Keledai Itu Bernama: Sergio Batista


 

13104483741869562945Ilustrasi/Google

SEBELUM penulis mengulas tulisan ini sesuai dengan judulnya yang mungkin menurut para pembaca budiman sekalian terkesan tendensius, emosional, atau provokatif ini, ada hal-hal penting yang harus penulis informasikan terlebih dulu agar tulisan ini memiliki fondasi yang kuat melatarbelakingi kehadirannya.

Pentas Akbar Sepakbola Negara-Negara Amerika Latin sedang berlangsung di Argentina yang dimulai pada 04 Juli – 25 Juli2011. Ya, COPA America 2011 dihelat dengan megah. Meskipun demamnya tak begitu membahana semisal Piala Dunia, tetapi kemajuan Sepakbola Tim-Tim Amerika Latin seperti Argetina yang menjadi tuan rumah, Brazil, Uruguay, Paraguay, Chili, Kolombia, Equador, Venezuella, Peru, dan Bolivia serta dua Tim tamu Meksiko dan Kostarika layak dinikmati pertandingannya, diamati para pemainnya, dan dianalisis bagaimana Tim-Tim besar tersebut menunjukkan kemampuannya.  Dan khusus untuk Tim Argentina penulis ingin membuat ulasa singkat mengenai kinerja dan kepemimpinan Pelatih mereka yang bernama Sergio Daniel Batista tersebut.

 

13104483971688980960Ilustrasi/Google

Argentina adalah salah satu Tim terkuat di Amerika Latin selain Brazil yang diramalkan banyak penikmat kulit bundar di Dunia akan menjuarai turnamen yang dimulai sejak 2 Juli 1916 ini. Hal ini tidak berlebihan mengingat nama-nama besar pemain yang dimilik kedua Tim. Sebut saja Leonel Messi, Carlos Tevez, Javier Mascherano, Sergio Aguero, Nicolas Burdisso, Javier Zanetti, Gonzalo Higuain, Javier Pastore, dan masih ada beberapa nama lagi dalam tim yang diikutkan Batista untuk turnamen ini. Hampir semua dari mereka adalah para pemain bintang yang sangat dikenal di dunia karena bermain untuk tim-tim besar seperti Barcelona, Real Madrid, Manchester City, Inter Milan, dan beberapa Klub besar Eropa lainnya. Sedangka Juara bertahan Brazil datang ke kejuaraan besar ini dengan kombinasi pemain yang sudah matang dan bakat-bakat mudanya yang luar biasa. Ada nama-nama yang tak asing lagi ditelinga kita yang dibawa Pelatih Mano Menezez ini. Mereka adalah Alexandre Pato, Daniel Alves, Julio Cesar, Fred, Robinho, Maicon, Luisao, Neymar, dan para pemain bertalenta lainnya. Batista dan Menezez adalah dua pelatih baru dari masing-masing negara besar dalam sepakbola ini yang ingin Tim yang diarsiteki mereka berhasil menjuarai Copa Amerika 2011 kali ini.

13104485531002912602Ilustrasi/Google

Namun, dalam jagad Sepakbola berlaku 3 (Tiga) kata khas, yaitu “Bola Itu Bundar.” Artinya, sebuah Tim Besar yang dihuni oleh semua Pemain bintang yang ada di dunia sekalipun belum menjadi jaminan Tim tersebut akan keluar sebagai Pemenang dalam sebuah Pentas Sepakbola. Setidaknya hal ini bisa dibuktikan dari hasil yang diraih Tim Argentina dalam dua pertandingan mereka di babak penyisihan Grup A yang juga dihuni oleh Tim Kolombia, Bolivia, dan Kostarika ini. Pada pertandingan pertama mereka yang menjadi partai perdana Copa America 2011, Argentina hanya mampu bermain imbang 1-1 dengan Tim bukan unggulan; Bolivia. Hasil seri itu pun diperoleh dengan susah payah pada akhir Babak kedua lewat jasa menantu mantan pelatih mereka sendiri, Diego Maradona. Dan hari ini Tim berjuluk Tango ini baru saja menyelasaikan pertandingannya melawan Tim Kolombia dengan hasil yang lebih mengecewakan tanpa satu gol pun dari keduanya, alis skor kacamata; 0-0! Dua hasil pertandingan yang begitu mencoreng Tim sekelas Argentina yang memiliki 11 Pemain kelas Dunia di dalam lapangan dan ditambah lagi oleh pemain ke-12 yaitu para supporter yang banyak karena mereka adalah tuan rumah turnamen ini.

