Prediksi Bola: Irak vs Indonesia


Image

Irak adalah salah satu tim kuat di Asia. Melawan tim nasional Indonesia di Al Rashid Stadium, Dubai, Uni Emirat Arab, pada Rabu (6/2) sore waktu setempat rasanya bukan masalah besar buat anak asuh Zico tersebut.

Anda ingin tahu skor akhir pertandingan ini? 5-1 untuk kemenangan Irak! Berlebihan? Tidak! Tim Indonesia sedang punya masalah besar secara tehnik dan manajemen. Musuh besar kesebelasan merah putih adalah diri mereka sendiri. Ini bukan bermaksud merendahkan kualitas timnas negara kita sendiri, tetapi Anda pun mengerti mengapa prediksi saya begitu besar untuk kekalahan timnas Indonsia, bukan?

Selamat menyaksikan!

By Arbi Sabi Syah Posted in Fiksi

Sudah Siapkah Kita Menghadapi Bencana? (Refleksi Sewindu Bencana Gempa & Tsunami Aceh)


 

Kesiapsiagaan menghadapi bencana adalah kalimat kunci yang harus dipahami oleh semua orang di Negara kita. Memahami sepenuhnya bahwa letak geografis wilayah kita berada pada jalur yang rawan terjadinya bencana. Sehingga, Pemerintah kita perlu menyusus sebuah strategi menghadapi bencana. Mempersiapkan masyarakat Indonesia mampu hidup berdampingan dengan bencana. Hal ini memang tidak semuadah membalikkan telapak tangan dan butuh waktu yang lama.

Tulisan ini lahir dari pemikiran penulis tentang bencana yang sering melanda sebagian besar wilayah Indonesia. Juga, penulis ingin merefleksi sejenak akan bencana besar yang pernah terjadi di wilayah Aceh khususnya; 8 (delapan) tahun silam!

Sebenarnya, musibah gempa bumi yang kuat sebesar 8,9 Skala Richter  yang disusul naiknya gelombang tinggi (baca;tsunami) memang tak dapat dicegah. Ini sama halnya dengan letusan gunung berapi, dan tentu saja berbeda dengan musibah banjir dan tanah longsor. Dari penyebab dab proses terjadinya saja sudah berbeda. Banjir terjadi karena pepohonan di tebang sesuka hati mafia kayu. Dan tanah longsor pun demikian. Ia melanda wilayah kita disebabkan oleh hal yang serupa; penebangan pohon-pohon di hutan tanpa memikirkan akibatnya adalah penyebab utamanya. Dua jenis bencana terakhir yang penulis sebutkan bisa dicegah terjadinya. Tentu saja, oknum masyarakat dan pemerintah perlu didewasakan akan akibat yang ditimbulkan oleh ulah mereka tersebut.

Lain halnya dengan bencana gempa bumi dan tsunami. Siapa yang mampu mencegah terjadinya? Adakah kekuatan yang bisa menghentikan pergerakan lempeng kerak bumi? Dan bila tsunami terjadi akibat gempa yang sangat kuat pastilah tak ada penahan ombak yang sanggup menahan ganas air laut. Disini peran kesiapsiagaan menghadapi gempa bumi yang berpotensi tsunami harus digalakkan.

Pemerintah Indonesia perlu meningkatkan lagi program Pengurangan Risiko Bencana (PRB) yang telah digalakkan selama ini. Keseriusan para pengambil kebijakan adalah hal yang mutlak dalam mempersiapkan masyarakat Indonesia yang siap hadapi bencana apapun yang datang tiba-tiba. Para pelajar harus diberi porsi mempelajari program tersebut. Pelajar yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) sekalipun harus diajarkan dasar-dasar menghadapi bencana yang akan bakal terjadi. Disini, semua Sekolah Dasar yang ada di Indonesia harus dijadikan Sekola  Siaga Bencana (SSB). Setidaknya bagi wilayah yang termasuk rawan bencana seperti Aceh, Yogyakarta, Jakarta, Bengkulu, dan beberapa wilayah lainnya di negera kita lebih diprioritaskan untuk dijalankan Program Pengurangan Risiko Bencana (PRB) tersebut.

