Akulah Malammu


Kuingin menjadi malam untukmu. Setiap malam bersamamu. Menjadi selimut bagi semua yang kau miliki. Kuingin penuhi keinginanmu. Apapun!

Kuingat dirimu setiap saat. Tak sedetik pun ingin kulewatkan tanpa tidak mengingatmu. Aku ingin kau tersenyum indah. Selalu tersenyum lepas karena aku kan ada untukmu, hanya untukmu; bukan yang lain!

Tak perlu kau minta pembuktian yang terlalu besar. Bukankah perhatianku untukmu kapan pun yang kau butuhkan selalu ada? Diriku ingin jadi malam untukmu. Biarkan bulan dan bintang dengan segala pesonanya walau tak seterang mentari di pagi hari, tapi itulah aku! Ada dan pasti datang untukmu.

Aku adalah malam yang tetap sama menemanimu. Kepedihanmu akan kuhapus dan tak menyisakan sedikitpun nodanya. Cinta yang kau berikan akan selalu ada, kusimpan dan kuawetkan. Tak perlu khawatirkan ia akan pergi. Tak akan, dan tak pernah hilang sedikitpun rasaku padamu.

Hatimu ingin kusejukkan. Kuingin buat dirimu senang karena telah kuhibur dengan kehadiranku setiap saat. Dirimu adalah kebahagian bagiku. Kesepian pun kan datang tanpamu.

Begitulah diriku, bagaimana dirimu?

Anakku, Pejabat dan Politisi Bangsa Kita Memang Bejat!


Anakku, malam telah larut. Tidurlah. Kamu harus beristirahat. Besok pagi kamu harus segera memasuki penjara yang bernama sekolah. Jangan risaukan masalah belanja dan biayamu selama setengah hari dikau berada di dalam penjara itu. Ayahmu akan bekerja mati-matian membersihkan kebun milik tetangga kita setiap hari demimu. Bangsamu. Ya, bangsa dari ayah dan ibumu juga adalah bangsa yang kaya tapi melarat rakyatnya. Kau ingin tahu kenapa? Baiklah anakku sayang, beri waktu untukku seper empat jam saja karena aku akan ninakbobokan kamu dengan cerita tentang penyebab bangsa tempat dirimu dilahirkan ini sebentar lagi bangkrut!

Anakku, mungkin kau belum akrab dengan kata “pejabat” dan “politisi”. Namun, jangan terlalu ingin tahu tentang mereka. Tak penting untuk anak seusiamu mencari tahu. Tak perlu kau tanyakan pada “sipirmu” esok hari. Merekalah yang menyebabkan bangsa ini melarat. Pejabat dan Politisi adalah dua komponen penting yang sama-sama bejat mengantarkan bangsamu ke puncak kemelaratan seperti sekarang. Biaya pendidikanmu di penjara itu terlalu mahal! Kata sipirmu bangsa ini sangat kaya, kan?!? Tapi, mengapa banyak orang tak punya rumah dan tak tahu harus cari uang kemana setiap harinya. Pejabat dan Politisi itu telah merenggut hak orang-orang yang tinggal di negeri ini. Mereka sangat bejat anakku. Sangat bejat! Ayahmu berkata benar. Percayalah!

Anakku yang hebat, pejamkan matamu sekarang. Esok pagi dirimu harus bangun cepat, ya?! Jangan lupa berdoa. Selamat tidur. Muuaccchhhhh

*Puisi ini terinspirasi dari karya saudara saya; Dian Kelana.

Romantisme Cinta Segitiga


Lindaku tersayang, sudah berhari-hari tak kudengar kabarmu setelah malam itu kunikmati indahnya dua matamu. Kini, kau kurindukan sepanjang malam. Sungguh sebuah kerinduan yang nyata, bukan kubuat-buat. Kuharap esok hari ku dapat melihat dirimu melintasi beranda rumahku seperti hari pertama mataku mengenal matamu yang menurutku tak ada bandinganya.

Ulfaku yang lugu, meskipun tadi sore matahari enggan bersinar. Tapi, percayalah bahwa sebenarnya ia adalah penolong untuk semua keindahan yang kita nikmati berdua. Tak ada gangguan dari apapun. Mungkinkah minggu depan kita bertemu lagi pada tempat sama dan kita ubah jadwalnya lebih cepat?

Linda dan Ulfa, kalian berdua telah menjadi bagian dari romantisme cinta segitigaku. Tak ada agenda itu sebelumnya dalam kisah cintaku karena awalnya kalian sungguh tak kuharapkan datang mengisi hari-hariku yang begitu sepi. Mengapa kalian datang bersamaan ketika diriku hanya butuh satu cinta?

Wahai Lindah dan Ulfa tercinta, bagiku tak ada kata mendua. Doakan agar aku mampu secepatnya menjatuhkan pilihan. Sulit? Tentu saja. Karena kalian berdua memang pantas dipilih oleh lelaki manapun. Keindahan dan kelembutan yang kalian punya mungkin sudah langka. Entahlah!

