Perpisahan itu Mengiris Hatiku


Kuingin ceritakan padamu tentang bagaimana persisnya detik-detik perpisahan kita. Sebuah perpisahan yang sebenarnya adalah ulah dari kreativitasmu.  Kukatakan begitu karena caramu memutuskan hubungan itu sungguh berbeda. Unik! Kau utus seseorang mengantarkan sepucuk surat. warnya ungu. Aku masih ingat wanginya, namun aku benci warna ungu. Kamu tahu persis bahwa aku tak suka warna itu. Aku benci segala hal yang berwarna ungu, berbau ungu, dan orang yang berbaju ungu pun aku tak sudi menatapnya. Kau tahu kenapa ungu adalah warna yang paling kubenci di dunia. Dan, lengkaplah kebencian itu ketika suratmu yang ungu itu kuterima. Tanpa kubaca pun diriku tahu persis apa yang tertulis di dalam lembaran yang dibungkus oleh warna kutukan itu.

Kau memang wanita yang unik. Sosokmu menarik dengan kulit putih mulus, berhidung mancung, dan rambutmu lurus, hitam berkilau keemasan. Wanita sepertimu begitu langka. Bahkan televisi pun sulit menemukan sosok sepertimu untuk bisa dijual kepada semua penikmatnya. Dan aku dianggap normal dan wajar mencintaimu oleh banyak orang.

Oh ya, aku hampir lupa mengatakan apa yang terjadi selanjutnya setelah suratmu kubuka? Aku membacanya berulang kali. Seakan aku tak percaya bahwa semua kata-kata itu kau tuliskan khusus untukku. Dan itu kuanggap sebuah skenario luar biasa yang kau susun untukku. Kau, memainkan sandiwara yang sepantasnya tak melibatkan diriku; seorang lelaki paling setia di dunia!??

Suratmu yang singkat namun berakibat sangat membahayakan itu masih kusimpan hingga kini. Masih ingatkah pada apa yang kau tuliskan dalam surat itu? Aku yakin dirimu telah lupakan itu. Namun, aku ingin menuliskan kembali isi suratmu itu disini. Biarlah dunia tahu bahwa betapa suratmu sangat singkat, padat, dan jelas tegas!

“Sayang, kurasa kita harus berpisah mulai sekarang. Kau tahu kenapa? Tentu kau masih ingat seorang pria yang dulu kuceritakan padamu, dia ingin dijodohkan denganku. Kemarin siang, dia datang ke rumahku bersama orang tuanya. Tahukah kamu apa yang kurasakan? Aku mencintainya. Dan kami akan segera menikah, tepatnya bulan depan. Kuharap kamu datang ke pernikahan kami. Nanti kukirimkan undangan, ya? Maafkan aku,

Ulfamu!”

Lirik lagu “Perpisahan” (Bob Rezal)

Kudengar lembut senandung pilu, seakan mengiris hati kecilku, kugenggam erat suratmu itu, sebagai pertanda berakhirnya cinta; antara kau dan aku.

Reef: Apalah arti hidupku lagi, bila kau tiada di sisiku, bagaikan pantai tak bergelora, aku terbiar sepi.

Inikah utusanmu, hingga perpisahan kau pinta, lupakan kasih sayang.

Kusadar kini, cintamu itu hanyalah sandiwara, namun sesalan mengapa dulu kau cintakan diriku.

**Lagunya disini. Dan baca yang ini!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s