Tsunami Cinta




( Telah dimuat di Harian Aceh Edisi Minggu, 18 Oktober 2009)

Coretan di dinding itu masih menyisakan beberapa kata yang bisa dibaca oleh siapapun. Kata-kata kekecewaan seorang pria kepada wanita yang sangat dicintainya. Wanita yang selalu dikenalkan pada teman-teman dekatnya. Mungkin dia terlalu istimewa, karena ada satu kalimat yang membuatku meradang membacanya. Kalau aku tidak salah membaca kalimatnya ditulis seperti ini; “aku menyesal berangkat ke kota itu!”

Kabar yang kudapat dari beberapa teman dekatnya, lelaki itu adalah pencinta sejati. Disebut sejati karena ketulusan mencintai kekasihnya. Makna dibalik kalimat itu ternyata dia sempat pergi meninggalkan sang kekasih untuk belajar ke Yogyakarta. Kepergiannya telah dibicarakan jauh-jauh hari dengan wanita itu. Disaat keberangkatannya dia melihat orang yang dicintainya menangis sejadi-jadinya, ingin rasanya dia melompat lewat jendela bus PMTOH itu. Aku mendengar wanita itu begitu setia, wajahnya yang culun, dan lembut hatinya. Kepergian sang pria ke kota gudeg itu memaksanya tiba pada kesimpulan bahwa jarak yang jauh takkan pernah membuat mereka bersatu sebagai kekasih.

Dua hari di kota itu seperti 2 tahun. Malam enggan memberi ruang lebih jauh buatnya. Dia hanya bisa mengingat wajah dan kata-kata terakhir yang pernah diucapkan kekasihnya. Kota ini memang wangi karena semerbak harum bunga-bunga ditaman bertebaran dimana-mana. Namun kewangian mereka tak akan pernah menggantikan wanita itu. Wanita yang telah berjasa memperkenalkan arti wanita dan cinta yang dimauinya.

Dia masih menyimpan surat pertama darinya, Oh ya, nama wanita itu ternyata maya. Kurang tahu lengkapnya maya apa karena itu kurasa gak penting kalo hanya untuk sekedar mengetahui arti coretan-coretan dinding itu. Maya menuliskan banyak hal. Rasa rindu bercampur pesimis. Antara yakin dan pecaya karena jarak yang telah memisahkannya dengan sang pria. Maya sempat memberikan sebuah kaset berisi lagu-lagu india buatnya. Maklum, cinta mereka bersemi setelah masing-masing mereka menonton film India itu. Film yang romantis dan melankolis. Drama percintaan yang dimulai dengan perjuangan panjang sampai akhirnya, si wanita harus diamputasi karena kecelakaan. Ya, kecelakaan cinta.

Malam itu sesampai di kamar, Fery membaringkan diri di kasur. Tak berapa lama Ibu Hartati sang pemilik kost mengetuk pinti kamar lalu menyodorkan sebuah surat padanya. Ia terperangah membaca nama si pengirim surat itu. Tertera begini; Untuk Kakanda Fery Irwanda.

Fery membuka perlahan surat itu dan membacanya.



Fery tersayang,

Matahari seakan berhenti bersinar sore itu ketika kulepas kepergianmu. Hatiku terasa diiris-iris pisau bermata ganda ketika membayangkan beratnya hari-hari tanpa senyummu. Aku tahu dan menyadari sepenuhnya bahwa kepergianmu demi cita-cita dan cinta kita. Engkau harus melakukan itu. Aku mendukung itu sayang. Namun, tahukah engkau apa yang kini kupikirkan? Aku takut tak sanggup menerima kenyataan setelah beberapa bulan ke depan engkau melupakan wajahku, engkau akan melirik kembang-kembang lain yang mungkin jauh lebih indah dariku. Teman-teman banyak yang menyangsikan kesetianmu dan kelanggengan hubungan kita. Aku menjadi gamang. Aku seakan terhempas oleh petaka yang belum terjadi. Mungkin inikah yang disebut kecurigaan beralasan?

Fery, menarik nafasnya dalam-dalam, lalu ia melanjutkan membaca.

