Aceh Tak Butuh Pemimpin Seolah-Olah


Bila definisi pemimpin saya ambil dari rumusan seorang Psikoedukasi bernama Dr. Frit Redl dalam bukunya “Group Emotion and Leadership” maka seorang pemimpin itu adalah seorang yang menjadi titik pusat yang mengintegrasikan kelompok.

Bila pengertian tersebut kita bawa ke dalam persoalan kriteria pemimpin yang dibutuhkan oleh sekelompok masyarakat maka pemimpin yang dibutuhkan adalah seseorang yang harus tahu dan mengerti dengan benar bagaimana merumuskan sebuah manajemen kepemimpinan yang baik, berdaya guna, dan berkelanjutan dalam kelompok masyarakat yang heterogen di sebuah daerah yang dipimpinnya. Dan Aceh adalah sebuah daerah yang sedang merindukan seorang sosok pemimpin yang memiliki kriteria seperti gambaran diatas. Pertanyaannya sudahkah Aceh atau akan memiliki seseorang itu?

Tulisan ini tidak bertujuan untuk membuat sebuah perbandingan terhadap para calon pemimpin (baca:Gubernur) yang akan meramaikan Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) jika pada November tahun ini dilaksanakan. Lagi pula, sejauh ini belum ada kepastian siapa saja nama-nama yang akan terlibat langsung dalam pesta demokrasi. Dan Pemilukada itu sendiri pun masih menjadi tanda tanya; apakah dilangsungkan pada Bulan November 2011 atau ditunda.

Namun, tujuan yang ditekankan tulisan ini adalah menganalisis bagaimana seharusnya pemimpin yang harus ada di Aceh agar masyarakat daerah Serambi Mekah ini merasakan nuansa berbeda dalam menjalani hidup dan kehidupannya ke depan. Sebuah hidup yang nyaman dari ancaman menjadi korban peluru nyasar atau pun tindak kekerasan dan sebuah kehidupan yang benar-benar mampu menghidupkan mereka secara fisik dan psikologis yang lebih baik dari sekarang.

Seorang pemimpin Aceh adalah seseorang yang mampu memimpin seluruh masyarakat yang ada di Aceh. Dan kapasitas pemimpin yang sedang dibutuhkan oleh seluruh rakyat Aceh adalah dia yang bertanggung jawab untuk mampu mencegah terjadinya konflik baru yang nantinya membuat masyarakat Aceh menderita. Pemimpin Aceh ke depan harus mampu menghadirkan sebuah perubahan besar bagi rakyat Aceh.

Angka kemiskinan dan pengangguran yang masih tinggi butuh keseriusan penanganannya lewat program-program yang pro rakyat. Pembangunan sarana dan prasarana publik harus benar-benar dilandasi ketulusan dan jangan setengah-setengah. Bangunan sekolah atau lembaga pendidikan, jalan dan jembatan, harusnya tidak seperti yang berlangsung selama ini. Kita butuh sarana dan prasarana yang tahan lama sehingga tidak setiap tahun anggran Pemerintah tersedot ke sektor itu saja.

Pemimpin Aceh ke depan harus mampu memanfaatkan anggaran dengan baik karena kemiskinan dan pengangguran sangat membutuhkan sebuah program yang tepat. Janji yang diucapkan dalam kampanye seharusnya direalisasikan dan tak hanya tinggal janjil. Untuk apa banyak mengeluarkan kata-kata saja tapi tak pernah berarti apa-apa ketika sudah ada di tampuk Pemerintahan?

Aceh butuh pemimpin yang benar. Pemimpin yang bertanggung jawab kepada rakyat Aceh. Jangan hanya seolah-olah orang yang jago olah saja yang bisa jadi. Pintar mengolah kata dengan memberi banyak alasan ketika satu program pun tak diimplementasikan. Aceh sudah muak dengan tipe pemimpin yang hanya bisa mengolah uang untuk kepentingan dirinya dan kelompoknya saja.

Pemimpin Aceh ke depan tahu persis bagaimana kebutuhan dasar masyarakat Aceh. Tak perlu memberikan sumbangan uang kepada beberapa orang saja karena orang-orang lain akan cemburu. Tapi berbuat baiklah untuk semua rakyat Aceh dengan memenuhi apapun yang menjadi hak mereka.

Tak perlu merumuskan program-program spektakuler yang ujung-ujungnya hanya berlabel mercu suar. Rakyat Aceh butuh benar pemimpin yang mau menjada amanah mereka, bukan pemimpin seolah-seolah pintar tapi tak tahu bagaimana mengolah program yang tepat sasaran dan mampu memaksimalkan anggaran daerah yang berlimpah.

Jika para calon pemimpin Aceh ke depan tak bisa hasilkan terobosan baru maka sebaiknya tak perlu mencalonkan diri saja. Rakyat Aceh butuh belaian kasih sayang dari pemimpinnya. Jalan dan jembatan di kampung mereka harus diperbaiki, sarana irigasi adalah kebutuhan dasar bagi petani yang tak bisa ditunda-tunda lagi, serta anak-anak Aceh butuh bangunan yang layak untuk belajar dan didukung oleh tenaga pengajar yang terampil dalam bidang mereka masing-masing.

Kondisi di Aceh sekarang menuntut adanya seorang pemimpin sejati yang tulus hati membangun Aceh agar seluruh Komponen masyarakat Aceh hidup sejahtera; jauh dari kemiskinan dan dapat bekerja sesuai dengan keahlian mereka masing-masing. Aceh harus berubah ke arah yang lebih baik lewat rumusan program pemimpin yang terpilih pada Pemilukada nantinya.

Aceh ibarat seseorang yang sedang mengalami suatu penyakit parah yang butuh pengobatan sesegera mungkin dengan penanganan yang serius. Jika si sakit dibiarkan begitu saja terbaring dengan kondisi penyakitnya yang semakin parah, maka dikhawatirkan dia tak bisa bertahan lebih lama lagi.

Oleh karena itu, mari menjadi pemimpin yang amanah, bukan pemimpin seolah-olah. Seolah-olah ada pemimpin tapi yang mencuat kepermukaan adalah hanya si Jago olah; olah kata, olah uang yang ujung-ujungnya menyulap diri menjadi sang jutawan. Rakyat Aceh ingin melihat aksi yang nyata dari pemimpin baru mereka demi kehidupan yang layak bagi generasi penerus mereka.

Tulisan ini telah dimuat di Media Online; The Globe Journal.

Iklan
By Arbi Sabi Syah Posted in Politik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s