Bernafas untuk Liana


Ilustrasi/GoogleIRINGAN mobil pengantin berjalan pelan memasuki rumah mewah berwarna putih. Sang pemilik hajatan berkumpul bersama kerabat dan para tamu menunggu di pekarangan depan sebelah kanan. Ada tiga tenda besar dengan hiasan khas adat Istana kelihatan begitu mempesona.
Mobil Nisan X-trail yang dinaiki Okan dan orang tuanya berhenti persis disisi kanan pintu gerbang. Beberapa gadis muda mulai mamainkan tarian ranup lampuan sebagai tanda selamat datang. Terkesan klasik namun dibalut nuansa seni moderen eksentrik. Sebuah tarian menarik yang mengingatkanku pada kisah perkawinan kaum bangsawan. Mungkin Koreografer tarian ini sengaja menciptakan nuansa seperti ini untuk membuat suasana pesta perkawinan ini menjadi meriah dan mewah.
Tapi itu tak penting. Bukan ini yang ingin kubicarakan. Aku hanya ingin melihat Liana menikmati pesta perkawinannya bersama Okan yang merupakan pria pilihan orang tuanya. Sungguh sebuah pesta perkawinan yang mengesankan. Ribuan tamu yang datang memberi restu yang tulus sebagai tanda sakralnya prosesi perkawinan. Ribuan pasang mata penuh kekaguman ada di setiap sudut tenda. Namun, ada sepasang mata penuh kesedihan menyaksikan Liana berpesta. Ya, itulah mataku. Aku tak sanggup menatap mereka menikmati hari kebesarannya. Hati dan jiwaku seakan terhujam, terkoyak, dan entah apa lagi. Sulit bagiku menemukan kata yang tepat menggambarkan kondisiku saat itu.
Sudah genap satu bulan usia perkawinan Liana. Tentu saja mereka telah nikmati banyak hal. Tapi, tidak aku yang hanya mencicipi tak sedapnya kekecewaan dan busuknya aroma pengkhianatan. Pada hal, pernah kukatakan bahwa hati ini kupersembahkan utuh padanya. Semua hal telah kulakukan demi masa depan yang pernah kami janjikan berdua. Namun kini semua itu telah larut dalam idealisme tunggal milik Liana. Entah apa yang membuatnya tak lagi peduli pada apa yang pernah diucapkan mulutnya sendiri. Tak mungkin karena harta dia mudah mengkhianati hubungan kami. Tapi karena apa? Mungkinkah kepuasan batin yang tak pernah diperolehnya?
Aku tahu pasti bahwa kepuasan perasaan memerlukan pelumas berkemaskan kesucian. Ia tak mudah terpenuhi dengan hanya sekedar kata-kata. Tak terhitung kata-kata yang sudah dikeluarkan mulut manusia untuk memenangkan perasaan dan mengimbangi rasa kepuasaannya. Untuk apa kita memboroskan kata-kata bila akhirnya menghadirkan bencana bagi perasaan kita sendiri?
Liana adalah sosok perempuan berkulit putih dengan wajah dihiasi sepasang mata indah. Mata terindah yang pernah kulihat. Tingginya hanya 157 cm dan beratnya ideal. Pakaian muslim yang dia kenakan selalu dikombinasikan dengan jilbab sutra yang berwarna hijau tua atau coklat muda. Sekilas dia kelihatan sederhana tapi sebenarnya dia adalah pribadi yang mahal. Terbukti dari perkenalan kami yang membutuhkan waktu panjang. Pada hal aku hanya ingin meyakinkan dia bahwa aku tak punya maksud lebih selain mengenalnya lebih dekat. Meluluhkan hati Liana bagiku adalah prestasi besar walaupun semua itu adalah masa lalu. Dan dia telah melupakan sejarah itu sekarang. Tak ada gunanya bila aku harus terus mengingat semua hal tentangnya.
Dulu dia mengajukanku satu pertanyaan yang kuanggap penting. Saat itu kami ada di pantai cermin berpasir hitam. “Suatu hari, maukah kamu bernafas untukku bila sang kematian mengancam?” Aku menjawab pelan bahwa kapanpun aku akan selalu ada untuknya. Aku berusaha memastikan padanya bahwa apapun pasti kukorbankan deminya, tak terkecuali menggantikan nafasku untuknya bila diperlukan.
Mungkin, hayalan tak seindah kenyataan. Itulah yang kini melanda cinta kami. Ibarat bermain sepakbola, aku telah memainkan peran baikku sebagai penyerang lubang yang berbahaya. Bahkan aku rela berjibaku dengan tinggi besarnya pemain belakang lawan. Namun, upayaku mewujudkan impian hidup bersama Liana gagal terlaksana. Walaupun aku selalu ingin bernafas untuknya. Ya, hanya untuk Liana.

Banda Aceh, 19 Oktober 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s