Sayangku, aku masih berusaha menepis keraguan itu. Aku tetap ingin janji kita terwujud. Karena aku makin tahu bahwa cintaku terus tumbuh setelah kepergianmu. Tolong jaga kesucian cinta kita.

Dengan penuh cinta,

Maya Ulfa

Surat itu dilipat dan Fery menerawang sambil memandang rembulan yang ditutupi awan. Kamar kost berukuran 3×3 meter yang sederhana itu menjadi saksi bisu atas kenyataan bahwa Fery tak bisa tidur hingga azan subuh di pagi hari. Dia tahu bahwa hidup tak hanya melulu dihabiskan untuk memikirkan seorang wanita. Apalagi statusnya masih mahasiswa yang jauh dari kampung orang tuanya. Seorang mahasiswa adalah mantan siswa yang sudah sewajarnya berteman dengan buku dan menyiasati hal-hal yang berhubungan dengan ilmu yang sedang ditekuni. Penambahan wawasan dengan mempertimbangkan aspek-aspek logika dan ilmiah. Sehingga masa depan akan lebih terarah dan tujuan akhirnya mengubah taraf hidup pribadi dan lingkungannya. Bagi laki-laki, seorang wanita kadang lebih punya peran membentuk karakternya untuk meraih puncak kesuksesan dalam hidup. Sering para lelaki sukses menyebut wanita adalah aktor dibalik kesuksesannya. Fery tahu itu. Dia telah mengerti dengan detil bahwa Maya adalah wanita itu. Maya pemberi semangat baginya dalam merintis masa depan nantinya.

Sebenarnya, hidup dan kehidupan itu begitu mengesankan. Hanya saja kedaan dan kesempatan yang mengubah sejarah banyak orang. Jarak dan waktu selalu bersekutu membentuk siang dan malam. Perputaran bumi tak pernah berhenti oleh sebuah petaka besar sekalipun. Begitu juga proses percintaan manusia. Mata melihat bersama dengan hati yang mulai bicara. Proses kimiawi dan fisika menuntun dua insan membangun jaringan yang saling membahagiakan. Dua insan berjanji untuk selalu bersama. Memenuhi hasrat hati masing-masing.

Begitu seterusnya. Terlalu panjang menceritakan kisah cinta Fery sebagai lelaki pencinta sejati. Banyak kejadian baru yang romantis selama 5 tahun meninggalkan Maya. Aku turut menyesali kehancuran hubungan mereka. Ingin mencegah tapi tak ada kekuatan. Gelombang pasang itu begitu dekat, begitu besar. Coretan di dinding kamar Fery berisi banyak kata. Walau hanya dia yang tahu dan memahami keseluruhan kata itu. Maya yang dulu diharapkan menjadi istrinya hampir punya anak dua. Terlintas dibenakku, kenapa Fery tidak menulis di dinding kamarnya “kutunggu jandamu Maya Ulfa!” Ini akan lucu bagiku dan penghinaan bagi kelelakiannya.

Pengorbanan besar sering berakhir jauh dari harapan. Mereka berdua telah saling mengorbankan banyak hal termasuk harga diri. Walau akhirnya mereka tak mampu bersatu, siapa yang harus disalahkan? Ketika jarak menjadi pembatas dan komunikasi sering tak jelas. Memang, empat bulan pertama berjalan lancar. Namun, delapan bulan kemudian mereka mencoba memperbaiki komunikasi setelah keduanya saling mendua!

Maya marah besar karena selama delapan bulan tak pernah mendapatkan informasi apapun. Fery seakan diam seribu basa. Tak ada yang tahu kenapa. Termasuk Andika sahabat dekat keduanya. Maya sering menceritakan isi hatinya kepada Andika. Maklum, Fery pernah menitipkan pesan terakhir sebelum ke Yogyakarta. “An, jaga Maya ya? Yakinkan dia kalau aku tidak pernah punya rencana mencari Maya baru disana”.

Aku ingin cerita sedikit tentang Andika. Dia sosok pria lugu dan pendiam. Kulitnya putih pucat dan perawakan tubuhnya memang jangkung. Andika belum pernah mengenal wanita.

