  Apakah rakyat Aceh tahu dan mengerti semua masalah yang sedang terjadi sehingga melibatkan diri dalam ranah perebutan kekuasaan antar elit dalam tubuh PA sendiri maupun antar partai politik yang lain? Jangan selalu mengatasnamakan rakyat ketika sedang merasa terdesak dan khawatir menjadi pecundang dalam pesta demokrasi di Aceh ke depan.

Jika analisis Jubir PA itu pada kemungkinan terjadi gesekan fisik antar mereka saja itu tak membuat rakyat Aceh terlibat dalam kisruhnya, mengapa? Karena urusan kecil itu menjadi tanggung jawab internal Partai Aceh untuk mengurusnya. Jangan libatkan orang lain yang tak ngerti apa-apa.

Sebuah proses demokrasi yang baik justru lahir dari sebuah aturan yang menguntungkan banyak pihak. Bukan memaksakan keinginan sendiri dengan mencoba menggunakan gaya-gaya rezim Orde Baru dalam upaya mencapai tujuan. Jika pernyataan seperti ini; “Saya ingin katakan KIP harus merujuk pada UUPA, itu harga mati. Tidak bisa kita buat Pemilukada ketika UUPA tidak dijadikan pedoman. Kalau tidak bubarkan saja UUPA, kembali pada MoU Hensinki, kembali saja pada konflik, pisahkan saja Aceh ini selesai,” dan lalu ia mengakhirinya dengan, “kita inginkan Aceh adalah bagian dari NKRI harga mati titik.”

Dari mana dasarnya Jubir Partai Aceh menghitung komponen-komponen yaitu menolak KIP dan bubarkan UUPA, mengajak kembali ke MoU Helsinki, ingin kembali pada konflik lagi? Jika memang UUPA dibubarkan apakah tidak ada hubungannya dengan MoU Helsinki? Dan bila MoU Helsinki dipakai saya rasa kaitannya dengan mengajak konflik lagi sama sekali tak ada. Apa Anda tak akan lari ke luar Aceh jika konflik itu kembali terjadi hai sang Jubir Partai Aceh?

Aneh! Berbagai pernyataan yang dikeluarkan oleh Jubir Partai Aceh tersebut sama sekali tak memiliki dasar yang kuat. Justru kita sangat menyayangkan kalimat-kalimat itu lahir begitu mudah dari bibir seorang Jubir PA. Pada hal, suasana tenang yang telah terbangun dalam seminggu ke belakang mulai tak nyaman lagi.

Rakyat Aceh sama sekali tak ingin konflik dimunculkan oleh elit-elit yang tak bertanggung jawab seperti Jubir PA tersebut. Seharusnya saudara Jubir PA itu menenangkan publik untuk tidak khawatir akan pecahnya konflik horizontal bukan malah membuat tensi perpolitikan Aceh semakin meninggi saja. Jangan-jangan sang Jubir PA memang senang mengatur suasana agar tegang kembali?

Konflik yang telah mengecil sebenarnya tak perlu diperuncing lagi. Bila memang sepakat untuk menjaga damai terus ada di bumi Aceh sang Jubir PA sudah harus diam dan jangan mencoba menyulut api konflik itu sendiri.

Partai Aceh yang notabenenya adalah basis dari korban rezim Orde Baru seharusnya menjadi Kelompok terdepan yang membela korban yang rata-rata adalah rakyat Aceh itu sendiri. Bukan malah menggunakan cara-cara Rezim Orde Baru tersebut untuk mempertahankan atau merebut kekuasan di Aceh.

Terakhir, jika memang saudara Fakhrul Razi seorang yang bijak dan pantas menjadi Juru Bicara sebuah partai lokal terbesar di Aceh seharusnya Anda berpikir dulu sebelum mengeluarkan pendapat. Semua ini demi ketenangan rakyat Aceh. Kita semua mendukung setiap upaya positif untuk kebaikan seluruh Rakyat Aceh yang dilakukan Partai Aceh dan partai politik lainnya.

Rakyat Aceh ingin hidup nyaman di tengah keadaan ekonomi yang masih belum stabil ini. Tak baik bila menambah penderitaan rakyat Aceh dengan pernyataan-pernyataan sesat yang meresahkan. Menciptakan perdamaian itu tak mudah. Makanya, upaya mengajak kembali berkonflik karena Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sudah tak ada lagi itu sudah ketinggalah zaman!

Sudah saatnya Saudara Fakhrul Razi lebih lembut memberi pendapat karena nanti saya khawatir jika orang-orang akan nyelutuk sambil menyeruput secangkir kopi; Jubir Partai Aceh Harus Jaga Bibir![BA]

Tulisan ini juga dimuat di Media Online The Globe Journal.

By Arbi Sabi Syah Posted in Politik

Sebuah Pertanyaan Untuk Rakyat Aceh: Mengapa Harus PA?


