Memori Pilu Berpisah dengan Ulfa


“Sayang, jaga baik-baik kaset itu, ya? Cinta kita berawal dari sana,dalam lagu itulah kita ada. Dan hanya kita berdua yang bisa rasakan semua keindahanya. Salam cinta. -Ulfa.”

Singkat dan bermakna padat. Itu kesanku membaca tulisan Ulfa yang ditulisnya pada bagian dalam sampul kaset yang berisi lagu-lagu sebuah soundtrack Film India terkenal awal tahun 2000-an. Lagu-lagu itu memberikan semangat dan harapan bagi aku dan Ulfa. Impian untuk hidup bersama ketika hubungan cinta baru dimulai selalu indah dibayangkan semua pasangan. Ketika semua kebersamaan itu harus diakhiri sementara karena beberapa alasan penting sekalipun! Namun,cinta tak akan menjadi hambatan meskipun jarak yang memisahkan tak sanggup ditempuh dengan kekuatan fisik. Karena, kekuatan yang ditimbulkan oleh cinta begitu besar dan meyakinkan kepada pelakunya untuk terus bertahan dalam membina hubungaan hingga keduanya bersatu dalam bingkai bernama “rumah tangga”.

Begitulah gambaran yang kualami bersama Ulfa selusin tahun yang lalu. Lama!? Tentu! Dan semua seperti baru kualami seminggu yang lalu. Setidaknya, bagiku. Aku tak tahu apa yang dirasakan Ulfa sekarang. Dan aku tak pernah mau tahu. Sekarang bukanlah waktu yang pantas membahas banyak hal tentang masa lalu, ya?! Benar! Sungguh tak layak memperbincangkan kenangan-kenangan seindah apapun dengan mantan pacar yang rentang waktu kejadiannya mampu melahirkan jutaan generasi baru umat manusia berumur balita. Sangat tak patut mengungkapkan perasaan-perasaan masa lalu kita kepada siapapun. Dan ini bukanlah tujuanku; sama sekali bukan. Ibarat pepatah, “nasi telah menjadi bubur”. Untuk apa berkubang dalam pahitnya masa lalu dalam hubungan cinta, jika sekarang kita telah berumah tangga dengan orang yang cintai???

Memori pilu berpisah dengan Ulfa adalah serangkaian kisah masa lalu yang telah menjadi hal kecil yang berlalu terlalu jauh. Buku harian lama yang sudah dilenyapkan oleh ganasnya bencana perasaan bernama tsunami cinta tak lagi logis dibagi-bagikan kepada orang lain. Bukankah buku harian yang kini kita miliki sudah berisikan kisah-kisah baru yang “pasti” jauh lebih menarik? Dan itulah modal dasar menjalani masa depan. Bagiku, Ulfa telah menjadi orang lain. Belum pernah kunikmati tatapan dua bola mata indahnya sekalipun sejak berpisah dua belas tahun yang lalu. Pada hal, janji menjelang perpisahan adalah perkawinan! Terlalu sakit jika harus membayangkannya karena itulah hari terakhir bagi kami bertemu dalam status ‘dua orang yang sangat mencintai”.

Itukan dulu? Betul! Itu dulu! Dan sekarang, aku telah maafkan Ulfa setulus hatiku. Tak ada kebencian untuknya meskipun ketika kepiluan dengannya kurasakan, diriku sempat melakukan pelarian yang membingungkan kala itu. Ya, aku tak tahu dimana harus bersembunyi dari kejaran bayang-bayang Ulfa yang menurutku begitu menarik.

Ah, untuk apa menyemai kembali benih cinta masa lalu. Lebih baik kunikmati cinta yang kini kumiliki. Karena, aku paham pada sebuah ungkapan, yakni; “jika engkau tak dapati orang yang kamu cintai, maka cintailah orang yang kini bersamamu.”

Sekian!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s