Mereka banyak cerita tentang hati. Ketidaknyamanan menyendiri. Rasa yang sulit dibendung adalah kebersamaan bersama orang yang dicintai. Andika sedang jatuh cinta. Penyebab inilah yang membuat keduanya kian akrab.

Cinta pertama Andika bukanlah pada Maya. Andika lebih dulu menaruh hati pada temannya Leni. Tak jarang mereka saling menceritakan orang-orang yang mereka cintai. Aku tak tertarik mengetahui kisah cinta Leni dan Andika yang ujung-ujungnya bernasib sama dengan Fery dan Maya. Hanya saja terlalu aneh jika kemudian Maya dan Andika punya perasaan saling ingin membahagiakan. Terlalu membingungkan menelusuri kisah cinta seperti ini. Banyak faktor yang mesti ditelaah lebih jauh dan ada beberapa masalah yang muncul sebagai kendala. Namun sebagai teman akrab dan sahabatnya tentu keinginan mengetahui lebih jauh tentu wajar saja. Ini kewajiban moril seorang sahabat sejati yang harus banyak memberi tanpa ada rasa ingin memiliki pacarnya. Aku tersenyum dalam diam bila membayangkan seandainya aku ada dalam posisi Andika. Peran sebagai teman sejati jelas telah gagal dia mainkan.

Aku sering mengajukan banyak hal kepada Fery tentang kemungkinan yang mungkin memisahkan mereka. Dan dia Cuma selalu mencoba bijaksana dengan teori-teori cinta untuk menyamarkan rasa yang dipendamnya. Setiap lelaki akan begitu jika mengalami kekalahan dalam cinta. Para lelaki lebih merasa mampu dalam menangani perasaan. Semua kisah dilayar lebar dan lembaran Novel menempatkan lelaki sebagai pemeran utama. Para lelaki sering menangis walau dengan cara mereka sendiri. Ini wajar dan bukan berarti mereka kurang perkasa. Menangis dan tersenyum sama-sama menguntungkan dari segi kesehatan. Lelaki-lelaki itu menangis untuk cintanya dan bagi wanita yang paling indah yang mereka cintai.

Percintaan selalu saja menuntut banyak pembuktian. Cinta sejati perlu penguatan, dan inilah yg membedakannya dengan hubungan virtual yang hanya butuh keahlian memainkan kata agar pasangannya menjadi lebih tak berdaya. Cinta virtual adalah cinta buta dimana pelakunya tidak saling mengenal satu sama lain secara detil. Cinta virtual tumbuh subur dimana-mana dengan perantaraan dunia lain. Aku tak ingin menjadi bagian dari para pencinta yang dikategorikan mengidap gangguan jiwa ini. Ah, biarkan saja mereka bercinta dalam dunia virtualnya. Mungkin virtualisasi itu memang dibutuhkan dalam hubungan cinta modern. Akses internet, hubungan telepon dan sejenisnya adalah perlengkapan yang harus dipenuhi. Hanya dengan cara-cara yang demikianlah impian-impian dan harapan terwujud secara cepat seiring rasa dan aroma yang lenyap tanpa bisa dikejar.

Sementara itu dalam sebuah percintaan yang nyata memang sulit mewujudkan impian cinta, jika komitmen penting yang ada didalamnya belum terpenuhi secara sempurna. Fondasi hubungan yang kuat dan rasa percaya diri yang cukup adalah bagian dari komitmen cinta. Dan jika keduanya belum terpenuhi maka salah satu pihak akan mudah menghancurkannya. Inilah yg disebut keputusan sepihak. Penyalahgunaan wewenang tanpa membuat pernyataan apa secara lisan dan tulisan. Tanpa pemberitahuan Andika merampas cinta temanku. Dia begitu kejam melakukannya. Ibarat seorang pelaku pembunuhan yang memiliki darah begitu dingin. Andika memang pandai memainkan minyak di dalam air sambil menunggu giliran. Teganya dia menggunting lipatan-lipatan itu dan membunuh hubungan cinta orang lain. Dan aku masih ingat kalimat terakhir Fery , “Maya telah mati bersama ratusan ribu korban tsunami itu, dan aku tahu sebenarnya ini tidak baik. Cinta kan tidak pernah mengingat-ingat kesalahan”. Hatiku akan ikut gembira jika kalimat itu bukanlah sekedar kata-kata. Sampai kapan teori cinta itu dipertahankan?