13104486231151665290Ilustrasi/Google

Penampilan Argentina yang sangat buruk kali ini sungguh membuat jutaan pasang mata yang terlanjur berharap suguhan nikmat Messi cs. kecewa berat. Termasuk penulis sendiri yang telah mengenal tim ini sejak Tahun 1986 ketika Sang Maestro mereka Maradona mencatatkan namanya sebagai salah satu Pemain terbaik sepanjang masa. Siapa yang layak disalahkan? Para Pemain atau Sergio Batista sebagai arsitek Tim ini? Secara pribadi saya berpendapat bahwa Batista lah yang harus disalahkan. Mengapa? Batista telah belajar dari pertandingan perdana ketika  Gawang yang dikawal Sergio Romero dibobol lebih dulu oleh Edivaldo Rojas pada menit ke-47 sebelum Aguero menyamakan kedudukan pada menit ke-75. Dan mengapa dia enggan merombak skuad Tim utama? Bukankah kinerja Lavezzi di depan tak mampu mengimbangi pergerakan Tevez? Dan apa fungsi seorang Esteban Cambiasso? Pemain kunci dari Klub Inter Milan ini nyaris tak memiliki peran apa-apa untuk mengimbangi sang dirijen Ever Banega. Dan mengapa pemain yang sedang digandrungi Klub-Klub besar Eropa seperti Segio Aguero tidak menjadi starter? Mengapa pemain muda berbakat yang menjadi Mega Bintang di Palermo sama sekali tidak diberi kesempatan menunjukkan kreativitasnya yang luar biasa?

13104486651339845002Ilustrasi/Google

Banyak pertanyaan yang harus dijawab oleh Sergio Batista atas hasil imbang kedua melawan Tim Kolombia. Walaupun, kita tak bisa pungkiri bahwa kemajuan Sepakbola di Benua Amerika Selatan ini telah berkembang pesat. Dan hampir semua Tim latin telah memiliki tehnik dan skill yang tinggi dibanding satu dekade yang lalu. Namun, jika kita melihat nama besar Argentina secara historis memiliki pemain-pemain hebat yang menjadi pemain kunci dari Klubnya masing-masing rasanya tak sulit menjadikan Bolivia lumbung gol mereka, dan tak berlebihan jika saya memprediksi mereka akan mudah melewati hadangan Tim Kolombia.

Batista harus belajar dari cara heroik teman satu timnya di Tim Nasioanal dulu yaitu Maradona. Aksi “one man show” Pemain berjuluk si tangan Tuhan ini berhasil membawa Argentina menjuarai Piala Dunia di Meksiko pada tahun 1986. Ketika Maradona melatih Argentina saya rasa sedikit orang yang membantah bahwa masa keemasan sepakbola Negara EvitaVeron ini akan kembali. Walaupun Maradona masih harus membuktikan lebih jauh akan kemampuannya mengasuh Messi dan kawan-kawan, tetapi Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan lalu bukankah Maradona yang berhasil menemukan bintang muda seperti Pastore dan Romero?

1310448728363356063Ilustrasi/Google

Akhirnya, dengan berat hati saya harus membuat pernyataan bahwa kegagalan Argentina menunjukkan hasil memuaskan sesuai dengan para pemainnya yang bertabur bintang itu adalah murni kesalahan Batista. Dan terinspirasi oleh sebuah artikel lama Tabloid Bola yang mengulas kegagalan Argentina melangkah ke babak kedua piala dunia di Korean dan Jepang pada tahun 2002 yang berjudul, “Keledai itu Bernama: Marcelo Bielsa dan Ariel Ortega.” Maka saya pun memberi judul tulisan ini dengan “Keledai Itu Bernama: Sergio Batista.

Iklan
By Arbi Sabi Syah Posted in Bola

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s