Kesadaran masyarakat akan resiko bencana akan meningkat dengan sendirinya bila Pemerintah sendir terlebih dahulu sadar akan bahaya tersebut. Pemerintah harus punya kemauan politik yang kuat, tepat, dan tulus dalam mempersiapkan masyarakat Indonesia akrab dengan bencana. Kucuran dana yang memadai saja tidak akan cukup bagi program ini. Bahkan, Pemerintah kita masih menganggap masalah persiapan menghadapi bencana adalah bagian terkecil dari program membangun negara itu sendiri. Pemerintah harus serius akan masalah ini. Pembangunan apapun yang akan dijalankan harus mengikutkan program PRB.

Disinilah peran Badan Nasional Penanggulangan Bencana  (BNPB) Pusat meningkatkan koordinasinya dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Pemerintah yang baik pasti berkeinginan kuat mendidik rakyatnya mengerti akan resiko besar bila bencana datang tiba-tiba.

Musibah gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Aceh adalah pelajaran berharga bagi kita semua. Banyak hal yang telah dan masih dapat dipelajari sebagai hikmah dari bencana besar tersebut. Meskipun, kita tak pernah ingin bencana kolosal yang merenggut hampir setengah juta penduduk Aceh itu kembali terulang. Cukup masyarakat Aceh saja yang telah rasakan ganasnya musibah tersebut. Semoga Pemerintah kita paham benar akan ancaman bencana yang terus melanda bangsa kita tercinta ini. Demi masa depan generasi kita yang sehat, bermartabat, dan hidup layak rasanya Pemerintah kita tak akan keberatan, bukan?

Akhirnya kita semua mengharapkan demikian. Kita berharap pada Pemerintah kita lewat para pemimpin yang telah kita percaya menjadi imam bagi bangsa kita tercinta. Semoga kita siap, ya?

Akulah Malammu


Kuingin menjadi malam untukmu. Setiap malam bersamamu. Menjadi selimut bagi semua yang kau miliki. Kuingin penuhi keinginanmu. Apapun!

Kuingat dirimu setiap saat. Tak sedetik pun ingin kulewatkan tanpa tidak mengingatmu. Aku ingin kau tersenyum indah. Selalu tersenyum lepas karena aku kan ada untukmu, hanya untukmu; bukan yang lain!

Tak perlu kau minta pembuktian yang terlalu besar. Bukankah perhatianku untukmu kapan pun yang kau butuhkan selalu ada? Diriku ingin jadi malam untukmu. Biarkan bulan dan bintang dengan segala pesonanya walau tak seterang mentari di pagi hari, tapi itulah aku! Ada dan pasti datang untukmu.

Aku adalah malam yang tetap sama menemanimu. Kepedihanmu akan kuhapus dan tak menyisakan sedikitpun nodanya. Cinta yang kau berikan akan selalu ada, kusimpan dan kuawetkan. Tak perlu khawatirkan ia akan pergi. Tak akan, dan tak pernah hilang sedikitpun rasaku padamu.

Hatimu ingin kusejukkan. Kuingin buat dirimu senang karena telah kuhibur dengan kehadiranku setiap saat. Dirimu adalah kebahagian bagiku. Kesepian pun kan datang tanpamu.

Begitulah diriku, bagaimana dirimu?

Perasaan Cinta adalah Keindahan


RASA cinta  yang tumbuh pada dua hati  itu sesungguhnyalah sebuah  keindahan yang nyata dalam kehidupan. Keindahan karena dua hati telah bertautan. Mereka bersatu dalam sebuah keinginan; selalu ingin berdua, kemana pun ada dia, dalam siatuasi apapun maunya dia ada di sisi, bahkan kadang kala berpikir bahwa hidup ini terasa hampa bila tak ada kabar darinya dalam sehari. Hati kian terpuaskan karena proses tersebut. Hal ini semakin membuktikan bahwa perasaan cinta adalah keindahan. Ia realita dalam kehiadupan. Apa yang terjadi dalam proses cinta adalah anugerah terbesaNya. Kita harus bersyukur diberikan perasaan seperti itu oleh Tuhan.

Seseorang yang sedang jatuh cinta dan ada di dalam sebuah keadaan mencintai dan dicintai pasti menikmati saat-saat indah yang terjadi setiap saat. Melewati proses demi proses tersebut berdua hingga semakin tersadar akan cinta yang dimiliki semakin kuat. Jika kita mau berpikir positif dengan keadaan masing-masing tentu saja perasaan cinta yang kita miliki akan demikian; selalu kuat dan kian merekat!