Aku sendiri tak mau ambil pusing dengan cinta beginian. Maya atau kelihatankah di mata tidak menjadi masalah. Yang penting saat melamar menjadi pekerja cinta kita harus benar-benar menjadi pencinta yang sebenarnya. Aku menyesali teori cinta Fery. Rasa menyesalku sama besarnya dengan penyesalannya berangkat ke Yogyakarta. Ini memang masa lalu. Setiap orang punya lembaran kisah yang berbeda. Masa lalu selalu saja menyisakan kepahitan. Kalaupun ada yang mengatakan masa lalu itu indah pastilah cintanya tak berlanjut pada orang yang sama. Karena mungkin mereka terpisah oleh bencana atau kecelakaan.

“Aku masih menyimpan surat terakhir dia, baca saja kalau kamu tertarik”, kata Fery suatu hari saat kami ada di kamarnya. Surat itu bersampul biru muda dengan tulisan tangan yang indah. Namun aku tak tahu pasti apakah seindah Maya atau tidak. Mungkin kecantikan seorang wanita bagi Fery berbeda dengan penikmat cinta lainnya. Pernah, menurutnya wanita cantik itu tidak harus dilihat hanya pada warna kulit dan bentuk tubuh. Tapi juga masih ada hal-hal lain seperti mata, mulut, gigi dan hidung. Mungkin juga kemerduan dan kelembutan suaranya. Cara dia memandang mungkin juga indah. Dan gerak mulutnya serta cara dia melangkah. Semua itu juga kecantikan dan keindahan. Isi surat terakhir dari seorang wanita terhebat yang aku sempat mencuri membacanya di kamar;

Fery tercinta,

Dalam seminggu terakhir ini suasana kampus kita terlalu riuh.
Mereka meributkan kedekatanku dengan Andika. Pada hal kamu tahu kan dia temanmu? Tolong jangan percaya kalau ada surat lain mengabarimu berita bohong ya sayang?

Bulan Maret nanti kami akan turun ke desa-desa sebagai bagian dari tugas praktek lapangan. Aku sekelompok dengan Wina, Ozi, Darma, Dian, dan Andika. Tolong jangan marah ya sayang. Lagi pula dia kan temanmu. Tugas lapangan ini akan semakin jika kamu ada disini bersamaku. Kamu tahu banyak hal mengenai bagaimana berhubungan dengan masyarakat.Pendekatan yang kamu lakukan akan sangat membantu kita semua. Tapi sayang, Aku tak mau terlalu berandai-andai. Toh kita telah jauh terpisah. Hanya kepercayaan yang membuat kita bertahan sampai sekarang. Doain Maya ya?

Wassalam,

Maya Ulfa

Waktu tak pernah kembali dan mereka berdua menyadari itu. Apa yang telah mereka alami dan lalui begitu unik,begitu nyata. Hubungan jarak jauh yang memberikan tantangan, menghadirkan cobaan dan mengorbankan banyak hal. Pengalaman pahit dan perih tak terlukiskan menimpa keduanya.

Keindahan tinggallah keindahan. Mimpi dan harapan pun ikut lenyap ditelan bumi. Yang ada hanyalah kenangan dan kenangan. Sampai kapan kenangan itu harus diingat? Apakah perlu ada tempat khusus menyimpannya dilemari kaca? Ataukah mereka layak diabadikan pada tembok-tembok setiap kamar para pencinta? Kenangan itu bagian dari keterpurukan seseorang. Dan ia berkumpul membentuk pengalaman. Kejelekan, kebobrokan, kegagalan, dan kekonyolan merupakan kerangka pengalaman. Hidup kita selalu harus melewati berbagai pengalaman. Tak ada kesuksesan tanpa ketololan. Dan bahkan kenikmatan apapun yang telah kita rasakan biasanya dilewatkan dengan beberapa langkah konyol. Memang, menikmati keindahan itu tidaklah mudah. Banyak jalan terjal yang harus dilalui.