Sekarang, aku hanya bisa berdoa agar Tuhan tak menghukumku bila aku harus memilih salah satu dari kalian. Semoga.

Salam Cinta dariku yang kini tak bisa memejamkan mata.

Menjelang Kematian


Detik-detik setelah ini kuhitung perlahan
Hingga nanti menjelang pagi
Aku kian dekat dengan kematian

Kukenang masa lalu yang meninggalkan sejuta kisah
Indahnya cinta dengan semua kata dan aroma lazimnya
Nikmatnya kerja dengan konpensasi yang tak terhingga
Teman-teman dan handai taulan yang baik juga bijakasana

Menjelang kematian ini
Aku akan meninggalkan kalian
Kumohon maaf atas segala khilaf dan salahku
Semoga doa-doa kalian menyertaiku tulus menghadap-Nya

Banda Aceh, 31 Januari 2009

Aku Telanjang Dalam Kamar Kaca


Ilustrasi/Google: Black and White.Dalam kamar kaca itu kini aku ada
Telah kubuka semua penutup tubuhku
Kucopot semunya hingga tak satu pun perlu mencomotnya

Aku telanjang bukan tanpa sebab
Tubuhku nyaman tanpa sekat
Aku tak tahu sampai kapan ada dalam kamar kaca ini
Mungkin sampai seseorang datang membawaku pergi ke suatu tempat

Aku telanjang dalam kamar kaca
Datanglah hai tukang pemasung raga
Tempatkan aku di kamar lain bersama jiwa-jiwa tersekat
Aku bosan sendirian tanpa busana disini

Banda Aceh, 30 Januari 2010

Lautan Cinta


Lautan Cinta terhampar biru mengombak
Asin dimaniskan cinta sejati dalam sekejab
Menyemburkan asa dan meluluhlantakkan kecewa
Harap untuk sirna tak kan pernah ada

Biru lautan itu sosok tanpa haru
Ganasnya gelombang tanda gejolak rindu
Dan deruan angin bukanlah badai
Andai engkau dan aku satu dalam biduk cinta

Kata-katamu ingin kudengar tanpa samar
Merebak dalam naluri dan melancarkan darahku
Ibarat lautan langkahku tak gontai ke arahmu
Menjemput jiwamu untuk kubawa kesisiku

Banda Aceh, 26 Januari 2010

Suatu Malam di Sudut Utara Kutaraja


Suatu malam di utara Kutaradja…. Aku datang padamu bersama sekuntum mawar putih tanpa duri dan hatimu luluh karenanya. Aku dan dirimu tergoda hasrat yang sama walau masih dalam bingkai yang berbeda.

Suatu malam di utara Kutaradja…. Aku datang padamu dengan sebuah cinta seluas sahara dan kuyakinkan dirimu bahwa hamparan cintaku telah berkarang. Aku dan dirimu tergoda memanjat tingginya tebing cinta itu.

Suatu malam di Utara Kutaradja……Aku tawarkan padamu sebuah istana megah bertahtakan cinta dan kita berdua berjalan diatas karpet merah jingga. Jiwaku dan jiwamu seketika berdampingan diiringi syahdunya alunan indah sang Diva.

Suatu malam di utara Kutaradja…..Aku tak pernah bisa lupa pada senyuman manismu dengan bauran tatapan penuh pesona. Aku dan dirimu akan menghiasi istana cinta itu dengan kesucian, ketulusan, dan berujung pada keabadian rasa!

Dan kuingin setiap malam di utara kutaradja…..Aku dapat melihat setiap jengkal indahmu dan kusentuh semauku sampai subuh menjelang. Aku dan dirimu menantikan malam itu datang dengan balutan selimut putih berlebelkan HALAL!

Banda Aceh, 23 Januari 2010

Jilbab Merah Tua


Bergerak dihembus angin
Melambai-lambai perlahan
Mengesankan keanggunan
Menggontaikan nadi dan mengoyak serat jiwa

Sepotong jilbab merah tua berendakan emas
Berlambangkan keanggunan
Tak ada syahwat jika dipandang
Semoga, ia bertahta dalam syurga

Banda Aceh, 22 Januari 2010

Ada Apa Dengan Hatiku?


Hatiku terpenjara dalam jeruji karang tertutup
Menangisi dirimu dalam bayang masa lalu
Meninggalkan harapan mahligai cinta
Meruntuhkan tahta dalam istana impian

Hatiku melepuh dalam bara cintamu
Terpanggang hingga usang oleh waktu
Terbelenggu karena pesona mahkotamu
Terjerat ketidakmampuan jiwa ragaku

Hatiku seakan terjerambab gua gelap yang kau buat
Mengikat ketat tubuhku dengan tali kebencian
Ada apa sesungguhnya dengan hatiku?
Apakah ia terlanjur kutambat tepat hanya untukmu?

Banda Aceh, 19 Januari 2010