Perempuan Bermata Hijau dan Berambut Pirang


MALAM itu hujan kembali menyapa bumi untuk kesekian kalinya di bulan September. Deruan angin begitu terasa sampai menyengat pori-pori. Walau begitu Lantai dua milik Iguana Café kian sesak dipenuhi pengunjung dengan berbagai obrolannya. Aku dan dua orang temanku duduk searah jarum jam sedikit berhimpitan dengan dinding depan yang menjadi pembatas lantai. Kopi panas terasa nikmat bagi kedua temanku yang merupakan penikmat rokok. Aku sendiri lebih suka menikmati secangkir susu putih panas tanpa ada tembakau dimulutku. Sudah enam tahun aku tak pernah mengeluarkan kepulan asap dari mulutku. Aku terpaksa menghentikan kebiasaan jelek itu karena kuanggap bisa membunuhku secara perlahan. Mungkin teman-temanku yang perokok itu punya alasan masing-masing mengapa mereka tak pernah mau berhenti melakukannya.

Sesaat kemudian telepon genggamku berdering. Edo memberitahukanku bahwa dia dan seorang wanita sedang dalam perjalanan kemari. Tak lupa dia membumbuiku dengan sebuah kalimat menawan bahwa wanita yang bersamanya begitu istimewa. Aku hanya menimbalinya dengan tertawa ringan. Ini pasti sensasi yang selalu dibuat Edo pikirku.

Setelah 15 menit menunggu Edo bersama seorang wanita muncul di hadapan kami. Serentak kami bertiga bangkit dari tempat duduk untuk saling memperkenalkan diri. Saat tanganku menyalami wanita yang dibawa Edo ada sebuah reaksi yang tiba-tiba muncul menyengat di sekujur tubuhku. Aku tak tahu pasti apa bentuk reaksi ini. Dia memperkenalkan dirinya dengan nama Renda. Ya, nama wanita itu ternyata Renda. Sebuah nama yang asing namun enak dieja. Renda tak tampak canggung. Saat kupersilahkan duduk dia mengangguk sambil memberikanku sebuah senyuman yang begitu manis. Sungguh sebuah senyuman yang langka dan nyaris belum pernah kulihat dari wanita manapun.

Renda memang tipikal wanita yang menarik. Tak hanya cantik dengan hiasan lesung di kedua pipinya. Wajah Renda kian merona dalam hembusan angin malam yang mampu memaksa jantungku berdetak kencang. Sorotan matanya yang menawan begitu gampang membuat tubuh seorang pria sepertiku bergetar. Siapa sebenarnya Renda? Benarkah ia seorang teman biasa Edo ataukah rekan kerjanya? Mungkinkah Renda adalah pacar baru Edo? Ah, aku tak semestinya mengira-ngira begitu. Pertanyaan-pertanyaan semacam ini tak perlu kumunculkan. Bukankah Edo adalah teman baikku? Lagi pula aku baru mengenal Renda 5 menit yang lalu.

Renda memesan secangkir cholaffe, yaitu sejenis minuman yang diracik dari kopi dan coklat dengan sedikit ditambahi susu putih. Dia menyerumput cholaffe sedikit demi sedikit tanpa melirik kemanapun. Ternyata aku terkesima melihat keindahan Renda menikmati secangkir cholaffe. Bagiku Renda seperti seorang bidadari yang datang bersama sepotong senja yang dipungut dalam gerimisnya hujan. Mataku melirik pelan mencoba menemukan sebuah alasan yang paling tepat untuk bisa menghangatkan obrolan bersamanya dan rekan-rekanku yang lain. Para pengunjung yang lain sedang berbincang dengan bahasa yang sopan, namun diam-diam melirik, ibarat sebuah kepalsuan yang biasa mereka lakonkan bila ada wanita menarik disini. Aku bukan tipe lelaki yang agresif pada wanita, apalagi pada kenalan pertama. Meskipun hatiku telah membisikkan banyak hal yang seharusnya kutanyakan pada Renda. Dan Tentunya tak ada yang salah dengan apa yang sedang aku pikirkan. Bukankah itu sebuah upaya pencarian cinta dan pengakuan bagi statusku nantinya?

Udara terasa menggema. Tak terasa kami telah menghabiskan banyak kata di meja itu. Teman-temanku telah saling bertukar informasi pribadi dengan Renda. Tapi tidak denganku. Aku dan Renda saling diam. Kurasa hatiku dan hatinya ingin saling mengenal lebih jauh tentang banyak hal. Aku menghabiskan waktu lebih dari setengahnya untuk mengamati mata indah berwarna hijau milik Renda. Dengan rambut panjang sebahu kepirang-pirangannya dia sukses meluluhlantakkan naluri kelelakianku. Mengiringku untuk terus menyimpan bentuknya dalam benakku sampai kapanpun. Biarlah waktu yang akan menjawabnya untukku. Kami bergegas pulang ke tempat peristirahatan masing-masing. Dalam perjalanan pulang pun aku masih mencoba merekam jejak kisah keindahan Renda. Aku berharap suatu hari bisa menghabiskan banyak kata hanya untuknya sambil menikmati chollafe berdua. Ya, hanya ada aku dan Renda.

Banda Aceh, 15 November 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s