Bukankah hati kita akan terpuaskan bila keinginan positif segera terwujud dalam hidup kita? Dua insan yang sudah benar-benar memilki rasa cinta akan memiliki harapan untuk terus bersama dalam keadaan apapun. Ini sebuah fondasi kuat menuju mahligai berikutnya; rumah tangga.

Manusia yang memiliki keinginan positif untuk membina hubungan rumah tangga adalah manusia yang normal. Manusia yang baik memang memiliki niat positif dalam menjalin hubungan cinta. Pertanyaannya adalah mengapa banyak hubungan cinta yang gagal?

Ada hubungan yang terbina selama bertahun-tahun tapi putus di tengah jalan. Pada hal keduanya sudah punya keinginan kuat untuk hidup berumah tangga. Pertanyaan ini tak perlu dijawab dengan berbagai pendapat. Tanyakan pada diri sendiri apakah saya benar-benar mencintainya atau tidak? Bila jawabannya tidak, maka jelaslah bahwa kita belum menumbuhkan rasa cinta yang sebenarnya pada pasangan kita. Godaan selalu datang hanya pada mereka yang hatinya bercabang. Membagi hati pada orang lain bukanlah sikap yang sebenarnya dari manusia normal, kan?

Cinta yang telah ada haruslah dibina dengan sebaik-baiknya. Perasaan cinta yang telah ada itu butuh rawatan yang serius. Jangan main-main bila sudah menanamkan benih cinta. Bila ia dibiarkan tumbuh dengan sendirinya; tanpa rawatan, niscaya keindahan akan datang di masa depan. Hati yang berbunga-bunga tak boleh dibiarkan hanya sesaat. Cinta yang sudah ada pada pasangan harus ditumbuhkan kian subur. Hidup akan lebih indah dengan adanya rasa cinta. Rasa kesepian yang pernah kita rasakan akan segera berganti keceriaan bila cinta disadari telah ada dalam jiwa kita masing-masing.

Salam penuh cinta dari Aceh.

Kata Membuat Sesat


Sesat adalah kata. Dan kata-kata yang kita ucapkan sehari-hari sering membuat kita tersesat dalam dunia yang tidak seharusnya kita berada. Kita, adalah sekumpulan makhluk bernama manusia yang diciptakan Tuhan untuk saling hidup berdampingan; dalam keadaan apapun! Untuk apa harus sesat ketika kita ada dalam dunia seindah sekarang? Dunia yang memberikan kita banyak hal dan cukup alat untuk berbuat hal-hal yang benar-benar bisa diterima banyak orang?

Sesat adalah akibat dari perkataan. Dan perkataan yang salah terhadap sesuatu hal yang sakral akan membawa kita pada jurang kehancuran. Kita akan dikucilkan teman, masyarakat sekitar, dan bahkan keluarga kita sendiri. Untuk apa harus sesat jika kita ingin selalu bersama orang-orang yang kita cintai di dunia ini?

Sesat karena kata-kata yang tak pantas kita keluarkan akan membawa kita pada perilaku menyimpang. Kita harus selalu mampu menempatkan diri dalam kehidupan bermasyarakat. Menyesuaikan diri dengan keadaan dengan berpijak pada ajaran keyakinan masing-masing. Tak perlu mengeluarkan banyak kata jika kita belum mampu berikan alasan yang kuat karena alasan kebenaran. Bukankah pendapat yang mengatakan bahwa mulutmu adalah harimaumu itu sudah sering kita dengar?

Sesat memang hanya kata. Tetapi, bila kita tak pernah berpikir lebih dulu sebelum mengeluarkan kata-kata, niscaya kita akan ada dalam lembah kesesatan yang nyata.

Dan kepada kita sesama manusia yang mendengarkan kata-kata yang mungkin bertentangan dengan pengetahuan kita selama ini, sebaiknya ditanyakan kembali kepada yang bersangkutan. Tak baik menganggap teman kita telah sesat, pada hal kita yang belum memiliki pengetahuan yang baik tentang apa yang dibicarakan bersama. Menuduh orang lain ada dalam kesesatan karena piciknya pengetahuan kita tentang sesuatu juga merupakan perilaku yang sesat, bukan?!?

Sekarang, masing-masing kita harus membersihkan hati dari berbagai noda hitam yang diakibatkan syeitan. Godaan syeitan sangat kuat pada orang-orang yang awalnya sangat baik hati. Mengapa? Karena syeitan tercipta untuk menggoda orang-orang yang baik hati. Dalam keadaan apapun syeitan selalu ada untuk hancurkan kita semua. So? hati-hati menjaga hati dan berpikirlah sebelum mengeluarkan kata-kata agar kita semua jauh dari kesesatan yang nyata.

