Tak Ada Cinta di Pantai Cermin


Lustrasi/GoogleDEBUR ombak pantai cermin nyaris tak terdengar senja itu. Hanya pasir semi hitam yang terlalu sibuk bergerak, berputar dan bersiul seakan-akan mereka ingin meneriakkan banyak hal tentang kami. Di sudut sebelah kiri tempat kami duduk ada sepasang muda-mudi yang sedang berdiskusi serius. Sikap tubuh mereka seakan ingin menceritakan banyak hal. Sayup-sayup kudengar suara si wanita melantunkan kata penuh arti pada sang pria. Tapi apapun yang mereka bicarakan itu adalah ungkapan dari cita-cita hati mereka yang mungkin ingin diwujudkan di masa yang akan datang.

Aku menoleh ke arah Ulfa, dia sedang menatap lautan dengan kosong. Sesekali mata indahnya berkedip sambil menarik nafas dalam – dalam. Aku terdiam dalam heningnya kami. Apa yang sedang dipikirkan Ulfa? Apakah perasaannya telah kulukai? Ingin rasanya kudekatkan mulutku ke telinganya dan kubisikkan banyak kata-kata cinta yang bisa memunculkan senyuman di matanya. Namun, itu tak mungkin kulakukan karena status kami perlu pengakuan religi yang sakral. Justru kami ada disini untuk membicarakan proses itu menjadi halal bila ingin kulakukan.

Sulit membuka pembicaraan serius mengenai hati padanya. Mungkin dia pernah mengalami pengalaman pahit dengan kaum sejenisku. Aku ingin Ulfa berpendapat lain tentang pria. Setidaknya dia punya pembelaan yang beralasan. Semua pria yang dihadirkan Tuhan ke muka bumi ini tidak dengan karakteristik yang sama. Setidaknya masih ada beberapa dari mereka yang benar-benar menyerahkan hatinya buat seorang wanita. Mungkin dia akan menganggapku terlalu mengada-ngada jika kukatakan padanya bahwa aku salah satu dari mereka.

 

Kucoba membuyarkan lamunan Ulfa dengan kalimat yang tadi malam didengarnya, “Sayang, Aku punya alasan yang kuat untuk pergi kesana. Semua ini demi perubahan dalam hubungan kita. Bukankah kamu mendambakan pendamping hidup yang berprofesi beda denganmu?” Dia tersenyum dengan bola mata dihiasi keraguan. Dia mencoba menimpali perkataanku, “Aku senang mendengarnya, Tapi…itu bukan satu-satunya alasanku melarangmu pergi kesana.”

 

Ombak Pantai Cermin menjadi saksi hidup tanpa kata. Ia telah merekam semua sedu-sedan yang sedang kami lakoni. Keberadaanku disitu mungkin memuakkan bagi mereka. Dan bukan mustahil bahwa keindahan Ulfa bisa membuat ombak itu terlena walaupun untuk sesaat. Aku membatin dalam asa yang hampir lenyap bersama ombak yang datang dan pergi itu. Mungkinkah mereka akan membisikkan pada Ulfa tentang remangnya bintangku? Akankah kata-kataku takkan punya pengaruh apapun bagi dirinya?

Waktu terus berlalu dan tanpa kusadari tetesan hujan mulai membasahi tempat dimana kami berada. Deru ombak kian tak terdengar. Memang, di bulan November selalu seperti ini. Hujan seakan tak pernah sepi datang menyapa bumi. Terkadang hadirnya membuat banyak jiwa seperti melihat manik-manik cinta. Hujan seakan sedang bernyanyi pada jiwa mereka. Namun, apakah hujan dapat menerjemahkan hancurnya hatiku karena Ulfa? Apakah ia bisa memberikan padanya gambaran akan diriku yang masih begitu ingin bersamanya dan terus mencintainya?

Pertanyaan-pertanyan dalam benakku itu terhenti ketika Ulfa mengajakku beranjak dari pantai itu dan mengantarkannya pulang. Tak ada kisah yang tercipta di pantai ini. Kisah indah yang semestinya membuatku mengenangnya di hari tua telah gagal kutorehkan. Pantai cermin menjadi saksi yang selalu hidup atas tamatnya petualangan hatiku pada seorang Ulfa.

Dalam perjalanan pulang aku mulai menerawang jauh ke depan. Pikiranku berkecamuk kencang dengan berbagai hal tentang apa yang ada dibenak Ulfa. Kurasa baginya cintaku adalah petaka besar yang sepadan dengan gempa teknonik tinggi dan menimbulkan tsunami dahsyat yang memakan korban dua jutaan jiwa. Tapi bagiku mencintainya adalah kenikmatan yang tak bisa kubayangkan secara visual dan membutuhkan banyak tinta jika kutulisi indahnya. Ulfa pasti mengira-ngira bahwa terlalu mudah bila kucoba membuat pengandaian yang membuatnya tertawa dalam kebahagian karena selalu saja mampu membius jiwa dan ragaku. Ibarat seorang pengembara kini aku berjalan tanpa arah dengan hati tersiksa karena cintaku telah ternistakan. Mungkinkah cinta sejati itu hanya mengorbankan satu pihak saja? Atau ia butuh penguatan dengan kebendaan yang pada akhirnya ikut mengotori nilai-nilai cinta itu sendiri?

 

Aku mencoba menerawang jauh tentang sekelumit kisah indah saat cinta kami mulai tumbuh mekar setengah tahun yang lalu. Banyak hal kulewati berdua dengannya. Walau cinta menjanjikan banyak harapan pada awal terbentuknya. Tak sedikit para pencinta diterbangkan tinggi menikmati sumringahnya sebelum akhirnya terjatuh ke dasar lembah yang bahan bakunya kebosanan dan sakit hati. Aku pernah mencoba menghapuskan semua kisah percintaanku dengan Ulfa dalam ingatanku. Namun, ia telah terlanjur membatu dalam lugunya hatiku dan hingga kini pun wangi-wanginya begitu sulit dilenyapkan karena menyisakan banyak alasan yang telah mengkristalkan jiwa dalam cinta. Semakin sering mereka kian tumbuh berkembang semakin besar. Kata-kata, senyum, tatapan dan cara berjalan Ulfa tak hanya terlintas di depan cermin hatiku, tetapi mereka terpampang dengan jelas di permukaan bumi tempatku berpijak. Hingga suara tangis dan butiran air mata Ulfa pun masih terasa begitu dekat dariku yang akan kuingat kemanapun aku pergi sampai ajalku tiba.

 

Banda Aceh, 05 November 2009

***Cerpen ini telah dimuat di Harian Serambi Indonesia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s