Waspada Terhadap Ancaman Bencana di Kota Banda Aceh


BENCANA adalah sesuatu yang harus dihindari oleh manusia. Ia akan berdampak besar karena mengancam kelangsungan hidup manusia itu sendiri. Gempa dahsyat yang terjadi pada Minggu, 26 Desember 2004 lalu adalah contoh bencana yang memakan korban nyawa manusia yang sangat banyak serta lingkungan tempat tinggal pun luluh lantak.

Bencana alam tersebut bisa datang dengan cepat karena kerusakan lingkungan dan juga kesalahan tata ruang di sebuah wilayah. Lingkungan hidup dapat rusak karena perilaku manusia itu sendiri. Penebangan hutan secara liar dan mengabaikan kaidah-kaidah penyelamatan lingkungan akan merusak ekosistem hutan yang akibatnya adalah banjir besar. Lingkungan juga dapat berantakan karena pemukiman penduduk yang kumuh dan bangunan-bangunan liar yang dibangun tanpa analisis bahayanya terhadap lingkungan. Tata ruang yang tidak profesional dan amburadul dan tidak menyisakan lahan kosong tentu saja membuat air hujan sulit terserap ke dalam tanah.

Program penanggulangan bencana sudah banyak diimplementasikan di Propinsi Aceh oleh beberapa Lembaga Non-Pemerintah baik dari luar negeri maupun lokal. Semua kegiatan tersebut adalah untuk mengurangi resiko ketika bencana itu datang. Namun demikian, apapun langkah persiapan yang kita lakukan akan tidak berarti apa-apa bila tak ada upaya preventif terhadap kerusakan hutan, bantaran sungai, dan kawasan pemukiman jejadian yang ada di wilayah Aceh umumnya dan Kota Banda Aceh khususnya.

Kota Banda Aceh telah berkembang pesat seiring proses rehabilitasi dan rekonstruksi yang dilakukan pasca bencana tsunami. Ada banyak bangunan baru dengan rancangan modern yang terdiri dari gedung/kantor pemerintahan dan pertokoan, sekolah-sekolah baru bertaraf International, serta jalan raya dan jembatan baru telah dibangun di Ibu Kota wilayah Aceh ini. Semua orang yang datang ke kota ini dapat menyaksikan sesuatu yang beda dari perkembangan Banda Aceh dibandingkan sebelum becana tsunami datang menyapa. Kini banda Aceh sudah cantik dan menarik untuk ditinggali. Ya, secara fisik Kota Banda Aceh telah kelihatan asri dengan rimbunnya pepohonan di beberapa taman kota dan sepanjang jalan raya. Dan sudah barang tentu Walikota dan segenap jajarannya merasa bangga atas keberhasilannya mengurus Kota Banda Aceh.

Namun, keberhasilan secara fisik Kota Banda Aceh tersebut tidak diimbangi oleh kondiisi psikologisnya yang cenderung sangat muram. Bangunan rumah toko di kota Banda Aceh tidak dibangun dengan penataan yang baik. Sepertinya, pemetaan kawasan rawan bencana di Kota Banda Aceh belum disiaplan sepenuhnya. Pada hal, bangunan yang mengundang konsentrasi massa harus dibangun dengan konstruksi tahan gempa bumi sesuai dengan daya dukung tanah masing-masing. Semua bangunan harus dilengkapi dengan jalur evakuasi.
Gempa yang sangat kuat yang kemudian disusul oleh bencana tsunami yang begitu dahsyat memang telah berlalu hampir tujuh tahun yang lalu. Kita tak pernah berharap bencana serupa itu terulang lagi dan memakan banyak korban jiwa di Aceh. Hanya saja, mitigasi tsunami benar-benar harus dijalankan dengan benar dan serius. Selama ini, Pemerintah Kota Banda Aceh terkesan menyepelekan masalah tersebut. Pembangungan di kawasan rawan bencana seperti tsunami dan banjir (pantai landai dan teluk yang berhadapan langsung dengan ancaman tsunami) harusnya tidak dilakukan.