Pentingnya Peran Wanita dalam Kehidupan Seorang Pria


Saya ingin bicara banyak tentang sosok sebenarnya dari wanita. Semua wanita yang ada di dunia ini memang luar biasa. Dan saya tak akan mampu bicara terlalu jauh. Bukan apa-apa, tapi memang seorang wanita punya banyak hal positif yang selama ini jarang diungkapkan oleh seorang pria. Kita sering terpaku pada bentuk fisik dan perawakan wanita. Pada hal, sisi hebat dari seorang wanita jarang menjadi bahan pembicaraan kaum pria.

Saya ingin katakan bahwa setiap wanita adalah kemewahan dan keindahan. Seorang wanita mampu menjadi pendorong dan berfungsi sebagai katalisator bagi pria dalam berkreativitas meraih impian di masa depan. Khusus bagi saya, wanita adalah sosok makhluk ciptaan yang Tuhan sebagai simbol penciptaan terbesarNya. Tetapi, saya ingin mempertegas disini bahwa kelebihan-kelebihan yang dimiliki wanita tersebut membuat saya sadar bahwa saya sangat butuh kehadiran seorang wanita. Saya tak bisa hidup sendirian tanpanya. Saya punya alasan kuat mencintai wanita karena kebutuhan. Ya, kebutuhan akan kemewahan dan keindahan yang dimiliki hanya oleh waniya. Juga, saya butuh dorongan sebagai katalisator dalam mengarungi bahtera kehidupan. Saya yakin bahwa semua pria yang ada di dunia ini takkan pernah mampu arungi kehidupan sendirian tanpa peran penting dari seorang wanita. Bukankah selalu ada seorang wanita dibalik kesuksesan seorang pria?!?

Kemewahan seorang wanita bukan ditentukan oleh bagaimana bentuk fisiknya. Tetapi, ini lebih dikarenakan seorang wanita memiliki banyak hal yang tidak mampu dibeli seorang pria. Pria tak bisa memaksakan senyuman tulus seorang wanita begitu saja tanpa lebih dulu memberikan senyuman tulus juga. Wanita tak bisa dipaksa untuk melakukan hal-hal yang berhungan dengan hati, seperti meminta mencintai seorang pria yang belum dikenalnya dengan baik. Wanita mewah karena punya senyuman tulus yang hanya bisa dirasakan oleh pria yang tulus. Dan seorang wanita layak diapreasiasikan karena cinta tulusnya tak mudah diberikan kepada sembarang pria.

Saya rasa semua pria harus jujur bahwa seorang wanita manapun yang ada di dunia bisa menjadi motivasi bagi perjalanan karir seorang pria. Seorang pria yang benar-benar baik dan memiliki hati yang bersih pastilah mengakui hal tersebut. Bagaimana dengan Anda? Setujukah dengan pendapat saya?

***Salam dari Aceh. :)

Aurat Politik Aceh

Reblogged from risman a rachman:

Click to visit the original post

Politik, sejatinya adalah keterbukaan, bahkan "ketelanjangan."

Tidak ada yang tersembunyi, apalagi sengaja disembunyikan.

Jika saja politik itu manusia, maka politik adalah "makhluk paling seksi," mengalahkan keseksian manusia.

Begitu seksinya, pikiran dan tindakan politik, senantiasa terdedah, dan siapapun bisa merasakan, kehadirannya.

Bahkan, niat politik pun bisa diendus sebelum kemunculannya. Semua itu karena memang politik tidak memiliki aurat. Jika pun ada maka aurat politik tidak berjenis kelamin.

Read more… 382 more words

By Arbi Sabi Syah Posted in Fiksi

Aceh Masih Butuh Program Pengurangan Resiko Bencana (PRB)


Tekad Pemerintah Aceh yang baru dalam menyikapi isu bencana di propinsi paling ujung pulau Sumatera ini layak diapreasikan. Hal ini terlihat dari keseriusan dr. Zaini Abdullah selaku Kepala Pemerintah Aceh ketika berdelegasi ke Kantor Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan menyampaikan rencanya kepada Kepala BNPB Bapak Syamsul Ma’arif. Kini masyarakat Aceh tahu rencana bijak pemimpin mereka sebagaimana dirilis oleh Harian Serambi Indonesia pada edisi 02 Agustus 2012 yang lalu. Doto Zaini, begitu nama populer mantan petinggi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) itu disebut, memberikan pernyataan menarik bahwa Aceh adalah salah satu kawasan yang berada dalam wilayah bencana. “Karena itu resiko bencana telah menjadi kebijakan pembangunan Aceh.” Begitulah kata-kata beliau sebagai rencana bagi masyarakat yang hidup di bumi serambi mekah ini.

