Jubir Partai Aceh Harus Jaga Bibir!


 

131071894732598403Ilustrasi/The Globe Journal

Membaca pernyataan Jubir PA Fakhrul Razi di Media Online The Globe Journal edisi Jum’at 17 Juli 2011 terasa aneh. Mengapa seorang Juru Bicara Partai Aceh itu mengeluarkan pernyataan seperti itu ketika Iklim Politik di Aceh sudah mulai tenang?

“Kita tidak ingin timbul konflik politik yang mengarah pada konflik horizontal, tidak ingin ada pertumpahan darah lagi untuk hanya merebutkan satu kursi gubernur dan bupati,” ungkapnya di Tower Cafe, Kamis (14/7).

Siapa yang akan berkonflik horizontal?  Apakah rakyat Aceh tahu dan mengerti semua masalah yang sedang terjadi sehingga melibatkan diri dalam ranah perebutan kekuasaan antar elit dalam tubuh PA sendiri maupun antar partai politik yang lain? Jangan selalu mengatasnamakan rakyat ketika sedang merasa terdesak dan khawatir menjadi pecundang dalam pesta demokrasi di Aceh ke depan.

Jika analisis Jubir PA itu pada kemungkinan terjadi gesekan fisik antar mereka saja itu tak membuat rakyat Aceh terlibat dalam kisruhnya, mengapa? Karena urusan kecil itu menjadi tanggung jawab internal Partai Aceh untuk mengurusnya. Jangan libatkan orang lain yang tak ngerti apa-apa.

Sebuah proses demokrasi yang baik justru lahir dari sebuah aturan yang menguntungkan banyak pihak. Bukan memaksakan keinginan sendiri dengan mencoba menggunakan gaya-gaya rezim Orde Baru dalam upaya mencapai tujuan. Jika pernyataan seperti ini; “Saya ingin katakan KIP harus merujuk pada UUPA, itu harga mati. Tidak bisa kita buat Pemilukada ketika UUPA tidak dijadikan pedoman. Kalau tidak bubarkan saja UUPA, kembali pada MoU Hensinki, kembali saja pada konflik, pisahkan saja Aceh ini selesai,” dan lalu ia mengakhirinya dengan, “kita inginkan Aceh adalah bagian dari NKRI harga mati titik.”

Dari mana dasarnya Jubir Partai Aceh menghitung komponen-komponen yaitu menolak KIP dan bubarkan UUPA, mengajak kembali ke MoU Helsinki, ingin kembali pada konflik lagi? Jika memang UUPA dibubarkan apakah tidak ada hubungannya dengan MoU Helsinki? Dan bila MoU Helsinki dipakai saya rasa kaitannya dengan mengajak konflik lagi sama sekali tak ada. Apa Anda tak akan lari ke luar Aceh jika konflik itu kembali terjadi hai sang Jubir Partai Aceh?

Aneh! Berbagai pernyataan yang dikeluarkan oleh Jubir Partai Aceh tersebut sama sekali tak memiliki dasar yang kuat. Justru kita sangat menyayangkan kalimat-kalimat itu lahir begitu mudah dari bibir seorang Jubir PA. Pada hal, suasana tenang yang telah terbangun dalam seminggu ke belakang mulai tak nyaman lagi.

Rakyat Aceh sama sekali tak ingin konflik dimunculkan oleh elit-elit yang tak bertanggung jawab seperti Jubir PA tersebut. Seharusnya saudara Jubir PA itu menenangkan publik untuk tidak khawatir akan pecahnya konflik horizontal bukan malah membuat tensi perpolitikan Aceh semakin meninggi saja. Jangan-jangan sang Jubir PA memang senang mengatur suasana agar tegang kembali?

Konflik yang telah mengecil sebenarnya tak perlu diperuncing lagi. Bila memang sepakat untuk menjaga damai terus ada di bumi Aceh sang Jubir PA sudah harus diam dan jangan mencoba menyulut api konflik itu sendiri.

Partai Aceh yang notabenenya adalah basis dari korban rezim Orde Baru seharusnya menjadi Kelompok terdepan yang membela korban yang rata-rata adalah rakyat Aceh itu sendiri. Bukan malah menggunakan cara-cara Rezim Orde Baru tersebut untuk mempertahankan atau merebut kekuasan di Aceh.

Terakhir, jika memang saudara Fakhrul Razi seorang yang bijak dan pantas menjadi Juru Bicara sebuah partai lokal terbesar di Aceh seharusnya Anda berpikir dulu sebelum mengeluarkan pendapat. Semua ini demi ketenangan rakyat Aceh. Kita semua mendukung setiap upaya positif untuk kebaikan seluruh Rakyat Aceh yang dilakukan Partai Aceh dan partai politik lainnya.

Rakyat Aceh ingin hidup nyaman di tengah keadaan ekonomi yang masih belum stabil ini. Tak baik bila menambah penderitaan rakyat Aceh dengan pernyataan-pernyataan sesat yang meresahkan. Menciptakan perdamaian itu tak mudah. Makanya, upaya mengajak kembali berkonflik karena Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sudah tak ada lagi itu sudah ketinggalah zaman!

Sudah saatnya Saudara Fakhrul Razi lebih lembut memberi pendapat karena nanti saya khawatir jika orang-orang akan nyelutuk sambil menyeruput secangkir kopi; Jubir Partai Aceh Harus Jaga Bibir![BA]

Tulisan ini juga dimuat di Media Online The Globe Journal.

Iklan
By Arbi Sabi Syah Posted in Politik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s