Sebuah Pertanyaan Untuk Rakyat Aceh: Mengapa Harus PA?


 

1310712241332306687Ilustrasi/Google

Pertanyaan untuk judul tulisan ini membutuhkan analisis yang dalam dari sudut pandang ilmu politik dari seorang atau kelompok orang yang mengerti benar apa itu Politik. Namun, bagi Rakyat Aceh yang hanya menjadi pemilih/konsituen dalam Pemilihan Umum atau Pemilihan Kepala Daerah secara langsung rasanya pertanyaannya itu hanya butuh sedikit pertimbangan historis. Apa yang sudah dilakukan para Kader Partai Aceh (PA) yang kini duduk di bangku Legislatif Propinsi Aceh maupun mereka yang menjadi anggota Legislatif di tingkat Kabutapten/Kota.

Pertanyaan untuk judul diatas tak perlu dijawab dengan susah payah dan tak butuh analisis karena ia adalah bersifat biasa-biasa saja itu, bukan? Partai Aceh yang menjadi basis dari para mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dibentuk untuk menjadi sebuah mesin Politik Lokal menyalurkan bakat kepemimpinan di Aceh pasca penandatangan naska Kesepakatan Damai antara Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka di Helsinki, Finlandia pada 18 Agustus 2005.

Harapannya, semua mantan pejuang GAM yang kini tergabung dalam sebuah wadah yang bernama Komite Peralihan Aceh (KPA) itu belajar berpolitik untuk menjadi pemimpin masa depan di Aceh lewat jalur Pilkadasung (Pemilihan Kepala Daerah Langsung) maupun Pemilu Legislatif.

Mengapa harus PA? Mengapa pertanyaan ini muncul?  Rakyat Aceh punya alternatif menjadikan Partai Aceh sebagai tumpuan bagi kelanjutan Pembangunan Aceh ke depan. Ini adalah sebuah harapan sejak Partai Lokal ini dibentuk. Dan hasilnya, banyak sekali Anggota Legislatif di Kabupaten/Kota hingga Propinsi berasal dari PA sekarang ini. Mereka berhasil memenangkan proses demokrasi yang dihelat pada tahun 2009 lalu di Aceh.

Namun, PA yang didirikan oleh Malik Mahmud dan Muzakir Manaf pada 7 Juli 2007 tersebut sejauh ini masih belum mampu menunjukkan kinerja yang baik sesuai harapan seluruh Masyarakat Aceh. Atas dasar inilah sebuah pertanyaan muncul, “Mengapa Harus PA?”.

Apakah tak ada partai politik lain yang mampu mengakomodasikan keinginan Rakyat Aceh?  Bila merujuk pada apa keinginan PA yang ingin menjadikan Parlok ini sebagai partai pemilik perjuangan di Aceh untuk perubahan nasib masyarakat Aceh dan bertanggung jawab menjalankan amanah MoU Helsinki dan menyempurnakan Undang-Undang Pemerintah Aceh yang telah disahkan oleh DPR RI pada 11 Juli 2006, maka PARTAI ACEH perlu bekerja lebih keras untuk memberi bukti. Bukan hanya janji tertulis maupun dilontarkan secara lisan saja.

Pertanyaan susulan tentu bisa dimunculkan dengan sendirinya seperti, mengapa harus PA jika ada Partai Politik lainnya yang lebih mampu mengangkat derajat hidup orang Aceh? Jika PA berpikir bahwa sekarang saatnya para pejuang Aceh (GAM) mengabdi diri sebagai fungsionaris partai dan seluruh rakyat Aceh yang dengan berbesar hati telah bisa meninggalkan perjuangan bersenjata dan menukar dengan Demokrasi, sehingga hari ini bukan diam menunggu hasil, rakyat Aceh harus bangkit bersatu-padu berpartisispasi untuk perjuangan masa depan Aceh dan perdamaian. Maka pertanyaannya selanjutnya adalah sudah seberapa jauh Anggota Legislatif dari Partai Aceh ini memberla kepentingan Rakyat Aceh?

Sebagai konstituen yang cerdas kita pasti bisa menentukan mana Partai Politik yang tepat yang mampu memperjuangkan keinginan kita semua dengan tulus. Tanpa ada keinginan menghujat dan memperbandingkan Partai Aceh sebagai salah satu Partai Lokal di Aceh Penulis dan semua rakyat Aceh tentu ingin melihat sebuah bukti yang pantas sebagai jawaban atas pertanyaan, “Mengapa harus PA?”

Harapan besar rakyat Aceh ke depan adalah melihat dan menikmati pembangunan Aceh yang lebih baik secara fisik dan non-fisik. Kita semua butuh sekolah yang memiliki bangunan yang layak dengan tenaga pengajarnya yang profesional. Semua rakyat Aceh yang tinggal di pedalaman Aceh butuh akses yang lebih mudah untuk menjual hasil pertanian/perkebunannya ke kota. Tentu jalan-jalan dan jembatan haruslah diperbaiki agar mudah dilalui.

Jika PA tak mampu melakukan itu, maka rakyat Aceh harus mencari Parpol lain sebagai alternatifnya. Jika terus saja memaksakan dan dipaksa memilihi Partai Aceh, maka sebuah pertanyaan untuk rakyat Aceh, “Mengapa Harus PA?”

NB: Tulisan ini juga dimuat dimuat di Media Online; The Globe Journal.

Iklan
By Arbi Sabi Syah Posted in Politik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s