Memang, Pemerintah Kota (Pemkot) sudah membuat jalur-jalur hijau di dalam Kota.Pepohonan sudah banyak ditanami juga di pinggir dan trotoar jalan kota. Akan tetapi, pemkot tidak membangun jalur evakuasi dan pelatihan. Hanya ada “arah menuju jalur evakuasi” saja di jalan-jalan yang dalam permukiman kota Banda Aceh. Dan Gedung penyelamatan (Escape Building) yang ada di Kota Banda Aceh perlu dijaga/dirawat agar saat pemanfaatannya tiba benar-benar bisa digunakan oleh warga Kota Banda Aceh sebagai tempat perlindungan dari bahaya bencana. Pihak Pemkot Banda Aceh harus menjadwalkan ulang secara profesional dan penuh tanggung jawab sosialisasi tentang fungsi dan pemanfaatan gedung tersebut. Ini penting untuk menghindari kebingungan masyarakat untuk menyelamatkan diri bila bendana Tsunami kembali melanda Kota Banda Aceh. Hal ini penting untuk meminimalisir banyaknya korban jiwa.

Bencana seperti gempa bumi adalah jenis bencana yang tidak dapat dihilangkan dan tidak dapat dihindarkan karena sumber gempa bumi itu sendiri. Manusia hanya dapat menyesuaikan diri dengan kondisi alam dan mempersiapkan diri menghadapinya. Dalam hal ini peran pemerintah Kota Banda Aceh sangat penting melindungi warganya bila musibah ini terjadi.

Namun, adakah bencana yang akan menghampiri dalam beberapa tahun mendatang karena kesalahan proses pembangungan di kota Banda Aceh?

Warga Kota Banda Aceh yang bermukim di sepanjang garis pantai dari Kecamatan Syiah Kuala sampai Meuraxa itu rata-rata mendiami rumah bantuan yang dibangun Lembaga Asing (baca;NGO). Namun, kualitas bangunannya banyak yang tidak memadai, serta fasilitas infrastruktur yang masih belum tersedia. Masih ada rumah-rumah yang belum mempunyai septik tank, air minum dan jalan. Kenyataan seperti itu masih bisa ditemukan di lapangan karena rumah yang dibangun NGO baik lokal maupun internasional biasanya tak memiliki kualitas sama sekali. Fenomena ini akan sangat membahayakan bila gempa bumi tiba-tiba terjadi. Kepanikan warga jelas akan menimbulkan korban jiwa. Belum lagi, bila ombak pasang yang tinggi datang melanda. Walau pun bebatuan besar pemecah ombak sudah ada di sepanjang pantai, namun perlu diwaspadai dan antisipasi musibah besar yang mungkin ditimbulkannya nanti.

Batu-batu pemecah ombak tersebut memberikan ancaman bencana yang besar juga untuk warga Banda Aceh yang tinggal di dekat pantai. Batu pemecah ombak yang dibangun BRR Aceh-Nias dalam proses rehab-rekon Aceh pasca tsunami itu tak akan bisa selamanya memberikan perlindungan bagi warga. Abrasi masih bisa terjadi perlahan-perlahan setiap hari. Ketika pasir-pasir yang ada di bawah batu tersebut terkikis dan menyebabkan turunnya batu-batu itu ke bawah. Lama-kelamaan semua batu-batu pemecah ombak itu akan tenggelam. Bukankah bahaya sedang mengintai warga Banda Aceh yang bermukim disana?

Peran Walikota

Walikota Banda Aceh dan jajarannya harus serius melakukan pembenahan dan revolusi birokrasi di lingkungan pemerintahannya terkait izin mendirikan bangunan. Lahan resapan air bila hujan turun akan semakin berkurang jika pemkot Banda Aceh masih bertahan dengan sistem birokrasi yang masih berkembang. Sebagai masyarakat yang baik tentu kita semua diharapkan mau mendukung, dan secarabersama-sama mengambil peran dan tanggung jawab memelihara, menjaga dan melanjutkan program kesiapsiagaan bencana yang telah di dapatkan dari lembaga-lembaga non-pemerintah dulu.

Program pengurangan resiko bencana tersebut penting diadopsi sebagai program kerja utama yang akan diterapkan oleh Walikota Banda Aceh dalam lima tahun ke depan. Bila Banda Aceh terus berbenah dengan bangungan tokonya saja tanpa mengindahkan resiko bencana yang akan terjadi di masa depan, maka warga Banda Aceh harus selalu siap pada bencana banjir karena hujan lebat dan naiknya air laut karena gelombang pasang yang tinggi. Semoga saja walikota Banda Aceh yang baru memiliki program jitu untuk menghadapi ancaman bencana yang mungkin melanda Kota paling ujung dari Pulau Sumatra tersebut.

***Tulisan ini telah dimuat di Majalah Tanah Rencong terbitan WALHI Aceh.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s