Cinta dan Kematian


DALAM proses cinta manusia menurutku tak ada jenjang kematian. Setiap pencinta mempunyai keinginan membangun sebuah istana cinta yang mampu membuat mereka bisa hidup disana selamanya. Berbagi kata dan rasa bersama orang yang dicintai dan tak pernah ingin mati oleh sebab apapun. Dan, jika sampai pencinta harus mati-matian hanya untuk cinta, berarti mereka tak bisa menikmati orang yang dicintainya dengan utuh. Bagi banyak orang pemahaman seperti mungkin terkesan aneh dan jauh dari ruang logika. Sebenarnya, seperti inilah sebuah kebenaran yang jauh dari unsur pembenaran, karena kesalahan persepsi tentang cinta dan kematian justru mengakibatkan logika cinta terpinggirkan hingga menyisakan kehampaan hakiki bagi penganut aliran cinta sejati.

Manusia ingin terus hidup menikmati banyak keindahan dan kenikmatan di dunia. Walaupun indah dan nikmat itu tak hanya karena cinta dan bercinta. , Namun, untuk apa sebagian orang mati-matian jika ingin terus hidup?

Cinta adalah kehidupan. Ia menyukai keindahan dan tak suka pada pengkhianatan. Cinta tak ingin dimatikan dalam kesendirian karena ia selalu butuh pasangan sebagai pelumas kenikmatan dalam meniti kehidupan. Kematian tak ada hubungannya dengan cinta. Cinta membenci kematian. Sebaliknya kematian selalu menemui cinta. Bagiku antara cinta dan kematian tak ada jembatan penghubung, mereka akan terus dipisahkan oleh lembah lebar yang bernama ketidaktulusan.

Cinta juga mengandung rasa hormat. Dengan mencintai seseorang kita akan terbiasa menghormati pasangan kita. Dengan begitu akan lahir tanggung jawab pada orang yang kita sayang sehingga melahirkan pengetahuan tentang bagaimana menjadi pencinta yang baik yang selalu ingin hidup dan melupakan kematian hubungannya.

Walau sebenarnya kematian adalah hal ternikmat dari akhir sebuah perjalanan hidup manusia. Namun cinta tetap menjadikan kematian penghalang kenikmatan. Kematian tak hanya menjauhkan rasa ingin aku dan kamu. Tapi juga ia membekukan rasa dendam dan sakit hati. Cinta adalah keindahan terbesar dan kematian merupakan kenikmatan tak pernah terbantahkan. Riak-riak cinta berisi garam penyedap rasa dan gelombang kematian adalah ritme yang mengasyikkan diakhir kehidupan manusia. Sejauh mana kita memiliki cinta sebelum kenikmatan kematian kita rasakan?

Kematian bukanlah ancaman. Ia lebih berarti pada sebuah penantian penuh kenikmatan. Manusia akan merasakan cinta yang enak, lezat, dan gurih kala mereka tahu cara memberi dan menerima cinta itu sendiri. Hingga kematian datang menjemput manusia. Ia terasa kian nikmat dan indah. Mata tertutup perlahan dengan wajah dihiasi senyum tanda klimaks atas cinta yang diperoleh selama di dunia. Bila setiap pencinta merasakan itu maka mereka telah sempurna dalam menikmati cinta sepanjang hidupnya sekaligus membawa cinta bersama indahnya kematian.

Banda Aceh, 15 Desember 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s