 

1310712241332306687Ilustrasi/Google

Pertanyaan untuk judul tulisan ini membutuhkan analisis yang dalam dari sudut pandang ilmu politik dari seorang atau kelompok orang yang mengerti benar apa itu Politik. Namun, bagi Rakyat Aceh yang hanya menjadi pemilih/konsituen dalam Pemilihan Umum atau Pemilihan Kepala Daerah secara langsung rasanya pertanyaannya itu hanya butuh sedikit pertimbangan historis. Apa yang sudah dilakukan para Kader Partai Aceh (PA) yang kini duduk di bangku Legislatif Propinsi Aceh maupun mereka yang menjadi anggota Legislatif di tingkat Kabutapten/Kota.

Pertanyaan untuk judul diatas tak perlu dijawab dengan susah payah dan tak butuh analisis karena ia adalah bersifat biasa-biasa saja itu, bukan? Partai Aceh yang menjadi basis dari para mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dibentuk untuk menjadi sebuah mesin Politik Lokal menyalurkan bakat kepemimpinan di Aceh pasca penandatangan naska Kesepakatan Damai antara Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka di Helsinki, Finlandia pada 18 Agustus 2005.

Harapannya, semua mantan pejuang GAM yang kini tergabung dalam sebuah wadah yang bernama Komite Peralihan Aceh (KPA) itu belajar berpolitik untuk menjadi pemimpin masa depan di Aceh lewat jalur Pilkadasung (Pemilihan Kepala Daerah Langsung) maupun Pemilu Legislatif.

Mengapa harus PA? Mengapa pertanyaan ini muncul?  Rakyat Aceh punya alternatif menjadikan Partai Aceh sebagai tumpuan bagi kelanjutan Pembangunan Aceh ke depan. Ini adalah sebuah harapan sejak Partai Lokal ini dibentuk. Dan hasilnya, banyak sekali Anggota Legislatif di Kabupaten/Kota hingga Propinsi berasal dari PA sekarang ini. Mereka berhasil memenangkan proses demokrasi yang dihelat pada tahun 2009 lalu di Aceh.

Namun, PA yang didirikan oleh Malik Mahmud dan Muzakir Manaf pada 7 Juli 2007 tersebut sejauh ini masih belum mampu menunjukkan kinerja yang baik sesuai harapan seluruh Masyarakat Aceh. Atas dasar inilah sebuah pertanyaan muncul, “Mengapa Harus PA?”.

Apakah tak ada partai politik lain yang mampu mengakomodasikan keinginan Rakyat Aceh?  Bila merujuk pada apa keinginan PA yang ingin menjadikan Parlok ini sebagai partai pemilik perjuangan di Aceh untuk perubahan nasib masyarakat Aceh dan bertanggung jawab menjalankan amanah MoU Helsinki dan menyempurnakan Undang-Undang Pemerintah Aceh yang telah disahkan oleh DPR RI pada 11 Juli 2006, maka PARTAI ACEH perlu bekerja lebih keras untuk memberi bukti. Bukan hanya janji tertulis maupun dilontarkan secara lisan saja.

Pertanyaan susulan tentu bisa dimunculkan dengan sendirinya seperti, mengapa harus PA jika ada Partai Politik lainnya yang lebih mampu mengangkat derajat hidup orang Aceh? Jika PA berpikir bahwa sekarang saatnya para pejuang Aceh (GAM) mengabdi diri sebagai fungsionaris partai dan seluruh rakyat Aceh yang dengan berbesar hati telah bisa meninggalkan perjuangan bersenjata dan menukar dengan Demokrasi, sehingga hari ini bukan diam menunggu hasil, rakyat Aceh harus bangkit bersatu-padu berpartisispasi untuk perjuangan masa depan Aceh dan perdamaian. Maka pertanyaannya selanjutnya adalah sudah seberapa jauh Anggota Legislatif dari Partai Aceh ini memberla kepentingan Rakyat Aceh?

Sebagai konstituen yang cerdas kita pasti bisa menentukan mana Partai Politik yang tepat yang mampu memperjuangkan keinginan kita semua dengan tulus. Tanpa ada keinginan menghujat dan memperbandingkan Partai Aceh sebagai salah satu Partai Lokal di Aceh Penulis dan semua rakyat Aceh tentu ingin melihat sebuah bukti yang pantas sebagai jawaban atas pertanyaan, “Mengapa harus PA?”

Harapan besar rakyat Aceh ke depan adalah melihat dan menikmati pembangunan Aceh yang lebih baik secara fisik dan non-fisik. Kita semua butuh sekolah yang memiliki bangunan yang layak dengan tenaga pengajarnya yang profesional. Semua rakyat Aceh yang tinggal di pedalaman Aceh butuh akses yang lebih mudah untuk menjual hasil pertanian/perkebunannya ke kota. Tentu jalan-jalan dan jembatan haruslah diperbaiki agar mudah dilalui.

Jika PA tak mampu melakukan itu, maka rakyat Aceh harus mencari Parpol lain sebagai alternatifnya. Jika terus saja memaksakan dan dipaksa memilihi Partai Aceh, maka sebuah pertanyaan untuk rakyat Aceh, “Mengapa Harus PA?”

NB: Tulisan ini juga dimuat dimuat di Media Online; The Globe Journal.

By Arbi Sabi Syah Posted in Politik