Terlepas dari uraian di atas, kami melihat bahwa pendapat Doto Zaini itu layak didukung dan didorong agar terlaksana secepatnya. Aceh sedang mengalami sebuah era yang sungguh memperihatinkan. Tingkat kerusakan lingkungan yang tinggi dengan hutannya yang telah mengalami degradasi begitu besar. Luas area hutan Aceh telah digerogoti kelompok orang-orang yang tak bertanggung jawab. Hutan yang seyogyanya adalah warisan masa depan bagi generasi Aceh yang harus diselematkan oleh Pemerintah Aceh, bukan malah didukung untuk dimusnahkan!

Bila Pemerintah Aceh sekarang terlambat bergerak mengantisipasi kerusakan lingkungan itu, maka bencana ekologi akan menyerang Aceh habis-habisan. Sekarang, kita dikepung dari berbagai penjuru oleh bakal bencana yang terjadi karena ulah kita sendiri. Belum lagi bila kita bicara masalah Gempa Bumi yang begitu akrab dengan daerah kita. Sungguh sebuah petaka besar yang tak terbayangkan akibatnya akan terjadi bila sistem Pemerintah Aceh yang baru itu jelek dan tidak berfungsi maksimal.

Jika ditelusuri lebih jauh pada kondisi alam Aceh sekarang, kami rasa tulisan ini bukanlah sekedar menakut-nakuti masyarakat Aceh. Tapi, lihatlah dengan mata terbuka dan tuluslah member penilaian. Apa yang didapatkan Aceh setelah 2 (dua) program Pemerintah Aceh yang dulu yakni Moraritorium Logging dan Aceh Green diimplementasikan? Adakah pelajaran positif dari kedua mega program yang terkesan “mercu suar” tersebut? Buktinya, kita masih bicara belum adanya langkah strategis dari Pemerintah Aceh terkait kesiapan menghadapi bencana.

Pengurangan Risiko Bencana adalah Tanggung Jawab Pemerintah

Pemerintah Aceh perlu diberi penyadaran bahwa penanggulangan resiko bencana itu menjadi bagian penting untuk membangun Aceh ke depan. Hal itu adalah sebuah bentuk komitmen dari Pemerintah Aceh terhadap Resolusi PBB No.63/1999 yang ditindaklanjuti dengan “Hyogo Framework for Action dan Beijing Action”.

Paradigma Pemerintah harus diubah dalam proses penanganan bencana Alam yang terjadi ke depan. Kita tidak ingin Pemerintah Aceh masih mengedepankan pola responsive belaka dalam menangani bencana yang masih berpotensi mengancam kelangsungan hidup masyarakat Aceh. Kita ingin mendorong lebih jauh agar Para pengambil kebijakan di Aceh menempatkan isu pengurangan resiko bencana menjadi suatu kegiatan yang bersifat preventif, sehingga bencana alam itu selain mungkin dapat dicegah atau diminimalkan (mitigasi), juga risikonya dapat dikurangi atau malah ditiadakan sama sekali.

Pemerintah Aceh harus segera menyusun dan menerapkan sebuah Rencana Aksi Daerah dari tingkat provinsi hingga ke tingkat kabupaten/kota. Langkah ini menjadi darurat karena dampak dari setiap bencana yang terjadi begitu besar. Materi dan korban jiwa yang begitu banyak akan kita hadapi sebagai bentuk resiko dari bencana itu sendiri. Kita tak boleh mengulang kesalahan yang sama dalam manangani bencana yang terjadi di Aceh. Ketimbang menghabiskan banyak uang untuk hal-hal yang tidak begitu penting, rasanya anggaran untuk pengurangan resiko bencana di Aceh pun perlu diperbesar. Perlengkapan atau stok barang untuk hadapi bencana perlu menjadi perhatian besar Pemerintah Aceh ke depan.

