risman a rachman

Politik, sejatinya adalah keterbukaan, bahkan “ketelanjangan.”

Tidak ada yang tersembunyi, apalagi sengaja disembunyikan.

Jika saja politik itu manusia, maka politik adalah “makhluk paling seksi,” mengalahkan keseksian manusia.

Begitu seksinya, pikiran dan tindakan politik, senantiasa terdedah, dan siapapun bisa merasakan, kehadirannya.

Bahkan, niat politik pun bisa diendus sebelum kemunculannya. Semua itu karena memang politik tidak memiliki aurat. Jika pun ada maka aurat politik tidak berjenis kelamin.

Jadi, tidak heran manakala ada banyak orgasme politik yang terjadi, justru sebelum “senggama” politik berlangsung. Beberapa ada yang mengalami puncak klimak, sepanjang waktu.

Sebaliknya, ada banyak juga yang tidak merasakan apa-apa, hingga usai senggama politik 5 tahunan.

Begitulah. Di ruang demokrasi, politik, hadir dan hinggap di ruang pikiran dan hati, secara telanjang, tanpa aurat, dan karena itu tidak perlu UU Pornografi dan Pornoaksi Politik.

Rakyat, dengan kemampuan mata ketiganya, bisa langsung menentukan sikap, menghukum, bergabung, atau “mempelacuri” politisi, atau politik itu sendiri. Di awal kekuasaan…

Lihat pos aslinya 298 kata lagi

Iklan
By Arbi Sabi Syah Posted in Fiksi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s