Para pencinta sejati selalu siap dengan berbagai tantangan. Sekalipun harus berhadapan dengan sang kematian. Tapi apa gunanya berkorban jika hubungan itu telah dikotori dan dikhianati? Gembok cinta itu telah dibuka paksa salah satu pemiliknya karena ketidakpastian. Ini asumsi yang salah. Andaikan Maya lebih mengerti dan sedikit bersabar tentu kisah mereka akan indah.

Waktupun kadang bersekutu dengan kebohongan. Menuntun kebingungan menuju ruang penistaan. Kegelapan dan penderitaan bersatu membentuk kehancuran yang kekal dan memilukan.

“Analisisku tentang cinta nggak mungkin salah Wan, ini pasti ada sabotase!” ujar Fery sambil menghembuskan asap-asap kekecewaan dimulutnya.

Lalu Fery melanjutkan lagi.

“Aku nggak nyangka Wan, hari keberangkatanku ke Yogya adalah hari terakhir aku melihatnya. Andaikan kusadari hari itu adalah hari tsunami bagi cinta kami, aku takkan pergi kemana-mana, aku akan terus bersamanya walau ombak besar itu menghapus nama kami dari daftar penghuni bumi ini”.

Fery menerawang jauh kebelakang. Mengingat masa lalu kadang perlu. Ia adalah refleksi masa depan.

Banyak pendapat mengenai masa lalu. Kebanyakannya lebih berusaha menutupi keterpurukan yang pernah dialami. Buat apa menyembunyikan kenyataan itu? Bukankah mereka itu penting diingat untuk membuat sejarah hidup di masa depan? Memang, terpaku dan larut dalam keterpurukan masa lalu itu sungguh tidak baik. Tetapi kisah yang telah tercipta dalam benak dan asa setiap orang takkan pernah berakhir. Lalu untuk apa menyesali masa lalu yang pernah terjadi dalam hidup kita? Bukankah kita sendiri penyebab terjadi hal-hal yang telah berlalu itu?

“Tak ada kata menyesal dalam kamusku Wan, aku tetap menjadikan semua ini sejarah dalam dinastiku. Aku tidak mau menyesalinya. Buat apa? Bukankah ini kulakukan sendiri?”.

Begitu yang kudengar dari Fery. Baginya, tak ada penyesalan, dan tak ada cinta yang lain.

Rumah Fery tak begitu luas tapi penataannya menyerupai ruangan dalam film-film jepang. Rumah yang unik seunik pemiliknya.Terasa aneh saat melihat ada tulisan terbingkai pada pintu kamarnya. Kubaca tulisan itu dalam hati.

“Aku tahu bahwa benih sebagai bakal cinta ada dimana-mana. Ia ada di stasiun kereta, terminal, sekolah, kampus, dan bahkan dalam ruangan perkantoran. Tapi apa gunanya semua itu bila tidak melebihi cinta yang pernah kudapat? Kebanyakan cinta itu menawarkan ruangan hampa yang butuh banyak perabotan sebagai hiasan.”

Aku hanya bisa tersenyum mengetahui dalamnya rasa yang dia sisakan buat wanita itu. Bagiku ini terlalu berlebihan. Membingkai kata-kata dan memposisikannya pada pintu kamar. Apakah dia tak merasa malu bila setiap orang yang datang dan melewati kamarnya selalu membaca kata-kata itu? Sebenarnya riskan mengedepankan emosi berlebihan dalam membina hubungan cinta. Wanita sering jadi objekan kala keinginan menyeruak. Angin cinta berhembus perlahan mengelus mimpi-mimpi yang pernah muncul dalam tidur malam berteman hampa. Riak gelompang rindu menderu-deru dan mendesis kelam. Sekelam kenangan-kenangan itu.

Lamteumen, 10 Oktober 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s