Bidadari Negeri Bunian


***Cerpen ini telah dimuat di Harian Aceh edisi Minggu, 21 Februari 2010

BEBERAPA malam yang lalu dia mengatakan padaku bahwa permintaan untuk bertemu di jembatan itu bukanlah sebuah paksaan.Tapi inilah sebuah perencanaan yang telah disusun dengan baik olehnya. Dan aku bisa bertemu dia pada malam-malam berikutnya semauku disini.

Aku masih mengingat dengan jelas kata-katanya itu. Tapi mengapa tadi malam dia tak menampakkan wujudnya sama sekali. Kemana perginya bidadari negeri bunianku itu? Mungkinkah hujan semalam membuatnya enggan menemuiku? Ataukah ada agenda penting lainnya yang harus dipenuhi? Aku tak menemukan alasan yang tepat untuk itu.Aku mencoba mengingat kembali bagaimana awalnya proses pertemuanku dengan bidadari itu.

Sebenarnya semua ini diawali dari sebuah mimpi di bulan September. Seorang wanita yang mengaku dari sebuah negeri bernama Bunian hadir dalam mimpiku. Dia bercerita tentang keadaan di negeri itu dengan detil termasuk tempat tinggal, cara makan, dan hal-hal lain yang terkait kehidupan penduduk di negeri bunian itu.

Dalam mimpi itu dia membuat janji ingin bertemu langsung denganku setiap malam. Singkatnya kami pun melanjutkan pertemuan itu secara langsung. Dia ingin aku menemuinya di sebuah jembatan yang sunyi yang berdekatan dengan Makam Tgk. Syiah Kuala. Jaraknya kira-kira 350 meter dari rumahku. Malam ini kedatangannya tak perlu kutunggu lama. Dia sudah pasti tak hadir seperti biasa. Aku pulang untuk memilih tidur. Rasa ngantukku meninggi karena malam sebelumnya kami bicara panjang lebar tentang rencana kepulangannya bersama serombongan orang yang merupakan komunitas besarnya. Saat tahap tidurku memasuki tahapan pergerakan mata yang bergerak terlalu cepat tiba-tiba dia hadir menemuiku. Mengapa dia tak menepati janjinya 2 jam yang lalu dan hanya singgah membangun sekuntum bunga dalam tidurku? Sudah hilangkah rasa percaya dirinya?

Seperti biasanya walau dalam mimpi ini pun dia berbicara banyak dan tertawa ngakak sesukanya. Aku sempat mememori beberapa kalimat yang kuanggap aneh dalam bincang-bincang ini. Salah satunya adalah saat dia katakan bahwa mereka disana mentertawakan tingkah adik-adik mahasiswa saat berdemo ke tempat Raja Rubicon bertahta. Katanya, mereka mengabaikan kewajibannya dan mewujudkan mimpi beberapa orang saingan sang Raja Rubicon itu. Dan dia menyesali banyak hal mengenai sikap dan pandangan sang raja yang mematikan embrio Negeri Wali ini. Terasa aneh mendengar ceritanya dan aku tak begitu yakin dia akan kembali suatu hari dengan membawa berbagai rekomendasi untuk menghadapi para pendemo itu kepada Raja Rubicon. Dia meyakinkanku bahwa pemerintah sekarang terlalu memunculkan kemewahan virtual yang memadamkan cita-cita awal saat mereka menguasai singgasana empuk itu.

Namun menurutku semua itu tak penting. Karena sebenarnya, aku tak suka mendengarkan terlalu banyak jika dia memberikan wejangan tentang politik. Seharusnya dia menceritakan bagaimana suasana indah di negeri bunian itu. Politik itu memang nakal dan terkesan lucu penerapannya. Aku memintanya bertemu di jembatan itu besok malam dan dia sangat menghargainya. Dalam keadaan apapun dia akan berusaha memenuhi janji itu katanya.Akhirnya dia memenuhi janji yang diucapkannya dalam mimpiku kemarin malam. Tanpa kesulitan pada jam 10.30 malam aku bisa menemuinya tepat dibawah jembatan yang berdekatan dengan kuburan Tgk. Syiah Kuala. Dia mengenakan pakaian adat berendakan emas yang jelas nampak mewah dengan hiasan bunga mawar berwarna jingga.Dia menyambutku dengan senyum khasnya yang begitu mempesona. Tatapan dua bola mata indahnya membuatku ingin berlama-lama bersamanya. Mungkin itu tatapan andalannya sewaktu dia masih berada di tempat yang sekarang kudiami. Kurasa hanya dengan satu pandangan saja ribuan pria mampu dibuat ternganga dalam hitungan detik. Dan tak mengherankan jika tatapannya kini ikut mempengaruhiku larut dalam keinginan bertemu dengannya.