Aceh sudah begitu dimanjakan oleh banyak bantuan luar yang ujung-ujungnya tak dapat kita manfaatkan dengan baik. Kita juga tak ingin disebut sebagai propinsi yang gagal tangani bencana. Pada hal, begitu banyak uang dihabiskan di Aceh paska terjadinya Gempa Bumi pada Desember 2004 yang disusul oleh naiknya air laut yang maha dahsyat kekuatannya. Dan Aceh pun punya sejarah baru dalam memperkaya kaidah bahasa di Negeri ini yaitu sumbangan untuk kata “Tsunami”. Apakah cukup dengan satu kata itu?

Kita harus buktikan pada dunia luar bahwa tidak ada sia-sia bantuan yang mereka berikan untuk Aceh. Berbagai penghargaan kita raih terkait penanganan resiko bencana. Pertanyaannya, apakah ini sebuah kesempurnaan bagi Aceh yang selalu siap berteman dengan bencana?

Pentingnya Integrasi Pengurangan Resiko Bencana (PRB) dalam Kegiatan Pembangunan

Kondisi geografis wilayah kita yang terletak di antara lempeng tektonis Euro- Asia dan Australia-India dan adanya pihak-pihak atau kelompok orang yang mencari keuntungan besar dari penebangan hutan dengan cara-cara yang kejam menempatkan daerah Aceh sebagai salah satu daerah rawan bencana di Indonesia. Pemerintah Aceh masih memeiliki kewajiban mendidik masyarakatnya agar paham terhadap resiko bencana yang kini mengancam lingkungan tempat tinggalnya. Masyarakat harus diajarkan bagaimana menghadapi bencana alam yang terjadi seperti gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor, puting beliung, dan sebagainya.

Kita patut tidak melupakan bahwa bencana alam adalah konsekuensi dari kombinasi aktivitas alami dari semua proses bencana alam yang terjadi dan juga oleh ulah tangan nakal saudara-saudara kita sendiri. Pemerintah yang bijak akan selalu mengerti apa yang terbaik untuk masyarakat yang dipimpinnya. Membangun jalur evakuasi dan memastikan adanya tempat-tempat penampungan untuk pengungsi adalah bagian dari memberdayakan masyarakat tentang isu bencana.

 

Oleh karena itu, sebuah manajemen keadaan darurat haruslah dibangun oleh Pemerintah Aceh yang baru untuk meminimalisir efek bencana berupa kerugian dalam bidang keuangan dan struktural, bahkan sampai memakan korban jiwa yang banyak dari kalangan masyarakat Aceh. Bukankah pencegahan itu lebih baik dari pada mengobati?

Pengalaman penulis mengikuti banyak workshop seputar isu pengurangan resiko bencana baik di dalam dan luar Aceh memberi kesan bahwa Aceh belum memiliki kesiapan menghadapi bencana besar di masa yang akan datang. Aceh masih belum memiliki satu langkah strategis yang akan diterapkan bila bencana besar tiba-tiba saja terjadi di Aceh. Hal ini semakin diperparah bila Pemerintah Aceh yang baru tidak memiliki kesadaran dan kepekaan tinggi terhadap resiko dari banyak bencana yang akan melanda Aceh.

Pemerintah Aceh harus segera melakukan rapat kordinasi besar dengan semua perangkat kerja daerah terkait ketidaksiapan Aceh hadapi bencana di masa yang akan datang. Langkah mengintegrasikan pengurangan resiko bencana (PRB) dalam setiap kegiatan pembangunan wajib disusun konsepnya untuk segera diimplementasikan. Ini akan menjadi bentuk realisasi dari apa yang diperbincangkan dr. Zaini Abdullah dalam pertemuannya dengan kepala BNPB di Jakarta pada awal Agustus yang lalu.

Dampak pembangunan yang tidak ramah lingkungan akan mengakibatkan bencana alam. Contoh kecilnya adalah bila saluran air di kota Banda Aceh tidak berfungsi dengan baik, apa yang akan terjadi? Pasti, banjir akan datang menghampiri masyarakat yang bermukim di Ibukota Propinsi Aceh tersebut bila hujan dengan intensitas tinggi turun dalam hitungan hari saja. Dan bila Pemerintah Aceh paham akibat yang ditimbulkan oleh pembangunan yang tidak mengikuti kaidah pengurangan resiko bencana, maka Aceh telah alami sebuah proses dengan nama “Aceh akan naik kelas.” Allaahu a’lam bis-shawaab.