Walau telah berstatus sebagai penduduk negeri bunian pun penguasaannya terhadapku terus berlangsung. Aku ingin mendengarkan setiap kata dari ceritanya yang berisikan rencana masa depan penduduk negeri bunian jika suatu saat mereka kembali ke bumi bersama kami. Ada banyak perubahan yang akan dilakukan kepada kami terutama mengenai pelayanan para pemimpin kepada masyarakat yang selama ini terkesan kurang memuaskan. Dia adalah tipe wanita yang sebenarnya. Perhatiannya terhadap orang lain begitu tinggi. Hal ini dapat kulihat dari cara dia berbicara banyak hal tentang nasib dan kehidupan yang kini kami jalani.Aku dan dia berbicara panjang lebar tentang berbagai peristiwa aktual yang kita alami. Dia selalu mengumbar senyum nakal bila dia mempolitisi kata buaya dan cicak. Dua kata yang menurutnya terlalu dipolitisir banyak orang yang tidak mengerti apa-apa. Batinku terperajat dan jantungku terasa ingin copot mengetahui bahwa dia tahu sedetil-detilnya kasus yang kini menimpa perangkat hukum negeri ini.

Kenapa dia tahu semua hal yang menurutku tak layak kuketahui? Inilah keanehan yang membuatku begitu penasaran ingin selalu ada bersamanya setiap malam.Tak terasa langitpun telah menghitam kelam. Tanda-tanda hujan datang kian terasa. Aku tak mau hujan memandikanku di sepertiga malam ini. Walau kadang kala mandi hujan itu indah namun tidak untuk saat ini. Bagiku pertemuan dengan sang bidadari negeri bunian adalah kebahagian yang luar biasa. Ternyata dia mengerti bahasa tubuhku yang memancarkan kegelisahan. Namun, tiba-tiba disudut utara kolom jembatan itu muncul suara yang begitu aneh. Ia menyerupai suara ringkikan seekor kuda yang sedang dituntun beberapa orang.

Aku bertanya dalam hati apakah ini kuda milik sang bidadari ataukah pendengaranku yang sedang kacau? Dengungan itu berasal dari jarak yang sangat dekat dan aku tak tahu penyebabnya. Pada hal suara itu tak seharusnya muncul begitu saja walaupun kami tidak berada di ruang hampa yang hanya bisa dilewati gelombang radio. Ia bisa melewatinya karena gelombang radio merupakan gelombang elektromagnetik yang berasal dari frekuensi rendah spektrum cahaya. Dan aku tahu bahwa banyak obyek di angkasa termasuk bintang memiliki gelombang semacam itu. Tapi, suara itu benar-benar nyata. Dan telingaku tak salah mendengarnya.

Dalam perasaan diselimuti rasa yang tak bisa dicerna pemikiran dan tubuhku gemetar dibarengi keringat dinginpun membasahi tubuhku. Inikah sebuah ketakutan? Tak lama kemudian aku dapat melihat dua bayangan putih mendekat ke arah kami. Sang bidadari negeri bunian tersenyum melihat beberapa orang yang tak kukenal muncul dihadapan kami. Dengan suara lembut dan sopan salah satu dari mereka berbicara kepadanya. “Putroe, kami atang menjemputmu dengan kereta kuda kesayanganmu. Dan kami sudah siap membawamu pulang sekarang,” kata salah satu lelaki yang perawakannya tinggi dan berkulit bersih. Namun, aku tak bisa melihat wajahnya yang ditutupi cadar berwarna putih. Dan Sang bidadari hanya mengangguk pelan sambil tersenyum ringan. Dari sinilah aku tahu bahwa bunyi aneh tadi berasal dari kereta kuda warna putih kesayangan bidadari bunian, dan bayangan-bayangan putih itu adalah pengawal yang diutus menjemputnya pulang ke istana negeri bunian. Tanpa diminta sang bidadari pun pamit. Dia hanya berkata, “Aku harus pulang, dan kamu juga tentunya. Jangan kuatirkan diriku karena kita akan bertemu lagi kapanpun kamu mau.”Kereta kuda berwarna putih yang dia tumpangi melesat begitu cepat ditelan kegelapan malam yang dingin menyengat karena hujan mulai turun. Aku melangkah pulang dalam diam beribu basa teringat akan banyak keanehan-keanehan yang terjadi saat aku dan bidadari bunian bertemu.

Namun bagiku inilah pengalaman baru bernuansa ghaib. Aneh tapi ada. Remang namun nyata. Sesampai di rumah jam menunjukkan angka 01.15 pagi. Masih sulit bagiku memejamkan mata. Ingatanku tetap tertuju pada pertemuan dengan bidadari itu beserta dua pengawal yang menjemputnya. Menurutku semua itu adalah kenyataan walaupun diawali oleh sebuah mimpi. Adakalanya kita harus percaya pada mimpi-mimpi yang kita alami. Mereka datang tak terduga dengan pesan-pesan yang bisa membuat hidup kita berubah. Ada hikmah yang mengikuti cerita mimpi bila kita dapat mengambil pesan moralnya.

Walaupun demikian manusia tidak seharusnya menjadikan mimpi sebagai patokan menjalani hidup dan kehidupan. Tuhan menciptakan mimpi sebagai bagian dari misteri keberadaan-Nya. Kita hanya diminta melakukan hal-hal yang diperintahkan dan menjauhi semua laranganya-Nya.

Tuhan membutuhkan ketulusan dari semua amal kebaikan yang kita kerjakan di dunia. Membiarkan hidup kita ditahtai mimpi adalah petaka besar. Semoga perjumpaanku dengan sang bidadari negeri Bunian memberiku keinginan untuk terus hidup sampai dia kembali pulang nantinya.

Banda Aceh, 11 November 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s